Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Bekerja dari rumah atau work from home. ( Foto: Istimewa )

Ilustrasi Bekerja dari rumah atau work from home. ( Foto: Istimewa )

PBB: Jam Kerja Panjang Tingkatkan Risiko Kematian

Selasa, 18 Mei 2021 | 06:34 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JENEWA – Hasil studi yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengungkapkan, bekerja lebih dari 55 jam seminggu meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung dan stroke. Jam kerja panjang ini juga menjadi penyebab ratusan ribu orang di dunia meninggal dunia setiap tahunnya.

Dalam penelitan bersama ini, WHO dan ILO memperkirakan 745.000 orang meninggal dunia akibat stroke dan penyakit jantung iskemik (ischemic) pada 2016. Jumlah ini menandai peningkatan sebesar 29% sejak 2000.

Laporan dua organisasi internasional, yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), itu dirilis pada Senin (17/5) di saat pandemi virus corona Covid-19 mempercepat perubahan tempat kerja yang dapat memperkuat kecenderungan untuk bekerja lebih lama.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Environment International pada Senin, adalah analisis global pertama tentang hilangnya nyawa dan kesehatan yang terkait dengan jam kerja yang panjang.

“Bekerja 55 jam atau lebih per minggu merupakan bahaya kesehatan yang serius. Sudah waktunya kita semua – pemerintah, pengusaha, dan karyawan – menyadari fakta bahwa jam kerja yang panjang dapat menyebabkan kematian dini,” ujar Maria Neira, direktur departemen lingkungan, perubahan iklim dan kesehatan WHO, yang dikutip AFP.

Studi tersebut menyimpulkan bahwa bekerja 55 jam atau lebih per minggu dikaitkan dengan perkiraan peningkatan 35% dalam risiko menderita stroke, dan peningkatan 17% dalam risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik, dibandingkan dengan bekerja 35 hingga 40 jam seminggu.

WHO dan ILO memperkirakan bahwa pada 2016, sebanyak 488 juta orang di seluruh dunia terpapar jam kerja panjang lebih dari 55 jam seminggu.

WHO mengatakan, beban penyakit terkait pekerjaan ditemukan sangat signifikan pada pria. Yakni mencapai 72% kematian terjadi di antara pria yang tinggal di Pasifik Barat -yang dalam studi ini termasuk Tiongkok, Korea Selatan, Australia dan Jepang-, kawasan Asia Tenggara, pekerja paruh baya atau lebih tua.

“Sebagian besar kematian yang tercatat, terjadi di antara orang-orang yang meninggal pada usia 60-79 tahun, yang telah bekerja selama 55 jam atau lebih per minggu antara usia 45 dan 74 tahun. Dengan jam kerja panjang, yang sekarang diketahui bertanggung jawab atas sekitar sepertiga dari total perkiraan beban penyakit terkait pekerjaan, hal ini ditetapkan sebagai faktor risiko dengan beban penyakit akibat kerja terbesar,” tutur WHO.

Studi WHO-ILO mencakup analisis terhadap 37 studi tentang penyakit jantung iskemik dan 22 studi tentang stroke, serta data dari lebih dari 2.300 survei yang dikumpulkan di 154 negara dari 1970-2018.

Tren Bekerja dari Jauh

WHO dan ILO memperkirakan pada 2016, terdapat 398.000 orang meninggal karena stroke dan 347.000 karena penyakit jantung, setelah bekerja setidaknya 55 jam per minggu. Tercatat, antara 2000 dan 2016, jumlah kematian akibat penyakit jantung terkait dengan jam kerja yang panjang meningkat sebesar 42%, sedangkan angka stroke meningkat sebesar 19%

Meskipun studi tersebut tidak mencakup periode pandemi, temuan tersebut muncul ketika jumlah orang yang bekerja dengan jam kerja panjang meningkat.

“Dan saat ini mencapai 9% dari total populasi secara global. Tren ini menempatkan bahkan lebih banyak orang yang berisiko mengalami kecacatan terkait pekerjaan dan kematian dini,” ungkap WHO, yang dikutip CNBC.

Pandemi virus corona juga lebih menekankan pada jam kerja dengan peringatan WHO bahwa pandemi mempercepat perkembangan yang dapat mendorong tren peningkatan waktu kerja.

Direktur Jenderal (Dirjen) WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mencatat bahwa pandemi telah mengubah cara kerja banyak orang secara signifikan. Organisasi itu juga mengatakan bahwa krisis virus corona mempercepat perkembangan yang dapat mendorong tren peningkatan waktu kerja.

“Teleworking (bekerja dari jauh) telah menjadi norma di banyak industri, seringkali mengaburkan batasan antara rumah dan pekerjaan. Selain itu, banyak bisnis terpaksa mengurangi atau menghentikan operasi untuk menghemat uang, dan orang-orang yang masih dalam daftar gaji akhirnya bekerja lebih lama. Tidak ada pekerjaan yang sebanding dengan risiko stroke atau penyakit jantung. Pemerintah, pengusaha dan pekerja perlu bekerja sama untuk menyepakati batasan untuk melindungi kesehatan pekerja,” demikian penjelasannya.

WHO pun merekomendasikan agar pemerintah memperkenalkan, menerapkan dan menegakkan hukum, peraturan dan kebijakan yang melarang lembur wajib, dan memastikan batas maksimum waktu kerja, dan menyarankan agar karyawan dapat berbagi jam kerja untuk memastikan bahwa jumlah jam kerja tidak naik di atas 55 atau lebih per minggu.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN