Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto tiga pemenang Hadiah Nobel Fisika 2019 (kiri-kanan): ahli kosmologi Amerika-Kanada James Peebles, ilmuwan Michel Mayor dan Didier Quelo yang keduanya berasal dari Swiss. Pengumuman pemenang Nobel bidang Fisika disampaikan di Royal Swedish Academy of Sciences, Stockholm, Swedia pada 8 Oktober 2019. ( Foto: AFP / Jonathan NACKSTRAND )

Foto tiga pemenang Hadiah Nobel Fisika 2019 (kiri-kanan): ahli kosmologi Amerika-Kanada James Peebles, ilmuwan Michel Mayor dan Didier Quelo yang keduanya berasal dari Swiss. Pengumuman pemenang Nobel bidang Fisika disampaikan di Royal Swedish Academy of Sciences, Stockholm, Swedia pada 8 Oktober 2019. ( Foto: AFP / Jonathan NACKSTRAND )

Penemu Planet Luar Tata Surya Menangi Nobel Fisika

Happy Amanda Amalia, Rabu, 9 Oktober 2019 | 15:38 WIB

STOCKHOLM, investor.id – Ahli kosmologi Amerika-Kanada James Peebles dan dua astronom asal Swiss Michel Mayor serta Didier Queloz pada Selasa (8/10) memenangi Hadiah Nobel Fisika atas hasil penelitian yang bertujuan meningkatkan pemahaman tentang tempat tinggal kita di alam semesta.

Ketiga pemenang itu akan menerima hadiah dari Raja Carl XVI Gustaf dalam upacara resmi di Stockholm pada 10 Desember 2019, yang sekaligus untuk memperingati tanggal wafatnya ilmuwan Alfred Nobel.

Adapun hadiah yang diperoleh terdiri atas medali emas, sertifikat, dan uang sembilan juta kronor Swedia (sekitar US$ 914.000). Hadiah uang itu akan dibagi kepada tiga pemenang.

“Peebles memenangkan setengah dari total hadiah atas temuan-temuan teoretis yang telah berkontribusi pada pemahaman kita tentang bagaimana semesta berevolusi setelah Big Bang,” ujar profesor Goran Hansson, sekretaris jenderal Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia (Royal Swedish Academy of Sciences) dalam konferensi pers.

Sementara setengah dari uang yang tersisa akan dibagi dua dengan Mayor dan Queloz atas temuan pertamanya pada Oktober 1995, tentang planet di luar tata surya, yang mengorbit di Galaksi Bima Sakti.

“Temuan-temuan mereka, selamanya mengubah konsepsi kita tentang dunia. Temuan yang dikembangkan lebih dari dua dekade sejak pertengahan 1960-an, kerangka teori Peebles adalah dasar dari gagasan kontemporer kita tentang Semesta,” kata juri.

Kerangka teori Peebles tersebut dibangun di atas karya Albert Einstein tentang asal-usul alam semesta dengan segera melihat kembali ke milenia setelah Big Bang, yakni saat sinar cahaya mulai menembak ke luar angkasa. Dengan menggunakan alat dan perhitungan teoretis, ia menggambar hubungan antara suhu radiasi yang dipancarkan setelah Big Bang, dan jumlah materi yang diciptakannya.

Revolusi dalam Astronomi

Karya Peebles menunjukkan bahwa materi yang kita ketahui – seperti bintang, planet, dan diri kita sendiri – hanya mencapai 5%, sedangkan 95% lainnya terdiri dari materi dan energi gelap yang tidak diketahui.

Dalam wawancara telepon saat konferensi pers, Peebles mengungkapkan bahwa sebenarnya elemen-elemen itu masih berupa pertanyaan terbuka.

“Meskipun teorinya diuji dengan saksama, kita masih harus mengakui bahwa materi dan energi gelap adalah hal yang misterius,” tutur dia.

Peebles juga menasehati orang-orang muda yang memikirkan untuk berkarier di bidang sains bahwa mereka melakukan karena mencintainya. Apalagi jika mendapat penghargaan yang memesona dan sangat dihargai. “Anda masuk sains karena Anda terpesona olehnya. Itulah yang saya lakukan,” tambahnya.

Peebles (84 tahun) adalah Profesor Albert Einstein dari Princeton University di Amerika Serikat. Sedangkan Mayor (77) dan Queloz (53) keduanya adalah profesor di University of Geneva. Queloz juga bekerja di University of Cambridge di Inggris.

Terkait temuan Mayor dan Queloz, keduanya menggunakan instrumen yang dibuat khusus di observatorium mereka, di Prancis selatan pada Oktober 1995 sehingga mampu mendeteksi bola gas yang memiliki ukuran sama dengan Jupiter – yang mengorbit di bintang selama 50 tahun cahaya dari Matahari kita sendiri.

“Dengan memanfaatkan fenomena yang dikenal sebagai efek Doppler – yang mengubah warna cahaya tergantung pada apakah suatu benda mendekati atau menjauh dari Bumi – keduanya membuktikan bahwa planet yang dikenal sebagai 51 Pegasus b, sedang mengorbit di bintangnya,” ujarnya.

Juri Nobel pun mencatat, temuan itu telah memulai revolusi dalam astronomi dan sejak itu lebih dari 4.000 planet ekstrasurya telah diketemukan di galaksi tempat tinggal kita. (afp/pya)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA