Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
10 destinasi internasional paling banyak dikunjungi di dunia pada 2018. Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO) melaporkan pada 7 Mei 2020, bahwa jumlah kedatangan wisatawan internasional tahun ini bisa mengalami penurunan 60% hingga 80% karena pandemi virus corona Covid-19. ( Foto ilustrasi: twitter.com/afp )

10 destinasi internasional paling banyak dikunjungi di dunia pada 2018. Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO) melaporkan pada 7 Mei 2020, bahwa jumlah kedatangan wisatawan internasional tahun ini bisa mengalami penurunan 60% hingga 80% karena pandemi virus corona Covid-19. ( Foto ilustrasi: twitter.com/afp )

PBB: Kerugian Pariwisata akibat Pandemi Capai US$ 2,0 Triliun

Selasa, 30 November 2021 | 06:19 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

MADRID, investor.id - Pandemi virus corona Covid-19 membuat sektor pariwisata global kehilangan pendapatan sebesar US$ 2,0 triliun pada 2021. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membidangi sektor tersebut menyatakan, pemulihan di sektor pariwisata saat ini rentan dan lambat.

Perkiraan tersebut disampaikan oleh Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) yang berbasis di Madrid, Spanyol. Pada saat infeksi terkait varian Omicron menyebar ke seluruh dunia.

Kedatangan turis internasional tahun ini diperkirakan tetap 70%-75% di bawah 1,5 miliar kedatangan yang tercatat pada 2019 atau sebelum pandemi melanda. Penurunan yang sama seperti pada 2020.

Sektor pariwisata global telah kehilangan pendapatan sebesar US$ 2,0 triliun (1,78 triliun euro) tahun lalu karena pandemi. Sektor ini menjadi salah satu industri yang paling terpukul oleh krisis.

Badan PBB yang ditugasi mempromosikan pariwisata tersebut tidak memiliki perkiraan bagaimana kinerja sektor tersebut tahun depan, sementara prospek jangka menengahnya tidak menggembirakan.

"Terlepas dari perbaikan baru-baru ini, tingkat vaksinasi yang tidak merata di seluruh dunia dan varian baru Covid-19 (seperti varian Delta dan Omicron) dapat berdampak pada pemulihan yang sudah lambat dan rapuh," jelas UNWTO dalam pernyataan resminya, Senin (29/11), yang dilansir AFP.

Penerapan pembatasan baru dan karantina di beberapa negara dalam beberapa minggu terakhir menunjukkan bahwa ini adalah situasi yang tidak terduga.

"Ini adalah krisis historis dalam industri pariwisata. Tetapi sekali lagi, pariwisata memiliki kekuatan untuk pulih dengan cukup cepat. Saya sangat berharap 2022 akan jauh lebih baik dari 2021," kata Kepala UNWTO Zurab Pololikashvili kepada AFP, menjelang dimulainya sidang umum tahunan WTO di Madrid pada Selasa (30/11).

Kebingungan

Sementara pariwisata internasional telah terpukul dari wabah penyakit di masa lalu, penyebaran geografis virus corona belum pernah dialami sebelumnya.

Selain pembatasan perjalanan terkait virus, kata UNWTO, sektor ini juga terpukul dengan tekanan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi, lonjakan harga minyak, dan gangguan rantai pasokan.

Pololikashvili mendesak negara-negara untuk menyelaraskan protokol dan pembatasan virus mereka karena wisatawan kebingungan dan tidak tahu cara bepergian.

Kedatangan turis internasional sempat melonjak selama musim panas di Belahan Bumi Utara berkat peningkatan kepercayaan perjalanan, vaksinasi cepat, dan pelonggaran pembatasan masuk di banyak negara.

"Meskipun ada peningkatan pada kuartal III-2021, laju pemulihan tetap tidak merata di seluruh wilayah dunia karena berbagai tingkat pembatasan mobilitas, tingkat vaksinasi, dan kepercayaan wisatawan," tambahnya.

Kedatangan di beberapa pulau di Karibia dan Asia Selatan serta beberapa negara tujuan di selatan Eropa, telah mendekati, atau terkadang melampaui level pra-pandemi pada kuartal III-2021.

Namun negara-negara lain hampir tidak melihat turis sama sekali, terutama di Asia dan Pasifik. Di wilayah ini tingkat kedatangan turun 95% dibandingkan dengan 2019 karena banyak tujuan tetap ditutup untuk tidak penting bepergian.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN