Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aplikasi video TikTok dari Tiongkok, dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. ( Foto: JIM WATSON, LIONEL BONAVENTURE / AFP )

Aplikasi video TikTok dari Tiongkok, dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. ( Foto: JIM WATSON, LIONEL BONAVENTURE / AFP )

Perang Teknologi AS-Tiongkok Mengubah Asas Bisnis Global

Jumat, 25 September 2020 | 06:57 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Perang teknologi yang dilancarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Tiongkok telah mengubah aturan dasar dalam menjalankan bisnis global. Hal ini juga semakin menegaskan realitas politik baru yang dapat berdampak negatif bagi perusahaan-perusahaan Amerika.

Langkah Gedung Putih melawan aplikasi populer Tiongkok, TikTok dan WeChat serta sanksi-sanksi keras terhadap perusahaan teknologi Huawei, menyoroti perjuangan untuk meraih supresmasi teknologi antara dua negara adidaya, dengan kedok isu keamanan nasional.

Sebelumnya hubungan ekonomi telah diguncang oleh serangan luar biasa dari Trump yang mengenakan kebijakan tarif, ancaman-ancaman larangan dan sanksi-sanksi ekonomi atas perusahan teknologi Tiongkok.

“Intinya adalah perjuangan untuk mendominasi teknologi yang muncul. Negara yang berhasil akan mendapatkan keuntungan ekonomi dan geopolitik yang sangat besar,” ujar Doug Barry dari Dewan Bisnis AS-Tiongkok atau US-China Business Council, Kamis (24/9) seperti dikutip oleh AFP.

Namun banyak analis berpendapat bahwa tindakan Trump dapat menjadi bumerang bagi sektor teknologi AS dan bisnis Amerika lainnya karena bakal mendorong Tiongkok, dan negara-negara lain untuk memberikan respons dengan cara yang sama.

“Tindakan Trump terhadap TikTok, dan perusahaan Tiongkok lainnya mengikis kepercayaan pada kepemimpinan AS. Proses kecil yang terkait dengan perintah eksekutifnya soal TikTok, dan penjualan paksa perusahaan kepada investor Amerika telah menjadi preseden buruk bagi negara lain. Hal itu memungkinkan mereka untuk berani membalas terhadap perusahaan-perusahan AS dengan menuntut pembayaran aras kemampuan beroperasi di perbatasan negara mereka sendiri,” kata Darrell West, yang mengepalai Brookings Institution's Center for Technology Innovation atau Pusat Inovasi Teknologi Brookings Institution.

Menuju Kronisme

Bahkan lebih buruk lagi, lanjut dia, Trump tampaknya bergerak menuju kapitalisme kroni dengan menjadi perantara kesepakatan yang menguntungkan teman dan sekutunya, seperti Oracle – yang mana Larry Ellison, sebagai pendiri perusahaan itu, adalah penggalang dana utama untuk presiden.

Kendati surat kabar harian bisnis Wall Street Journal (WSJ) mendukung presiden untuk isu lain, unggahan tajuknya pada bulan ini sangat pedas sehubungan dengan usulan kesepakatan untuk transfer kendali TikTok dari induknya di Tiongkok ke Oracle dan Walmart.

“Mungkin kesepakatan itu akan melindungi keamanan nasional seperti yang diklaim oleh pemerintahan Trump, tetapi hal tersebut beraroma kronisme perusahaan yang akan merusak kredibilitas dan reputasi Pemerintah AS mengenai aturan pasar bebas,” demikian lapor WSJ.

Menurut Benedict Evans, seorang investor yang menulis blog tentang industri teknologi, kesepakatan TikTok yang rumit sedang dipromosikan oleh pemerintahan Trump sebagai latar belakang untuk mendorong keamanan nasional. Hal ini menjadikan seluruh kisan bagaikan sebuah lelucon.

“Mengesampingkan kekacauan – apakah ini menyelesaikan? Ini adalah pemerasan, juga penghinaan penurunan. (Presiden Vladimir) Putin melakukan ini di Rusia sepanjang waktu, tetapi mengelolanya jauh lebih baik,” demikian tulis Evans.

Logo Huawei pada acara Huawei Connect Conference di Shanghai, Tiongkok pada 23 September 2020. ( Foto: STR / AFP )
Logo Huawei pada acara Huawei Connect Conference di Shanghai, Tiongkok pada 23 September 2020. ( Foto: STR / AFP )

Bisnis Resah

Di sisi lain, aturan dasar baru telah memicu kekhawatiran di antara para pemimpin perusahaan yang dipaksa untuk beradaptasi dengan pemandangan politik baru.

“Begitu Anda mulai melemparkan granat tentang proteksionisme, dan begitu Anda mulai mengubah hal-hal ini menjadi pertanyaan politik maka perubahan itu mencegah kegiatan perdagangan alami,” ujar Barry Diller, ketua perusahaan induk teknologi IAC, kepada televisi CNBC.

Sedangkan Edward Alden dari Council on Foreign Relations, menyebutkan bahwa drama itu dapat merugikan kepentingan AS karena menghalangi investasi asing.

“Kesepakatan untuk TikTok dilakukan di antara teman-teman presiden, tanpa transparansi yang lazim dan konsistensi peraturan yang secara sejak lama menjadi ciri perlakuan AS terhadap investor asing. Itu yang mungkin membuat khawatirkan investor dari negara lain. Mereka akan khawatir karena tidak tahu lagi aturan apa yang ada di AS,” tutur dia.

Sementara itu Roger Kay, analis dan konsultan dari Endpoint Technologies Associates, mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan teknologi Amerika telah lama mendapat manfaat dari perdagangan bebas dan rantai pasokan global. Kini manfaat tersebut sedang diganggu oleh pertempuran AS-Tiongkok.

“Ada banyak jaringan saling terkait yang telah diganggu oleh perang di Tiongkok, yang bagi saya tampaknya dipahami dengan buruk. Pandangan saya, perdagangan bebas adalah perdagangan yang benar, dan kita telah kehilangan banyak hal itu melalui tarif dan hal-hal lain. Tindakan presiden ini pada akhirnya memiskinkan semua orang,” kata Kay.

Adapun salah satu konsekuensi dari konflik, yakni langkah AS untuk melarang WeChat – sebuah aplikasi multiguna Tiongkok yang sangat populer untuk olahpesan, belanja, pembayaran, dan layanan lainnya – bakal memperlihatkan penurunan penjualan iPhone di Negeri Tirai Bambu karena Apple dipaksa untuk menghapusnya dari pasar daring (online).

Menurut Eswar Prasad - ekonom Cornell University dan spesialis kebijakan perdagangan – konflik itu tampaknya akan meningkat, seraya mencatat langkah terbaru Tiongkok untuk membatasi ekspor teknologi tertentu.

“Ini menunjukkan bahwa kedua negara akan menggunakan setiap instrumen yang tersedia untuk memajukan kepentingan komersial dan teknologi mereka, dan semua perusahaan yang beroperasi di ruang ini berisiko terjebak dalam permusuhan bilateral tersebut,” ujar Prasad.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN