Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS), Lloyd Austin saat menggelar jumpa pers di Pentagon, Washington, DC., pada 18 Agustus 2021. ( Foto: OLIVIER DOULIERY / AFP )

Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS), Lloyd Austin saat menggelar jumpa pers di Pentagon, Washington, DC., pada 18 Agustus 2021. ( Foto: OLIVIER DOULIERY / AFP )

Pentagon Perintahkan Maskapai Bantu Evakuasi

Senin, 23 Agustus 2021 | 06:22 WIB
Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Minggu (22/8) memerintahkan maskapai-maskapai besar untuk membantu evakuasi puluhan ribu warga Afghanistan maupun warga negara asing dari Kabul. Pentagon menyatakan bahwa Menteri Pertahanan (Menhan) Lloyd Austin telah mengaktifkan Armada Udara Cadangan Sipil atau Civil Reserve Air Fleet (CRAF) -yang jarang digunakan- untuk membantu pergerakan lanjutan orang-orang yang nantinya tiba di pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah.

“Kemampuan Dephan untuk meluaskan kekuatan militer sangat tak terkait dengan industri komersial, yang (dapat) menyediakan kapasitas transportasi di saat kritis dan jaringan global untuk memenuhi kebutuhan darurat hari demi hari,” bunyi pernyataan Dephan AS, seperti dikutip AFP.

Disebutkan bahwa delapan belas pesawat sipil dari American Airlines, Atlas, Delta, Omni, Hawaiian, dan United akan membantu lusinan angkutan kargo militer dalam operasi evakuasi itu.

Pesawat-pesawat tersebut tidak akan terbang langsung keluar masuk Kabul. Tapi dipakai untuk mengangkut orang-orang dari pangkalan AS di Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab (UEA) ke negara-negara di Eropa. Sebagian juga akan langsung menuju AS.

Dengan mengerahkan ribuan pasukan untuk mengamankan Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, pemerintah AS menetapkan batas waktu untuk merampungkan misi evakuasi terbesar yang pernah dilakukan Pentagon itu pada 31 Agustus 2021.

Menurut Presiden AS Joe Biden, terdapat hingga 15.000 warga negara AS yang harus diterbangkan dari Afghanistan. Pemerintah AS, ujar dia, ingin mengangkut setidaknya 50.000 warga Afghanistan dan para anggota keluarganya yang sekutu AS untuk dapat keluar dari negara tersebut.

Pemerintah AS dikritik sana sini karena kacaunya upaya menerbangkan warga Afghanistan maupun warga negara asing itu. Setelah kekuasaan di Afghanistan jatuh lagi ke tangan Taliban. Biden mengingatkan bahwa usaha untuk menerbangkan warga AS, warga asing lainnya, maupun warga Afghanistan yang sekutu itu berbahaya.

Situasinya bertambah pelik setelah pemerintah AS pada Sabtu (21/8) mengingatkan warganya untuk menjauh dari bandara karena ada ancaman-ancaman keamanan. Tetapi tidak menjelaskan apa saja.

Pentagon pada Sabtu menyatakan bahwa sejauh ini sudah 17.000 orang yang diangkut, sejak misi evakuasi ini dilakukan pada 14 Agustus 2021. Kebanyakan penerbangannya menuju Qatar atau Kuwait. Termasuk di antaranya adalah 2.500 warga AS.

Dalam sejarahnya CRAF baru dua kali pernah diaktifkan. Yakni saat mengangkut pasukan untuk Perang Teluk 1990-1991 dan pada 2002-2003 untuk invasi ke Irak.

Salahkan AS

Sementara itu, Taliban pada Minggu menyalahkan AS atas kacaunya evakuasi puluhan ribu orang tersebut. Satu pekan setelah kelompok garis keras ini kembali berkuasa dalam sebuah pergerakan kilat yang mengagetkan seluruh dunia.

Uni Eropa (UE) sebelumnya mengakui bahwa mustahil untuk mengevakuasi semua orang yang dapat dikatakan terancam oleh Taliban. Walaupun kelompok ini bertekad untuk lebih lembut, dibandingkan saat berkuasa pada 1996-2001.

Tapi sebagian warga Afghanistan yang ketakutan dengan kembalinya mereka ke tampuk kekuasaan berusaha untuk keluar dari negaranya. Alhasil terjadi kekacauan di bandara Kabul. AS dan sekutu-sekutunya kewalahan untuk menangani sangat banyak orang yang ingin cepat-cepat terbang keluar dari Afghanistan.

“Amerika, beserta seluruh kekuatan dan fasilitasnya tidak mampu mengatasi keadaan di bandara. Di seluruh penjuru negeri situasinya damai dan tenang. Hanya di bandara Kabul saja yang kacau,” ujar juru bicara Taliban Amir Khan Mutaqi.

Kementerian Pertahanan Inggris pada Minggu menyebutkan tujuh orang tewas dalam kekacauan itu. Tapi tidak memberi penjelasan lebih lanjut.

Seorang wartawan, yang beruntung bersama kelompok pekerja media dan ilmuwan berhasil mencapai bandara dengan bus pada Minggu, menggambarkan bagaimana orang-orang yang resah gelisah mengerumuni busnya saat masuk bandara.

“Mereka sambil mengacungkan paspornya dan berteriak-teriak kami ikut-kami ikut, tolong bawa kami juga. Pejuang Taliban di atas truk di depan kami sampai harus melepaskan tembakan ke udara untuk memecah kerumunan itu,” kata dia, kepada AFP.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN