Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mata uang kripto, bitcoin. ( Foto: Getty Images )

Mata uang kripto, bitcoin. ( Foto: Getty Images )

Peretas Korut Curi Aset Kripto Senilai US$ 400 Juta di 2021

Sabtu, 15 Januari 2022 | 08:09 WIB
Grace El Dora

JAKARTA, Investor.id - Peretas asal Korea Utara (Korut) mencuri mata uang kripto senilai kurang lebih US$ 400 juta melalui serangan siber pada sejumlah platform mata uang digital tahun lalu, demikian disampaikan platform data blockchain Chainalysis, Jumat (14/1/2021).

Korut sendiri saat ini masih dikenakan berbagai sanksi internasional atas pengembangan senjata nuklir dan rudal balistiknya. Salah satunya sanksi baru dari Pemerintah AS pekan lalu, menyusul langkah uji coba rudal hipersonik pada 5 dan 11 Januari.

Tetapi para analis mengatakan negara tersebut juga telah membangun kemampuan siber, dengan ribuan tentara peretas terlatih yang mampu mengekstraksi produk finansial untuk mendanai program senjata mereka.

Pada 2021 para peretas Korea Utara meluncurkan tujuh serangan pada platform kripto, mengekstraksi aset dari 'hot wallet' atau semacam buku rekening kripto. Rekening ini terhubung ke internet dan dapat dipindahkan ke akun yang dikendalikan oleh Korea Utara, demikian Chainalysis yang dikutip AFP.

"Begitu Korea Utara bisa menguasai dana tersebut, mereka akan memulai proses pencucian dana dengan hati-hati untuk mengelabui dan berikutnya menguangkannya," kata Chainalysis dalam sebuah laporan yang diterbitkan di situsnya, Jumat.

"Taktik dan teknik kompleks ini telah membuat banyak peneliti keamanan menggolongkan aktor siber dari Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) sebagai ancaman laten yang canggih," lanjutnya.

Laporan tersebut menyoroti kebangkitan Lazarus Group yang menjadi terkenal pada 2014. Kelompok ini dituduh telah meretas konglomerat media massa dan produsen film Sony Pictures Entertainment sebagai balas dendam untuk "The Interview", sebuah film satir yang mengejek pemimpin Kim Jong Un.

"Sejak 2018, kelompok tersebut telah mencuri dan mencuci sejumlah besar mata uang virtual setiap tahun, biasanya lebih dari US$ 200 juta," jelas laporan tersebut.

Para peretas juga menargetkan beragam mata uang kripto. Bitcoin, mata uang digital terbesar di dunia, hanya menyumbang seperempat dari aset yang dicuri. “Berkembangnya variasi mata uang kripto yang dicuri telah meningkatkan kompleksitas operasi pencucian kripto oleh DPRK,” kata Chainalysis.

Program siber Korut dimulai setidaknya pada pertengahan 1990-an. Tetapi sejak itu aksinya di dunia maya telah berkembang menjadi unit perang siber berkekuatan 6.000 orang, yang dikenal sebagai Bureau 121. Kelompok besar ini beroperasi dari beberapa negara termasuk Belarusia, Tiongkok, India, Malaysia, dan Rusia, menurut laporan militer Amerika Serikat (AS) pada 2020.

 

 

 

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN