Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Jenderal Organisasi Buruh Internasional ( International Labour Organization/ILO) Guy Ryder saat menyampaikan pidato dalam pertemuan tahunan ILO di Jenewa, Swiss. ( Foto: AFP Photo/Fabrice COFFRINI )

Direktur Jenderal Organisasi Buruh Internasional ( International Labour Organization/ILO) Guy Ryder saat menyampaikan pidato dalam pertemuan tahunan ILO di Jenewa, Swiss. ( Foto: AFP Photo/Fabrice COFFRINI )

PBB: Pandemi Jatuhkan 100 Juta Lebih Pekerja ke dalam Kemiskinan

Kamis, 3 Juni 2021 | 06:49 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

JENEWA, investor.id - Pandemi Covid-19 telah mendorong lebih dari 100 juta pekerja ke dalam kemiskinan, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (2/6). Situasi buruk yang dialami para pekerja itu antara lain jam kerja yang berkurang dan terbatasnya akses ke lapangan pekerjaan berkualitas.

Dalam sebuah laporan, badan PBB, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengingatkan bahwa krisis pasar tenaga kerja diciptakan oleh pandemi dan isu ini masih jauh dari selesai. Lapangan pekerjaan diperkirakan bangkit kembali ke tingkat pra-pandemi paling cepat pada 2023.

Laporan tahunan ILO tentang Ketenagakerjaan dan Sosial menunjukkan bahwa planet ini akan kekurangan 75 juta pekerjaan di akhir tahun ini dibandingkan jika pandemi tidak terjadi. Angka itu belum termasuk 23 juta pekerjaan yang berkurang pada akhir tahun depan.

"(Covid-19) tidak hanya menjadi krisis kesehatan masyarakat, tetapi juga merupakan krisis ketenagakerjaan dan manusia," Dirjen ILO Guy Ryder mengatakan kepada wartawan, Rabu (2/6), yang dikutip AFP.

Tanpa upaya nyata untuk mempercepat penciptaan lapangan kerja yang layak, tambah dia, serta mendukung anggota masyarakat yang paling rentan dan pemulihan sektor ekonomi yang paling terpukul, dampak pandemi bisa bertahan hingga bertahun-tahun.

“Dalam bentuk hilangnya potensi manusia dan ekonomi, juga kemiskinan yang lebih tinggi dan kesenjangan," jelasnya.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa pengangguran global diperkirakan mencapai 205 juta orang pada 2022, jauh lebih tinggi dari 187 juta pada 2019. Tetapi situasinya lebih buruk daripada yang ditunjukkan oleh angka pengangguran resmi.

Banyak orang telah mempertahankan pekerjaan mereka, tetapi dengan jam kerja yang berkurang secara drastis.

Pada 2020, 8,8% jam kerja global hilang dibandingkan dengan kuartal IV-2019, setara dengan 255 juta pekerjaan penuh waktu.

Sementara situasinya telah membaik, jam kerja global masih jauh dari pulih. Dunia akan tetap kekurangan lapangan pekerjaan setara dengan 100 juta pekerjaan penuh waktu pada akhir tahun ini, menurut temuan laporan tersebut.

"Kekurangan lapangan pekerjaan dan jam kerja ini muncul di atas tingkat pengangguran pra-krisis yang terus-menerus tinggi, pemanfaatan tenaga kerja yang kurang, dan kondisi kerja yang buruk," kata ILO.

Sementara lapangan kerja global diperkirakan akan pulih lebih cepat pada paruh kedua 2021, asalkan situasi pandemi secara keseluruhan tidak memburuk, ILO memperingatkan pemulihan akan sangat tidak merata.

Hal itu dikarenakan akses yang tidak merata ke vaksin Covid-19. Sejauh ini, lebih dari 75% dari seluruh suntikan hanya dibagikan ke 10 negara.

Keterbatasan kapasitas sebagian besar negara maju dan negara berkembang untuk mendukung langkah-langkah stimulus fiskal yang kuat juga akan mengambil korban, kata ILO. Kualitas pekerjaan yang baru diciptakan kemungkinan akan memburuk di negara-negara tersebut.

Penurunan lapangan kerja dan jam kerja telah diterjemahkan ke dalam penurunan tajam dalam pendapatan tenaga kerja dan naiknya kemiskinan.

Dibandingkan pada 2019, sebanyak 108 juta lebih pekerja di seluruh dunia dikategorikan miskin atau sangat miskin. Artinya, mereka dan keluarganya hidup dengan kurang dari US$3,20 per orang per hari, studi menunjukkan. "Angka kemiskinan benar-benar dramatis," kata Ryder.

Ia mengingatkan bahwa lima tahun kemajuan menuju pemberantasan kemiskinan di tengah para pekerja belum rampung.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN