Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Pemilu AS Tak Pengaruhi Keputusan The Fed

Senin, 31 Oktober 2016 | 09:37 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

WASHINGTON – Pada saat Federal Reserve (The Fed) atau bank sentral Amerika Serikat (AS) mengeluarkan keputusan tingkat suku bunga berikutnya, pada Rabu (2/11) maka pelaksanaan awal pemilihan presiden (pilpres) yang sengit akan tersisa 136 jam lagi. Bahkan, calon presiden (capres) dari Partai Republik Donald Trump – yang tertinggal dalam jajak pendapat – mengecam The Fed dan menudingnya telah menekan tingkat suku bunga (fed fund rate/FFR) demi membantu Presiden Barack Obama.

 

Tudingan itu pun dibantah tegas oleh Gubernur The Fed Janet Yellen. Namun debagian besar pengamat memperkirakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) The Fed, yang menetapkan kebijakan suku bunga, tetap teguh karena tidak ada kebutuhan yang mendesak untuk bertindak, terutama tepat sebelum pemiluhan umum (pemilu).

 

Sementara itu, para anggota The Fed terbagi tentang bahaya inflasi dan sebagian besar anggota diperkirakan memilih mempertahankan tingkat suku bunga pada kisaran target terendah mereka dalam sejarah, yakni 0,25%-0,5% selama satu bulan.

 

“Tidak akan ada alasan yang potensial untuk menciptakan kebisingan di sekitar pemilu,” ujar David Stockton, mantan direktur riset Fed yang sekarang bekerja di Peterson Institute for International Economics.

 

Menurut undang-undang, The Fed bebas dari tekanan politik dan anggaran yang tidak diatur oleh Kongres. Dan kalangan analis setuju, bahwa tidak ada tanda-tanda politik pemilu yang secara langsung mempengaruhi pemikiran The Fed.

 

Menurut Stockton kepada AFP, rapat FOMC yang berlangsung dua hari kemungkinan besar akan difokuskan pada pengaturan ekspektasi pasar dan perkiraan investor untuk pertemuan FFR akhir tahun, pada Desember.

 

“Pernyataan berikut mengikuti rapat ini yang kemungkinan akan lebihkuat mengisyaratkan adanya kenaikan tingkat suku bunga pada Desember,” katanya.

 

Perpecahan FOMC – yang terlontar secara terbuka pada musim panas, mengungkapkan kalangan minoritas yang lebih mendukung menaikkan suku bunga di awal ketimbang menghadang inflasi – menunjukkan mereka menghadapi keputusan sulit.

 

Selama 2016, mereka telah menahan diri untuk mengambil tindakan demi menghindar menganggu pemulihan ekonomi yang lamban. Kendati penciptaan lapangan kerja relatif kuat, api pertumbuhan tingkat upah lamban, sehingga pasar tenaga kerja belum menghasilkan tanda-tanda inflasi yang tegas.

 

Sebelumnya, pada pertemuan September, para pembuat kebijakan mengeluarkan keputusan untuk tidak menaikkan tingkat suku bunga dalam waktu dekat. Bahka tiga dari 10 anggota memiliki perbedaan pendapat dan meminta kenaikan suku bunga.

 

Sejak pertemuan itu, data ekonomi AS terus turun naik. Namun menurut laporan awal, yang masih dapat berubah, pada Jumat (28/10), pertumbuhan ekonomi menguat 2,9% di kuartal III dan ada penambahan tenaga kerja 156.000 pada September. Sedangkan tingkat pengangguran masih stabil di kisaran 5%. (afp/pya)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN