Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang perawat memberikan suntikan vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca kepada mahasiswi kesehatan di  UBO (Universite de Bretagne occidentale) di Brest, Prancis barat, pada 12 Maret 2021. ( Foto: Fred TANNEAU / AFP )

Seorang perawat memberikan suntikan vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca kepada mahasiswi kesehatan di UBO (Universite de Bretagne occidentale) di Brest, Prancis barat, pada 12 Maret 2021. ( Foto: Fred TANNEAU / AFP )

Pembatasan Kegiatan Masyarakat Diprotes Keras di Sejumlah Negara

Senin, 26 Juli 2021 | 07:10 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

PARIS, investor.id – Pembatasan Kegiatan Masyarakat terkait Covid-19 dan ancaman sanksi terhadap mereka yang tidak divaksin mengundang protes keras di sejumlah negara. Lebih dari 100.000 orang secara keseluruhan menggelar unjuk rasa di Australia, Prancis, Italia, dan Yunani pada Sabtu (25/7).

Di Brasil bahkan puluhan ribu demonstran menuntut pemakzulan Presiden Jair Bolsonaro, yang respons pandeminya terus mendapatkan kritik dari rakyatnya.

Aksi-aksi protes di sejumlah negara itu dilaporkan diwarnai bentrokan dengan polisi. Di Sydney, Australia, puluhan orang ditangkap dalam aksi yang dianggap ilegal. Menteri urusan kepolisian Sydney menyebut mereka yang ambil bagian dalam aksi itu sebagai orang-orang bodoh.

Sementara para penanggung jawab menyebut aksinya adalah kebebasan. Para demonstran beraksi sambil mengacung-acungkan poster untuk menggugah kesadaran masyarakat.

Di Prancis, polisi menembakkan gas air mata dan mengerahkan meriam air terhadap para pengunjuk rasa. Sekitar 160.000 orang ikut serta dalam aksi di seluruh Prancis.

Mereka memprotes kebijakan paspor kesehatan dari Presiden Emmanuel Macron, karena akan melarang orang yang belum divaksin untuk masuk restoran dan tempat-tempat umum lainnya. “Kebebasan, kebebasan,” teriak para demonstran di Prancis, seperti dilaporkan oleh AFP.

Lewat poster-poster yang dibawanya, mereka menyebut Macron seorang tiran. Perusahaan-perusahaan farmasi besar juga tak urung menjadi sasaran kecaman. Mereka dianggap telah mengebiri kebebasan dan kebijakan paspor kesehatan itu disebut memalukan.

Di Athena, Yunani, sekitar 5.000 orang turun ke jalan memprotes pembatasan kegiatan dan keharusan untuk divaksin. Di Roma, Italia, para demonstran menentang wajib membawa kartu hijau untuk makan di restoran dan menonton.

Aksi-aksi unjuk rasa itu menggarisbawahi konflik global antara masyarakat yang terjebak antara harus mematuhi saran-saran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan otoritas kesehatan masing-masing negara dan keharusan untuk mencari nafkah. Atau sebagian yang sudah rindu untuk kembali kepada kehidupan normal.

Sementara itu di Rio de Janeiro, Brasil, ribuan orang berpakaian merah dan bermasker berunjuk rasa menentang Bolsonaro. Para penanggung jawab aksi mengatakan akan terus menggalang seluruh rakyat untuk beraksi dalam rangka membela demokrasi, kehidupan rakyat Brasil, dan mengenyahkan Bolsonaro.

Para demonstran di Brasil juga memprotes lambannya program vaksinasi Covid dan tingginya tingkat pengangguran. Mereka menuntut bantuan sosial lebih banyak bagi warga miskin terdampak pandemi Covid-19.

“Semua orang yang merasa tertekan dan terzolimi oleh pemerintah ini sebaiknya ikut turun ke jalan karena kita harus berjuang untuk mengembalikan demokrasi,” ujar Laise de Oliveira (65 tahun), kepada AFP.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN