Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deretan botol minuman anggur buatan Australia yang terpajang pada rak di sebuah toko di Beijing, Tiongkok pada 18 Agustus 2020. (Foto: NOEL CELIS / AFP )

Deretan botol minuman anggur buatan Australia yang terpajang pada rak di sebuah toko di Beijing, Tiongkok pada 18 Agustus 2020. (Foto: NOEL CELIS / AFP )

Perang Dagang Bayangan Tiongkok Ancam Australia

Sabtu, 28 November 2020 | 07:10 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SYDNEY, investor.id – Kebijakan tarif dagang baru Tiongkok terhadap Australia telah memicu kekhawatiran. Pekonomian Negeri Kangguru yang lemah karena pandemi virus corona Covid-19 sedang menjadi target balasan politik. Bahkan ada kemungkinan kedua negara itu terjerumus ke dalam perang dagang bayangan.

Seperti diketahui, Pemerintah Australia telah secara tegas meminta dilakukan penyelidikan tentang asal-usul dan penyebaran virus corona. Alhasil, sejumlah bisnis Australia di Tiongkok tertekan karena kumpulan lobster batu Australia berkerat-kerat dibiarkan membusuk di bandara Tiongkok. Tumpukan batu bara juga tertahan di pelabuhan-pelabuhan Negeri Tirai Bambu itu.

Kebijakan terbaru yang dikeluarkan Pemerintah Tiongkok pada Jumat (27/11), adalah mengenakan tarif hukuman untuk ekspor minuman anggur Australia hingga 212%, yang pada dasarnya menutup pasar senilai US$ 1 miliar.

Pakar perdagangan dari lembaga riset Perth USAsia Centre, Jeffrey Wilson mengatakan, terdapat 13 sektor yang telah ditargekan, yakni jelai (sejenis biji-bijian gandum), daging sapi, batu bara, tembaga, kapas, lobster, gula, kayu, pariwisata, universitas, anggur, gandum, dan wol.

Wilson memperkirakan total nilai barang Australia yang terancam mencapai sekitar US$ 40 miliar. Angka menggiurkan tersebut mewakili 12% dari keseluruhan ekspor Australia.

Terlepas adanya ketakutan, kemarahan, dan pembatasan yang mencolok, para pakar perdagangan mengungkapkan bahwa sejauh ini dampak ekonominya secara keseluruhan bagi Australia masih kecil.

“Jumlah industri yang terkena sanksi besar, tetapi dampak langsung terhadap perekonomian secara keseluruhan di Australia akan jauh lebih kecil,” ujar Wilson, seperti dikutip AFP.

Dia memperkirakan dampak ekonomi yang sebenarnya dapat mencapai US$ 2 miliar hingga US$ 4 miliar, dan mungkin lebih sedikit jika perusahaan yang terkena dampak mencari pasar ekspor lain.

Sementara itu, pembatasan daging sapi Australia hanya berdampak pada empat pabrik pengolahan daging, di mana tiga di antaranya bukan milik Australia.

Anjuran Tiongkok supaya para wisatawan dan mahasiswanya memboikot Australia pun hanya memunculkan ancaman terbatas, mengingat ada larangan virtual untuk bepergian ke Australia.

“Perlakuan terhadap batu bara merupakan sesuatu hal pada kali ini setiap tahun, karena Tiongkok memiliki kuota rendah atas impor batu bara. Ini adalah kuota tahun kalender, jadi Anda mulai bertabrakan dengan putaran kuota sekitar waktu ini,” kata Stephen Kirchner, pakar perdagangan dan investasi di Sydney University's United States Studies Centre.

Sedangkan dua sektor yang paling terpukul adalah jelai dan minuman anggur, di mana pasar ekspor Australia dapat terhapus seluruhnya. Langkah balasan ini masih mungkin terjadi bahkan jika Australia dan Tiongkok berteman baik.

Tujuan Keamanan

Scott Waldron dari University of Queensland yang telah mempelajari kebijakan tarif pertanian Tiongkok secara ekstensif, percaya bahwa sanksi tersebut berkaitan dengan tujuan keamanan Tiongkok, yakni untuk membentuk ekonominya sendiri dan melindungi lapangan kerja lokal.

Menurut laporan, Tiongkok telah mempertimbangkan untuk membatasi impor jelai Australia paling lambat sejak 2018. Hal itu dilakukan di tengah kekhawatiran bahwa Tiongkok – yang hanya memproduksi sekitar 20% dari jelai yang dibutuhkannya – terlalu bergantung pada impor.

“Situasinya sangat mirip. Tiongkok memiliki kebijakan industri yang sangat aktif untuk minuman anggur selama lebih dari satu dekade, dan badan industri yang semakin tertarik untuk melindungi pasar dalam negeri dari impor,” ujar dia.

Waldron menunjukkan preseden dalam penggunaan subsidi domestik dan kuota impor Tiongkok untuk mengurangi ketergantungan pada jagung AS, dari 90% yang rentan diimpor menjadi sekitar 9% saat ini.

“Ada alasan kebijakan perdagangan dan industri dalam negeri mengapa mereka melakukan hal-hal tersebut,” tambah dia.

Meskipun hal itu mungkin merugikan perusahaan individu Australia, biaya yang lebih tinggi untuk Australia mungkin bersifat politis – sehingga dijadikan contoh oleh mitra dagang terbesarnya.

“Ini benar-benar tentang mengirim pesan ke negara lain. Tutup mulutmu atau kami akan melakukan padamu apa yang kami lakukan ke Australia,” kata Wilson.

Secara resmi, Tiongkok menyatakan bahwa perselisihan itu bersifat teknis dan tidak terkait. Tetapi melalui kebocoran dan komentar media pemerintah, Tiongkok telah mengisyaratkan bahwa masalah perdagangan adalah hasil dari apa yang disebut oleh surat kabar Global Times sebagai “hubungan Tiongkok-Australia yang memburuk”.

“Mereka tidak akan pernah menarik hubungan itu secara eksplisit. Tapi mereka melakukan cukup banyak untuk menggambarkannya secara implisit,” kata Kirchner.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN