Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bendera Inggris, The Union Jack, dan bendera Uni Eropa (UE). ( Foto: Olivier Hoslet / POOL / AFP )

Bendera Inggris, The Union Jack, dan bendera Uni Eropa (UE). ( Foto: Olivier Hoslet / POOL / AFP )

Pebisnis Inggris Kini Bergulat dengan Birokrasi

Kamis, 14 Januari 2021 | 08:14 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Perusahaan-perusahaan Inggris dilaporkan sedang bergulat menghadapi sejumlah besar birokrasi sebagai akibat dari Brexit. Di bawah kesepakatan perdagangan Brexit yang mulai berlaku pada 1 Januari 2021, eksportir Inggris sekarang mengeluarkan biaya yang lebih mahal dan waktu yang lebih lama guna mengurus dokumen-dokumen, termasuk deklarasi bea cukai, pemeriksaan keamanan pangan, dan pungutan aturan sumber asal.

Bahkan baru-baru ini, Menteri senior pemerintahan Michael Gove mengakui akan ada gangguan signifikan di perbatasan karena ada peningkatan birokrasi yang bakal memperlambat arus pengangkutan, sehingga dapat berujung pada kerusakan produk-produk segar.

Ada pun beberapa sektor usaha yang terdampak kesepakatan Brexit tersebut:

Logistik

Industri logistik mengalami kerugian besar karena lalu lintas yang melambat di perbatasan, terutama di pelabuhan Channel Dover.

Bahkan sebelum Brexit, lalu lintas telah dilanda pembatasan perbatasan terkait Covid-19. Hal ini disebabkan negara-negara Eropa berusaha mengekang penambahan kasus-kasus infeksi, terutama dari varian baru virus corona yang diklaim lebih ganas.

Alhasil, sekarang perusahaan-perusahaan logistik mencoba mengurangi ketergantungan pada Dover. Misalnya ketika melakukan perjalanan yang jauh lebih lama untuk mencapai Irlandia, mereka akan tetap berada di dalam Uni Eropa untuk melewati Inggris.

Sistem pengangkutan sendiri sudah mulai bergeser sejak referendum Brexit pada 2016, di mana semakin banyak barang yang dikirim ke pelabuhan Inggris bagian timur, dan juga melalui kereta api. Sedangkan kendaraan truk yang terdaftar di Inggris sekarang, hanya diperbolehkan melakukan satu kali pemberhentian di Uni Eropa untuk menurunkan barang-barang. Hal ini dapat menempatkan industri tur konser musik dalam krisis.

Manufaktur

Sektor kimia, peralatan listrik, mesin, logam, mineral, dan tekstil Inggris telah dikenakan "aturan asal" dalam kesepakatan perdagangan itu. Pasalnya, rantai pasokan mereka cenderung mengandalkan sejumlah besar komponen impor dari luar Uni Eropa.

Di bawah ketentuan tersebut, barang apa pun akan dikenakan bea cukai jika barang yang tiba di Inggris berasal luar negeri, dan kemudian diekspor ke dalam blok ini.

Misalnya, jika produsen pakaian Inggris mengimpor tekstil buatan Tiongkok maka harus membayar biaya bea cukai jika mengekspor kembali barang tersebut ke negara anggota pasar tunggal UE, dan serikat pabean.

Industri Ritel

Di sisi lain, Asosiasi Pengangkutan Jalan Inggris (Road Haulage Association) telah memperingatkan, bahwa rantai pasokan ritel dengan Irlandia Utara berada di ambang kehancuran, dan menghadapi penundaan kronis karena isu birokrasi pasca-Brexit.

Badan industri tersebut memperingatkan, pasar-pasar swalayan bakal mengalami kesulitan besar dalam menyimpan barang-barang segar di rak, sejak masa transisi Brexit berakhir pada 31 Desember. Konsorsium Ritel Inggris mengatakan, sedikitnya ada 50 anggota yang menghadapi potensi dikenakan tarif untuk mengekspor kembali barang ke UE.

Department store Inggris Debenhams – yang kolaps – pun telah menutup situs online-nya di Irlandia karena ketidakpastian atas aturan perdagangan baru. Sementara itu, department store kelas atas London Fortnum & Mason telah menangguhkan pengiriman UE.

Perikanan

Industri makanan laut Skotlandia mengklaim bahwa dokumen pasca-Brexit dan penundaan perbatasan telah mengancam mata pencaharian, dan memicu kekhawatiran produk yang baru ditangkap akan membusuk di tempat sampah.

Pasalnya, produk makanan laut berharga mahal – termasuk langoustine (sjenis lobster berukuran tipis), kerang scallop, tiram, udang, dan lobster – sebagian besar diekspor ke pasar di utara Prancis, dan kemudian dikirim ke seluruh Eropa. Namun, industri ini sangat mengandalkan transportasi cepat agar sampai ke meja makan, pasar swalayan, dan restoran-restoran di benua itu.

Harga ekspor pun dilaporkan merosot karena penundaan dokumen yang telah memicu kemacetan parah.

Jasa Keuangan

Di samping itu, hasil kesepakatan perdagangan Brexit ternyata tidak mencakup industri jasa keuangan, sehingga masa depannya diselimuti ketidakpastian.

Namun Pemerintah Inggris dan UE bertujuan menandatangani nota kesepahaman tentang jasa keuangan pada Maret untuk menetapkan peta jalan kerja sama. Meskipun dianggap remeh oleh para pejabat.

Gubernur Bank of England Andrew Bailey menyatakan optimistis dapat merundingkan rezimkesetaraan, yang membuat aturan kompatibel demi menjaga perdagangan di jasa keuangan tertentu mengalir lancar.

Sebagai informasi, mulai 1 Januari, sektor keuangan kehilangan akses pasar tunggal dan paspor Eropa – sebuah perangkat yang memungkinkan produk dan layanan keuangan Inggris dijual di UE.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN