Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Toyota Motor Corporation. Foto ilustrasi: autonews.com

Toyota Motor Corporation. Foto ilustrasi: autonews.com

Pemangkasan Biaya Berhasil Perbaiki Neraca Toyota

Happy Amanda Amalia, Jumat, 8 November 2019 | 13:06 WIB

TOKYO, investor.id – Raksasa produsen mobil Jepang, Toyota pada Kamis (7/11) melaporkan rekor laba bersih dan penjualannya untuk semester pertama, yang menunjukkan upaya pemangkasan biaya telah membantu meningkatkan neraca keuangannya.

Perusahaan produsen mobil sedan Camry dan hybrid Prius itu melaporkan kenaikan laba bersih 2,6% menjadi 1,27 triliun yen ( US$ 11,7 miliar) pada April-September.

Kendati perusahaan menyampaikan telah mempertahankan proyeksi laba bersih sepanjang tahun pada 2,15 triliun yen dan laba operasi sebesar 2,4 triliun yen, serta penjualan 29,5 triliun yen. Tetapi mereka juga mengatakan telah melakukan sedikit perubahan pada perkiraan untuk laba sebelum pajak.

Dalam pernyataan yang disampaikan Toyota, faktor-faktor termasuk pengurangan biaya dan pemasaran memberikan bantuan lebih besar dibandingkan dampak negatif akibat nilai tukar mata uang asing, sehingga memberikan kontribusi terhadap kenaikan 11,3% dalam laba operasi, atau 1,4 triliun yen untuk enam bulan hingga September.

“Sebagai hasil dari upaya untuk meningkatkan diri kami sendiri, banyak dari pelanggan kami yang memilih kendaraan Toyota. Hasil terbaru menunjukkan itu. Kami bersyukur,” kata Executive Vice President Toyota Mitsuru Kawai dalam konferensi pers.

Direktur Operasi Kenta Kon menambahkan, pihaknya telah bertindak cepat untuk mengubah model bisnis, membangun aliansi, dan melakukan investasi untuk masa depan. Alhasil, Toyota mencatakan penjualan baik dari model-model baru, termasuk Rav 4, dan perolehan laba kuat di Jepang dan Amerika Utara. Yang mana programnya mencakup upaya penjualan aktif, pemotongan biaya dan penggunaan insentif yang efektif untuk para pembeli Amerika.

Di samping itu, perusahaan mengasumsikan nilai tukar mata uang asing pada 107 yen terhadap dolar untuk tahun berjalan hingga Maret, dibandingkan 106 yen terhadap dolar pada perkiraan sebelumnya.

Perusahaan juga telah mengumumkan akan membeli hingga 34 juta sahamnya sendiri atau 1,19% dari saham yang beredar, hingga 200 miliar yen pada akhir tahun bisnis saat ini.

Tercatat pada Kamis bahwa saham Toyota, yang telah diperdagangkan di wilayah negatif di pagi hari, ditutup menguat 1,13%.

Perang Dagang dan Brexit

“Toyota menikmati penjualan global yang stabil meskipun persaingan semakin ketat di pasar mobil global. Permintaan mobil hybrid – sebagai kekuatan Toyota – pun tetap kuat karena mobil listrik masih dalam masa transisi,” tutur Satoru Takada, analis mobil di perusahaan riset dan konsultasi TIW, kepada AFP sebelum laporan keuangan dirilis.

Namun dia mengigatkan soal negosiasi perdagangan Jepang-Amerika Serikat (AS), yang sepertinya masih menjadi ancaman potensial bagi produsen mobil Jepang. “Proteksionisme tampaknya tetap tidak berubah di AS bahkan jika Demokrat memenangkan kursi kepresidenan,” tambahnya.

Sebelumnya pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengancam mengenakan tarif pada mobil-mobil Jepang yang diimpor ke pasar Amerika.

Di sisi lain, lingkungan bisnis perusahaan seperti Toyota juga telah diliputi oleh ketidakpastian yang terus-menerus akibat Brexit. Bahkan, jajaran eksekutif Toyota sebelumnya telah mengatakan tidak akan ada cara untuk menghindari dampak negatif jika Inggris meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan.

Seperti diketahui, pabrik perakitan Toyota di Burnaston di Inggris tengah telah menghasilkan produksi 600 unit kendaraan per hari. Perusahaan itu juga sangat dikenal akan sistem produksi just-in-time atau tepat waktu, namun memiliki stok terbatas di lokasi dan harus mengandalkan impor fleksibel jutaan komponen suku cadang mobil dari Uni Eropa (UE).

Kon kembali mengingatkan tentang risiko yang ditimbulkan oleh Brexit tanpa kesepakatan, yang sejauh ini masih terhindar setelah UE memberi Inggris perpanjangan waktu melebihi batas waktu resmi 31 Oktober 2019.

“Pada titik ini hal itu bisa dihindari. Tetapi jika masalah itu terjadi lagi, dampaknya akan sangat signifikan,” pungkas Kon. (afp/pya)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA