Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Stiker anjuran jaga jarak sejauh 2 meter terpasang di lantai dalam pembukaan kembali dealer mobil Renault di Old Basing, dekat Basingstoke, barat daya London, Inggris pada 1 Juni 2020, menyusul pelonggaran aturan pembatasan selama pandemi Covid-19. ( Foto: Adrian Dennis / AFP )

Stiker anjuran jaga jarak sejauh 2 meter terpasang di lantai dalam pembukaan kembali dealer mobil Renault di Old Basing, dekat Basingstoke, barat daya London, Inggris pada 1 Juni 2020, menyusul pelonggaran aturan pembatasan selama pandemi Covid-19. ( Foto: Adrian Dennis / AFP )

Penjualan Mobil Baru di Inggris Anjlok Hampir 30%

Kamis, 7 Januari 2021 | 07:08 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Penjualan mobil baru di Inggris pada 2020 anjlok ke level terendah dalam hampir 30 tahun. Ketidakpastian Brexit dan dampak pandemi Covid-19 adalah dua penyebab utamanya.

Society of Motor Manufacturers and Traders (SMMT) dalam laporannya Rabu (6/1) menyebutkan, penjualan mobil baru anjlok 29,4% dibandingkan 2019 menjadi 1,63 juta unit kendaraan baru. Ini adalah level terendah sejak 1992.

Sektor otomotif Inggris menderita kerugian 20,3 miliar pound atau setara US$ 27,7 miliar sepanjang tahun lalu, karena dua penyebab utama tersebut. Faktor penyebab lainnya adalah rencana pemerintah Inggris untuk melarang penjualan mobil diesel dan mobil bensin mulai 2030. Karena Inggris bertekad mencapai netralitas karbon pada pertengahan abad ini.

“Tahun 2020 adalah tahun kerugian bagi otomotif. Hampir sepanjang tahun sektor ini mengalami shutdown akibat pandemi dan ketidakpastian tentang persyaratan perdagangan di masa depan dengan UE,” ujar CEO SMMT Mike Hawes, seperti dikutip AFP.

Ia berharap 2021 menjadi tahun pemulihan seiring bergulirnya program vaksinasi Covid-19 dan tercapainya hubungan baru dengan UE.

Hawes juga melihat sisi positif lain di kalangan pemanufaktur. Yakni rekor jumlah mobil listrik yang akan dipasarkan hingga beberapa bulan ke depan.

Namun ia mengingatkan bahwa penerapan karantina nasional kedua mulai pekan ini, untuk mengendalikan penyebaran varian baru Covid-19, akan berdampak berat terhadap perdagangan dalam beberapa bulan ke depan.

SMMT menyambut baik kesepakatan perdagangan Brexit. Industri mobil Inggris, yang kebanyakan sudah menjadi milik asing, sebelumnya mengingatkan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan akan berdampak pada kenaikan biaya-biaya. Sehingga laba akan tergerus dan rantai pasokan akan terganggu.

Nissan sebagai salah satu produsen mobil, asal Jepang, yang berproduksi di Inggris menyambut baik kesepakatan tersebut. Tapi belum mengindikasikan apa yang akan terjadi dengan pabrik terbesarnya di Eropa, yang berlokasi di kota Sunderland, Inggris timur laut. Nissan sebelumnya menyatakan nasib pabrik tersebut ditentukan oleh ada tidak adanya kesepakatan Brexit.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN