Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam sedang menanti pertanyaan dari wartawan dalam konferensi pers yang digelar di Hong Kong pada 5 September 2019, selang satu hari setelah mengumumkan penarikan sepenuhnya RUU ekstradisi ke wilaya daratan Tiongkok.  (AFP / Philip FONG)

Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam sedang menanti pertanyaan dari wartawan dalam konferensi pers yang digelar di Hong Kong pada 5 September 2019, selang satu hari setelah mengumumkan penarikan sepenuhnya RUU ekstradisi ke wilaya daratan Tiongkok. (AFP / Philip FONG)

Pemimpin Hong Kong Ingatkan AS Tidak Turut Campur

Herman, Rabu, 11 September 2019 | 10:10 WIB

HONG KONG, investor.id – Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam pada Selasa (10/9) memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak turut campur dalam hal tanggapan pemerintahannya terhadap gerakan prodemokrasi di kota itu. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul aksi protes baru dari demonstran yang meminta AS untuk meningkatkan tekanan terhadap Tiongkok.

Para pengunjuk rasa kembali turun ke jalan-jalan pada Minggu (8/9) menuju kantor konsulat Amerika untuk meminta Kongres mengesahkan rancangan undang-undang (RUU) yang menyatakan dukungan terhadap gerakan prodemokrasi.

Namun, RUU yang diusulkan itu dapat merusak hak istimewa dagang AS dengan Hong Kong, mengingat isi dari RUU tersebut mengamanatkan agar dilakukan pemeriksaan berkalah terhadap apakah pihak berwenang menghormati Undang-Undang Dasar yang mendukung status semi-otonom kota tersebut.

Lam yang pro-Tiongkok pun menegaskan bahwa setiap perubahan yang berhubungan dengan ekonominya dengan AS bakal mengancam keuntungan bersama.

“Sangat tidak pantas bagi negara mana pun untuk ikut campur dalam urusan Hong Kong. Saya berharap tidak ada lagi orang-orang di Hong Kong yang secara aktif menjangkau untuk memberi tahu Amerika Serikat agar lolos dari tindakan itu,” ujarnya kepada wartawan.

Pemerintah Tiongkok pun menggaungkan pernyataan Lam, melalui Juru bicara kementerian luar negeri Hua Chunying: “Kami berharap mereka dapat menarik kelompok kejahatan rahasia mereka di Hong Kong sesegera mungkin.”

Sementara itu, beberapa politisi Amerika dari kedua partai menyatakan dukungan atas tujuan demokrasi dari para pengunjuk rasa. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump tampaknya mempertahankan pendekatan yang lebih mudah ketika berperang dengan Tiongkok.

Trump pun ikut menyerukan resolusi damai untuk krisis politik dan mendesak Tiongkok untuk tidak memperluas tindak kekerasan. Namun dia juga mengatakan, terserah kepada Tiongkok untuk menangani protes.

Selain itu, Pemerintah AS telah menolak tuduhan Tiongkok bahwa mereka mendukung para demonstran. Namun, Tiongkok memberikan sedikit bukti yang mendukung klaimnya di luar pernyataan dukungan dari beberapa politisi AS.

Secara terpisah, lebih dari 150 anggota parlemen di Inggris telah meminta Menteri Luar Negeri Dominic Raab untuk menawarkan kewarganegaraan kedua dan hak tinggal bagi penduduk Hong Kong.

“Permintaan itu akan mengirim pesan kuat kepada Tiongkok bahwa orang-orang Hong Kong tidak sendirian,” demikian isi surat terbuka.

Menurut laporan, jutaan pendukung pro-demokrasi telah turun ke jalan-jalan Hong Kong selama 14 pekan terakhir. Gerakan itu pun menjadi tantangan terbesar Pemerintah Tiongkok pasca penyerahan Hong Kong oleh kekuasaan Inggris pada 1997.

Kerusakan Besar-besaran

Awal mula aksi protes luar biasa Hong Kong tersebut dipicu oleh rencana rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi ke wilayah daratan, yang dipandang otoriter. Para penentang RUU ekstradisi menganggap itu adalah langkah terbaru Tiongkok untuk menghilangkan kebebasan unik yang ada di Hong Kong.

Namun karena Pemerintah Tiongkok dan Lam menolak mengalah dan melancarkan tindakan keras maka gerakan tersebut berubah menjadi kampanya yang lebih luas, yang menyerukan dilakukan reformasi demokratis dan meminta pertanggungjawaban atas tindakan polisi, sekaligus permintaan amnesti bagi siapa pun yang ditangkap.

Namun aksi protes tidak juga menunjukkan tanda-tanda mereda, dan Lam terus mengeluarkan kata-kata menantang bernada ancaman serta menolak menyerah atas tuntutan para pengunjuk rasa yang berlangsung tiga bulan terakhir.

Akan tetapi, pada pekan lalu ada kabar mengejutkan di mana Lam mengeluarkan pengumuman pembatalan sepenuhnya RUU ekstradisi. Tetapi para pengunjuk rasa di seluruh spektrum mengecam keputusan yang dinilai belum mencukupi, dan sudah terlambat, sehingga aksi protes kembali di gelar di jalan-jalan selama akhir pekan.

Seakan sudah menjadi pemandangam biasa, pola aksi protes yang diadakan Minggu (8/9) siang digelar secara damai dan mengarah ke kantor konsulat AS. Tetapi ketika malam hari tiba, polisi anti huru hara tampak berkejaran dengan kelompok-kelompok pengunjuk rasa garis keras yang memblokir jalan, merusak stasiun kereta bawah tanah terdekat dan membakar barikade darurat.


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA