Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sejumlah orang tampak mengantre untuk menarik uang dari mesin anjungan tunai mandiri (ATM) Bank Myawaddy di Yangon, Myanmar,  pada 23 Februari 2021. ( Foto: Sai Aung Utama / AFP )

Sejumlah orang tampak mengantre untuk menarik uang dari mesin anjungan tunai mandiri (ATM) Bank Myawaddy di Yangon, Myanmar, pada 23 Februari 2021. ( Foto: Sai Aung Utama / AFP )

Perbankan Myanmar Diduga Kekurangan Uang Pasca Kudeta Militer

Rabu, 24 Februari 2021 | 11:16 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

YANGON, investor.id – Perbankan di Myanmar dikabarkan mengalami kekurangan uang pasca kudeta militer. Desas-desus ini memicu antrean panjang di salah satu bank milik militer di Yangon, sejak fajar menyingsing. Para nasabah Bank Myawaddy terlihat mengantre sejak pagi, sebelum operasional bank dibuka, dengan perasaan cemas. Sebelumnya pihak berwenang telah menerapkan auran pembatasan baru yang ketat dalam penarikan uang tunai harian.

Bank Myawaddy termasuk di antara sejumlah bisnis yang dikendalikan militer di Myanmar, yang tengah menghadapi tekanan boikot sejak para jenderal menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dari kekuasaan pada 1 Februari.

Aksi protes nasional tersebut menyrukan para karyawan – termasuk pekerja bank – untuk bolos kerja, dan mendadak menghentikan operasional sektor perbankan yang sangat didominasi oleh militer dan kroninya menjelang gaji bulanan pada Jumat (26/2).

Bagi mereka yang membutuhkan uang tunai, kondisi itu jelas tidak membantu karena tidak ada informasi pasti yang dikeluarkan. Di pusat komersial Yangon, bank-bank swasta sebagian besar tetap tutup, sementara bank pemerintah tampak sebagian buka. Upaya untuk mendapatkan uang tunai dari anjungan tunai mandiri atau ATM pun sepertinya juga tidak berarti.

“Ketidakpastian telah memicu kekhawatiran kekurangan uang tunai. Karena ada desas-desus tentang bank ini, saya datang untuk menarik uang saya,” ujar Tun Naing, seorang pengusaha berusia 43 tahun yang antre setiap hari selama sepekan terakhir demi menarik enam juta kyat Myanmar atau setara sekitar US$ 4.500 dari rekeningnya di bank Myawaddy, kepada AFP.

Sebagai informasi, meskipun menjadi bank domestik terbesar keenam di Myanmar, Myawaddy hanya mengizinkan 200 nasabah per cabang untuk melakukan penarikan terbatas hingga 500.000 kyat sehari (US$ 370). Tidak heran, banyak nasabah yang rela datang sangat pagi agar mendapat antrean terdepan.

“Beberapa orang tinggal di hotel terdekat mengantre lebih awal untuk mendapatkan uang,” tambah Tun Naing.

Terlepas dari jadwal pembukaan bank yang tidak teratur di seluruh Yangon, sebuah pemberitahuan di surat kabar milik pemerintah New Light of Myanmar menyatakan bahwa layanan harian masih disediakan.

“Warga diminta untuk mengambil bagian dalam proses ini untuk memastikan stabilitas ekonomi negara,” demikian bunyi pemberitahuan Bank Sentral.

Sedangkan Pakar Bisnis Internasional Htwe Htwe Thein dari Australia's Curtin University mengatakan, sementara risiko kekurangan uang tunai di negara itu tinggi, jangka waktunya tidak dapat diprediksi. “Di masa lalu di bawah pemerintahan militer sebelumnya, mereka dikenal sebagai pencetak uang dan itu tentu saja meningkatkan inflasi,” tuturnya kepada AFP.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN