Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, Mark Lowcock. ( Foto: EFE-EPA / Salvatore Di Nolfi )

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, Mark Lowcock. ( Foto: EFE-EPA / Salvatore Di Nolfi )

Permintaan Bantuan Darurat PBB Membengkak karena Covid-19

Rabu, 2 Desember 2020 | 07:17 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JENEWA, investor.id – Permintaan anggaran bantuan darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa dilaporkan membengkak karena pandemi virus corona Covid-19. PBB mengatakan membutuhkan bantuan sebesar US$ 35 miliar pada 2021 untuk mengatasi krisis yang dialami lebih dari puluhan juta orang, dan meningkatnya berbagai risiko kelaparan.

PBB mengungkapkan besaran bantuan US$ 35 miliar yang diajukan akan cukup untuk membantu 160 juta orang yang paling rentan di 56 negara.

Laporan tahunan dari Tinjauan Kemanusiaan Global atau Global Humanitarian Overview memperkirakan 235 juta orang di seluruh dunia membutuhkan beberapa bentuk paket bantuan darurat pada tahun depan. Peningkatan 40% pada tahun lalu itu disebut mengejutkan.

“Peningkatan itu hampir seluruhnya disebabkan oleh Covid-19. Gambaran yang kami sajikan adalah perspektif paling suram dan tergelap tentang kebutuhan kemanusiaan dalam periode mendatang yang pernah kami tunjukkan,” ujar Koordinator bantuan darurat PBB Mark Lowcock kepada wartawan, seperti dikutip AFP, pada Selasa (1/12).

Menurut laporan PBB, tahun depan terdapat satu dari 33 orang di seluruh dunia yang kan membutuhkan bantuan. Catatan ini menekankan bahwa, jika orang-orang itu tinggal di satu negara maka akan menjadi negara terbesar kelima di dunia.

Umumnya seruang tahunan yang digaungkan oleh badan-badan PBB dan organisasi kemanusiaan lainnya memperlihatkan gambaran menyedihkan tentang melonjaknya kebutuhan yang disebabkan oleh konflik, pengungsian, bencana alam dan perubahan iklim.

Tetapi sekarang PBB memperingatkan bahwa pandemi virus corona – yang merenggut 1,45 juta jiwa di seluruh dunia – telah secara tidak proporsional melanda masyarakat yang “sudah hidup di ujung tombak.”

Tanda Bahaya

Untuk pertama kalinya sejak 1990-an, angka kemiskinan ekstrem akan meningkat dan harapan hidup akan turun. Sementara itu, angka kematian tahunan akibat HIV, tuberkulosis, dan malaria berpotensi berlipat ganda.

“Mungkin hal yang paling mengkhawatirkan adalah ancaman kembalinya kelaparan di banyak lokasi,” kata Lowcock.

Menurut Lowcock, satu-satunya kelaparan massal sebenarya di abad ke-21 – di Somalia yang berlangsung hampir satu dekade lalu – tampaknya telah menjadi “sampah sejarah”. Tapi sekarang, dia memperingatkan bahwa lampu merah telah berkedip dan tanda bahaya berbunyi.

Tercatat pada akhir 2020, jumlah orang yang mengalami rawan pangan di seluruh dunia dapat membengkak hingga 270 juta atau naik 82% dari jumlah sebelum Covid-19 melanda.

“Kondisi di Yaman, Burkina Faso, Sudan Selatan, dan Nigeria timur laut mengindikasikan bahwa negara-negara itu sudah berada di ambang kelaparan. Sejumlah negara dan wilayah lain, termasuk Afghanistan dan Sahel, juga berpotensi sangat rentan. Jika kita melewati 2021 tanpa kelaparan besar, itu akan menjadi pencapaian yang signifikan,” demikian disampaikan Lowcock.

Seruan yang disampaikan PBB pada Selasa, menunjukkan bahwa Suriah dan Yaman – yang dilanda perang – berada di puncak daftar negara paling membutuhkan bantuan kemanusiaan.

PBB pun sedang mengupayakan dana hampir US$ 6 miliar untuk membantu jutaan warga Suriah di dalam dan di luar negeri yang dilanda konflik selama satu dekade. PBB juga meminta dana hampir US$ 3,5 miliar untuk membantu hampir 20 juta warga Yaman yang terperangkap dalam krisis kemanusiaan terburuk di dunia. 


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN