Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengacara hak asasi manusia (HAM) Nasrin Sotoudeh. ( Foto: GETTY IMAGES /AFP/ B. MEHRI )

Pengacara hak asasi manusia (HAM) Nasrin Sotoudeh. ( Foto: GETTY IMAGES /AFP/ B. MEHRI )

PBB Desak Iran Bebaskan Tahanan Politik

Rabu, 7 Oktober 2020 | 07:09 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

JENEWA, investor.id – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (6/10) meminta Pemerintah Iran untuk segera membebaskan pengacara hak asasi manusia (HAM) Nasrin Sotoudeh dan narapidana politik lainnya. Mereka dikecualikan dari desakan untuk mengosongkan penjara di tengah pandemi.

Kepala Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet mengungkapkan keprihatinan yang mendalam atas situasi hak asasi yang memburuk terhadap para aktivis, pengacara, dan tahanan politik yang dikurung di Iran, khususnya di tengah krisis virus corona.

Sistem pembebasan sementara untuk mengurangi populasi di penjara yang sangat penuh sesak, diperkenalkan oleh Pemerintah Iran pada Februari lalu untuk mengekang penularan virus. Sistem tersebut telah menguntungkan sekitar 120.000 narapidana, meskipun ada juga yang diharuskan untuk kembali menjalankan masa tahanan, menurut perwakilan lembaga internasional tersebut.

Tetapi orang-orang yang dijatuhi hukuman lebih dari lima tahun di balik jeruji besi karena pelanggaran keamanan nasional dikecualikan, data PBB menunjukkan.

Hukuman semacam itu sering dijatuhkan kepada orang-orang yang ditahan secara sewenang-wenang. Termasuk pembela HAM, pengacara, warga negara ganda, warga negara asing, konservasionis, dan lainnya. Kebebasan mereka dirampas karena mengekspresikan pandangan atau menerapkan hak selain yang diakui pemerintah negara tersebut.

Bachelet menyuarakan kemarahan dalam sebuah pernyataan, menyebutkan para narapidana semacam itu lebih berisiko tertular Covid-19 di Iran, negara yang paling terdampak pandemi di kawasan tersebut.

"Orang-orang yang ditahan semata-mata karena pandangan politik mereka atau bentuk aktivisme lain yang mendukung HAM tidak boleh dipenjara sama sekali. Dan narapidana seperti itu tentu saja tidak boleh diperlakukan lebih kasar atau ditempatkan dengan risiko lebih besar," katanya, Selasa (6/10), seperti dikutip dari AFP.

Diskriminatif

"Saya terganggu melihat bagaimana langkah-langkah yang dirancang untuk mengurangi penyebaran Covid-19 diterapkan dengan diskriminasi terhadap kelompok narapidana tertentu," Bachelet menambahkan.

Dilemahkan oleh mogok makan yang berkepanjangan, Sotoudeh (57 tahun) telah menjalani hukuman lebih dari 30 tahun di penjara jika masa tahanannya digabungkan. Dakwaannya terkait dengan pekerjaan HAM, termasuk 12 tahun masa tahanan karena membela perempuan yang ditangkap karena memrotes hukum wajib jilbab.

Sotoudeh ditahan di penjara Evin Teheran di mana tahanan politik lainnya ditahan, termasuk akademisi Iran-Prancis Fariba Adelkhah.

Untuk memrotes kondisi di penjara, ia telah melancarkan dua aksi mogok makan. Termasuk aksi mogok makan yang berlangsung hampir 50 hari sebelum berakhir bulan lalu, karena kesehatannya yang memburuk dengan cepat.

"Saya sangat prihatin nyawa Nasrin Sotoudeh terancam. Sekali lagi, saya mendesak pihak berwenang untuk segera membebaskannya dan memberinya kemungkinan untuk menjalankan penyembuhan di rumah sebelum menjalani perawatan medis yang dipilihnya," kata dia.

Komisaris Tinggi PBB untuk HAM itu menyatakan keprihatinannya atas penargetan yang keras dan sistematis terhadap individu yang mengungkapkan pandangan berbeda dengan pemerintah di Iran.

"Sangat menyedihkan melihat penggunaan sistem peradilan pidana sebagai alat untuk membungkam masyarakat sipil. Mengekspresikan perbedaan pendapat bukanlah kejahatan,” ujar Bachelet. 

 

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN