Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivis anti-Brexite Steve Bray memegang plakat dan payung bertema Uni Eropa (UE)  saat  berdiri di luar pusat konferensi, di pusat kota Londo, Inggris, pada 4 Desember 2020. ( Foto: Tolga Akmen / AFP )

Aktivis anti-Brexite Steve Bray memegang plakat dan payung bertema Uni Eropa (UE) saat berdiri di luar pusat konferensi, di pusat kota Londo, Inggris, pada 4 Desember 2020. ( Foto: Tolga Akmen / AFP )

Peluang Menipis bagi Inggris dan UE

Sabtu, 5 Desember 2020 | 06:36 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Perundingan antara Inggris dan Uni Eropa (UE) untuk mencapai kesepakatan perdagangan pasca-Brexit telah mencapai titik yang kritis. Batas waktu semakin dekat sementara kesepakatan belum juga tercapai. Peluang untuk itu pun menipis.

Inggris resmi meninggalkan UE pada Januari 2020. Tapi sepakat untuk terus mengikuti aturan perdagangan UE hingga akhir tahun ini. Selama masa transisi tersebut, kedua pihak berunding untuk mencapai kesepakatan perdagangan baru.

Tapi, negosiasi mengalami tarik ulur berbulan-bulan. Sampai berita ini diturunkan pada Jumat (4/12) belum juga ada tanda-tanda kedua pihak mencapai titik temu atau pun kompromi. Kekhawatiran pun semakin besar bahwa kedua pihak akan gagal mencapai kesepakatan.

Jika skenario itu yang terjadi, eksportir dari kedua pihak harus membayar biaya-biaya lebih tinggi dan menghadapi hambatan-hambatan dalam bisnisnya.

“Peluang bagi tercapainya kesepakatan menipis, setelah tim juru runding UE membawa elemen-elemen baru ke meja perundingan,” ujar seorang pejabat senior pemerintah Inggris, kepada BBC pada Jumat pagi.

Pemerintah Inggris mengatakan kepada CNBC, perundingan tetap dilanjutkan. Tapi ia menolak berkomentar bila peluang tersebut sudah menipis.

Sementara Presiden Dewan Eropa Charles Michel mengatakan, pihaknya menginginkan kesepakatan tapi siap untuk segala kemungkinan.

“Saya menghormati kedaulatan Inggris, tapi terpulang kepada Inggris apa yang diinginkan untuk masa depannya, standar mana yang akan diikuti dan pertanyaannya adalah apakah masa depan politik, ekonomi, dan sosial mana yang diinginkan,” tutur dia di Brussels, Belgia, Jumat.

Di samping itu, keragu-raguan Eropa atas kesepakatan perdagangan pasca-Brexit dengan Inggris semakin memuncak pada Jumat. Hal ini ditandai dengan ancaman Prancis yang akan mengajukan hak veto, seiring proses negosiasi intens yang kemungkinan menjadi jam-jam terakhirnya.

Menurut laporan, juru runding Uni Eropa (UE) Michel Barnier dan Inggris yang dipimpin oleh David Frost masih terlibat dalam pembahasan di menit-menit terakhir tentang hak penangkapan ikan, aturan perdagangan yang adil, dan mekanisme penegakan hukum untuk mengatur segala kesepakatan.

Tetapi dengan berjalannya waktu, apabila kesepakatan akhirnya diratifikasi sebelum akhir tahun dan Inggris keluar dari pasar tunggal UE maka negara-negara dalam blok bakal semakin dingin.

“Jika ada kesepakatan yang tidak bagus, kami akan menentangnya. Setiap negara memiliki hak untuk memveto,” ujar Menteri Prancis urusan Eropa Clement Beaune kepada radio Europe 1, yang dikutip dari AFP.

Menurut seorang diplomat Eropa, Belgia, Belanda, Spanyol dan Denmark memiliki kekhawatiran yang sama dengan Prancis bahwa dengan terburu-buru membuat kesepakatan akan membuat Barnier memberikan terlalu banyak alasan kepada Inggris tentang aturan untuk mempertahankan persaingan yang sehat.

Tuntutan Baru UE

Di sisi lain, dalam negosiasi yang akan berakhir, para pejabat Inggris mengeluhkan langkah Uni Eropa yang telah membuat tuntutan baru, bahwa Inggris setuju membentuk badan independen untuk mengatur subsidi negara.

Di samping itu, para sumber di UE mengungkapkan bahwa, beberapa negara UE menghawatirkan Jerman dan Komisi Eropa yang terlalu tertarik untuk segera menyetujui kesepakatan.

Parlemen Eropa sendiri telah memperingatkan, pihaknya harus melihat teks tersebut dalam beberapa hari jika ingin memeriksanya dengan benar sesuai waktnya, supaya dapat berlaku pada akhir tahun. Dan sekarang para pemimpin Eropa ingin melihat apa yang direncanakan Barnier pada pertemuan puncak 10 Desember.

Namun beberapa diplomat menyarankan, daripada tunduk pada tenggat waktu, negara-negara anggota UE dapat membiarkan Inggris keluar dari pasar tunggal tanpa kesepakatan pada Januari dan kemudian kembali melakukan pembicaraan perdagangan baru pada akhir 2021.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN