Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang pejalan kaki mengenakan masker tengah melewati kantor cabang Bank HSBC di pusat kota London. ( Foto: DANIEL LEAL-OLIVAS / AFP )

Seorang pejalan kaki mengenakan masker tengah melewati kantor cabang Bank HSBC di pusat kota London. ( Foto: DANIEL LEAL-OLIVAS / AFP )

Penurunan Laba HSBC Tidak Seburuk Perkiraan

Rabu, 28 Oktober 2020 | 07:46 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

HONG KONG, investor.id – Raksasa perbankan Inggris HSBC melaporkan penurunan laba 46% per tahun pada Kuartal III-2020. Kontraksi tersebut disebabkan oleh pandemi virus corona Covid-19 dan meningkatnya ketegangan Tiongkok-Amerika Serikat (AS). Meski demikian penurunannya tidak seburuk yang diperkirakan beberapa analis.

HSBC pun memprediksi kerugian kredit berada di paling bawah dari kisaran US$ 8 miliar hingga US$ 13 miliar yang diumumkan sebelumnya.

Menurut laporan, perlambatan ekonomi global yang disebabkan oleh virus corona telah menghantam raksasa perusahaan keuangan ini dengan keras. Bahkan ada optimisme terbatas yang segera muncul, mengingat Eropa dan Amerika Serikat (AS) sedang menuju musim dingin, disertai kasus infeksi yang melonjak lagi.

HSBC juga dilanda kekhawatiran lebih lanjut soal ketegangan politik, mengingat statusnya sebagai saluran bisnis utama antara Tiongkok dan Barat. Akibatnya, pihak kreditur berada di tengah perombakan global yang bertujuan memangkas sekitar 35.000 pekerjaan pada 2022, terutama di divisi Eropa dan Amerika yang kurang menguntungkan.

“Kami mempercepat transformasi grup, memindahkan fokus kami dari lini bisnis suku bunga yang sensitif ke bisnis yang menghasilkan biaya, dan selanjutnya mengurangi biaya operasional kami,” ujar CEO Noel Quinn dalam pernyataan yang menyertai laporan.

Pernyataan HSBC menyebutkan, laba setelah pajak yang dilaporkan untuk Kuartal III mencapai US$ 2 miliar, sementara pendapatan turun 11% menjadi US$ 11,9 miliar. Laba sebelum pajak yang disesuaikan juga turun 21% menjadi US$ 4,3 miliar pada periode tersebut, dan melampaui perkiraan analis Bloomberg sebesar US$ 2,8 miliar.

Quinn menjelaskan, angka terbaru sebagai hasil menjanjikan dengan latar belakang dampak lanjutan Covid-19 pada ekonomi global, serta tingat suku bunga rendah.

Sementara itu dalam enam bulan pertama 2020, laba setelah pajak HSBC turun 69%. Ini berarti hasil Kuartal III menunjukkan sesuatu yang lebih baik, karena beberapa negara dengan kekuatan ekonomi besar telah melonggarkan beberapa aturan pembatasan virus corona mereka.

HSBC menyatakan, dewan direksi bakal mempertimbangkan apakah akan membayar “dividen konservatif” untuk 2020 berdasarkan hasil akhir tahun, dan bagaimana ekonomi global terlihat pada awal 2021.

Pasalnya, pada awal tahun ini regulator Inggris telah meminta bank-bank Inggris untuk membatalkan pembayaran dividen 2020 guna menjaga modal selama krisis pandemi. HSBC sendiri tercatat menghasilkan 90% keuntungannya di Asia, di mana Tiongkok dan Hong Kong menjadi pendorong utama pertumbuhan.

Lebih Rentan

Alhasil, HSBC mendapati dirinya lebih rentan dibandingkan kebanyakan perselisihan yang disebabkan oleh semakin agresifnya hubungan Tiongkok dan AS. HSBC telah berusaha untuk tetap berada dalam hubungan baik dengan Tiongkok.

Mereka juga mendukung undang-undang keamanan nasional yang tegas yang diberlakukan Tiongkok i Hong Kong pada Juni, yang bertujuan mengakhiri satu tahun kerusuhan dan protes pro-demokrasi. Walau langkah tersebut memicu kritik di AS dan Inggris, para analis melihatnya sebagai upaya untuk melindungi aksesnya ke Tiongkok.

“Risiko geopolitik, terutama yang berkaitan dengan perdagangan dan ketegangan lainnya antara AS dan Tiongkok tetap tinggi,” demikian pernyataan HSBC dalam laporan laba rugi yang dirilis Selasa.

Menurut catatan, AS telah memberikan sanksi kepada hampir belasan pejabat penting Hong Kong dan Tiongkok atas undang-undang keamanan nasional, serta meminta bank internasional untuk berhenti berbisnis dengan mereka.

Namun, undang-undang keamanan nasional Tiongkok yang melarang bisnis di Hong Kong untuk mematuhi rezim sanksi asing telah membuat banyak orang berada dalam posisi ketat peraturan yang tidak jelas.

“Investor dan sentimen bisnis di beberapa sektor di Hong Kong tetap lemah. Ketegangan yang berkelanjutan dapat mengakibatkan perdagangan dan aturan lingkungan semakin terfragmentasi,” kata HSBC dalam pernyataannya.

HSBC juga menyoroti ketidakpastian atas penarikan Inggris dari Uni Eropa sebagai hambatan potensial lainnya. Pembicaraann terkait kesepakatan perdagangan pasca-Brexit hanya menghasilkan sedikit kemajuan, dengan tenggat waktu 31 Desember semakin dekat.

“Ada risiko biaya ECL (expected credit losses/kerugian kredit yang diharapkan) tambahan, terutama di Inggris pada Kuartal IV-2020, jika Inggris dan Uni Eropa gagal mencapai kesepakatan perdagangan,” kata bank tersebut.
 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN