Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Klaim tunjangan pengangguran di Amerika Serikat (AS). ( Foto Ilustrasi: glegorly / greensboro.com )

Klaim tunjangan pengangguran di Amerika Serikat (AS). ( Foto Ilustrasi: glegorly / greensboro.com )

Penambahan Lapangan Kerja di AS Meleset Jauh dari Ekspektasi

Sabtu, 5 Desember 2020 | 06:47 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Tanda-tanda melambatnya laju pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) muncul lagi pada Jumat (4/12). Penambahan lapangan kerja baru non-pertanian tertahan pada November 2020, karena hanya bertambah 245.000.

Data yang dirilis Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) AS itu juga menunjukkan tingkat pengangguran turun menjadi 6,7% dari sebelumnya 6,9%. Ini angka terendah sejak munculnya pandemi Covid-19, tapi 10,7 juta pekerja tetap belum mendapatkan lagi pekerjaan.

Pengangguran jangka panjang atau mereka yang menganggur 27 pekan lebih bertambah 385.000 menjadi 3,9 juta orang. Juga semakin banyak warga AS yang keluar sepenuhnya dari angkatan kerja. Yang ditandai dengan turunnya tingkat partisipasi menjadi 61,5%.

Kalangan ekonom sebelumnya memperkirakan tambahan 650.000 lapangan kerja baru sepanjang bulan lalu. Tapi, sebagian besar ekonom mengingatkan bahwa hasil sesungguhnya dapat jauh lebih rendah lagi. Karena aktivitas perekrutan menurun seiring lonjakan kasus baru Covid-19.

Para ekonom juga mengingatkan bahwa situasinya dapat memburuk karena kubu Republik dan Demokrat belum mencapai titik temu untuk stimulus Covid-19 yang kedua. Untuk menggantikan UU CARES bernilai US$ 2,2 triliun yang disahkan Maret 2020 dan sebagian besar programnya berakhir di akhir tahun ini.

Jutaan pekerja yang tadinya menerima tunjangan akan kehilangan uang pegangan itu setelah Natal tahun ini. Rubeela Farooqi, analis High Frequency Economics mengingatkan bahwa pertumbuhan lapangan kerja berpotensi turun lagi. Karena lonjakan kasus baru Covid-19 akan berakibat pada keluarnya lagi langkah-langkah penutupan kegaitan usaha.

“Sampai vaksin dapat tersedia, aman dan didistribusikan secara luas, pasar tenaga kerja berpotensi melemah. Yang akan membebani pendapatan dan belanja. Ditambah tidak adanya dukungan fiskal, akan berdampak pada melambatnya laju pertumbuhan dalam jangka pendek,” kata dia.

Presiden AS Donald Trump pada Kamis (3/12) mengatakan dirinya berharap dapat menandatangani stimulus baru, walau Kongres masih belum mencapai titik temu.

“Saya ingin itu keluar dan saya yakin kita semakin dekat untuk sampai pada sebuah kesepakatan,” ujar Trump, kepada para wartawan.

Gregory Daco dari Oxford Economics mengatakan, UU CARES adalah penyambung kehidupan bagi ekonomi. Tanpa ada tambahan bantuan, kondisi ekonomi dapat memburuk.

“Kami khawatir dalam beberapa bulan ke depan kondisi ekonomi akan berat. Karena tunjangan-tunjangan pengangguran bagi jutaan warga akan berakhir dan berakhirnya moratorium pengusiran dan penyitaan rumah,” kata dia.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN