Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjuk rasa membawa spanduk-spanduk dalam aksi protes perubahan iklim

Pengunjuk rasa membawa spanduk-spanduk dalam aksi protes perubahan iklim "Fridays for Future" di Berlin, Jerman pada 20 September 2019. (Foto: AFP / John MACDOUGALL)

Pembahasan Iklim di Jerman Temui Jalan Buntu

Grace Eldora, Sabtu, 21 September 2019 | 10:18 WIB

BERLIN, investor.id – Kanselir Angela Merkel berjuang untuk mencapai kesepatan tentang rencana iklim yang lebih luas bagi Jerman pada Jumat (20/9). Tetapi pembicaraan yang berlangsung lebih dari 16 jam itu menemui jalan buntu, di tengah-tengah aksi unjuk rasa menuntut perubahan.

Ada pun rencana yang dibahas mencakup sejumlah langkah, mulai dari menangani emisi di sektor energi dan industri, hingga pemberian insentif untuk kendaraan listrik tanpa emisi atau angkutan umum.

Sekretaris jenderal (sekjen) mitra koalisi junior Merkel dari partai Sosial Demokrat, Lars Klingeil pun mendesak agar lebih baik bernegosiasi dengan tambahan satu jam dan mencapai kesepakatan paket iklim yang ambisius.

Sementara para politisi melakukan negosiasi dalam ruang tertutup. Di jalan-jalan di seluruh Jerman, para pengunjuk rasa sedang menggelar aksi demonstrasi dengan membawa spanduk aneka warna dan poster-poster. Mereka berganung dengann gelombang demonstrasi internasional terbesar pada Jumat untuk memprotes perubahan iklim bagi masa depan yang saat in dimulai oleh perempuan remaja asal Swedia, Greta Thunberg.

Jembatan besar di Berlin, Jerman pun diblokir oleh para demonstran dengan memasang pita merah putih di seberang jalan sehingga membuat lalu lintas macet di jam sibuk. Sedangkan di Frankfurt, aksi duduk sedang berlangsung.

Bagi pemerintah koalisi Merkel, taruhannya juga meningkat. Ekonomi sudah diproyeksikan meluncur ke resesi di kuartal III-2019, menyeimbangkan kepentingan industri ekspor yang penting sementara tidak mengalienasi pemilih muda dengan tuntutan lingkungan yang sulit untuk diseimbangkan.

Negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di Uni Eropa tersebut akan kehilangan target iklim untuk tahun depan, tetapi telah berkomitmen memenuhi target pada 2030 yakni penurunan 55% dalam emisi gas rumah kaca dibandingkan level pada 1990.

Pembangkit tenaga listrik Jerman menyumbang sekitar 2% dari emisi di seluruh dunia yang dituding sebagai penyebab pemanasan atmosfer Bumi, mencairnya lapisan es, naiknya permukaan laut, dan mengintensifkan kondisi cuaca.

Di bawah rancangan rencana kebijakan yang ditawar pemerintah Merkel, sebuah komitmen senilai sedikitnya 100 miliar euro (US$ 110 miliar) telah direncanakan untuk perlindungan iklim pada 2030.

Tetapi poin utama yang mencuat adalah pertanyaan tentang bagaimana menentukan harga emisi karbon berbahaya yang lebih baik dari minyak, gas, dan batubara dalam kegiatan ekonomi untuk mendorong bahan bakar alternatif bersih.

Sementara partai Merkel ingin memperluas perdagangan sertifikat emisi, Demokrat Sosial telah menyerukan pajak karbon.

Merkel yang adalah ilmuwan dengan profesi, pernah dikenal sebagai kanselir iklim saat ia mendorong energi transisi hijau yang sangat meningkatkan energi bersih terbarukan seperti angin dan tenaga surya. Namun, banyak dari keuntungan itu telah terkikis oleh meningkatnya ketergantungan pada batubara kotor, sebagian untuk mengimbangi fase pada 2022 dari tenaga nuklir yang diputuskan oleh Merkel setelah Jepang dilanda bencana Fukushima 2011.

Pemerintahnya tahun ini mengumumkan penghentian batubara pada 2038, tetapi menghadapi oposisi lokal dari daerah pertambangan. Khususnya di timur bekas komunis, di mana partai AfD sayap kanan memanfaatkan kekhawatiran atas kehilangan pekerjaan.

Jerman, sebagai produsen mobil terkemuka juga tertinggal jauh di belakang dalam sektor transportasi. Ini karena raksasa otomotif seperti Daimler dan BMW telah lama berfokus pada SUV yang boros bensin daripada mobil listrik hibrida atau nol-emisi.

Mengingat 800.000 pekerjaan terkait dengan sektor otomotif, pemerintah Merkel juga berhati-hati, pajak lingkungan baru bisa memicu protes anti-pemerintah berompi kuning yang telah menjangkiti negara tetangga Perancis.

Tetapi kaum muda memperingatkan, menunda tindakan bukanlah suatu pilihan, menyebut ancaman itu eksistensial dengan kehancuran konsekuensi selama masa hidup mereka. "Kami sedang menuju krisis yang menghancurkan kehidupan dan sejauh ini tidak ada yang terjadi. Itu sebabnya kita meningkatkan tekanan. Bersama-sama kita kuat," jelas Linus Steinmetz dari gerakan siswa. (afp/eld)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA