Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan di pabrik Xinwangda Electric Vehicle Battery Co Ltd, sedang merakit baterai lithium untuk mobil listrik dan keperluan lainnya, di Nanjing, provinsi Jiangsu, Tiongkok timur, pada 12 Maret 2021. ( Foto: STR / AFP )

Karyawan di pabrik Xinwangda Electric Vehicle Battery Co Ltd, sedang merakit baterai lithium untuk mobil listrik dan keperluan lainnya, di Nanjing, provinsi Jiangsu, Tiongkok timur, pada 12 Maret 2021. ( Foto: STR / AFP )

Permintaan Barang Tiongkok Melonjak

Sabtu, 10 April 2021 | 06:11 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BEIJING, investor.id – Harga-harga di tingkat pabrik Tiongkok mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun pada Maret 2021. Data yang dirilis Jumat (9/4) menyoroti pemulihan yang kuat di negara tersebut, tetapi menimbulkan kekhawatiran akan merembet ke ekonomi global, pada saat bank-bank sentral berjuang mempertahankan kebijakan moneter sangat longgar dan suku bunga rendah.

Setelah berhasil melewati krisis pandemi di awal kemunculannya tahun lalu, negara ekonomi kuat di Asia tersebut telah menikmati pemulihan secara menyeluruh dan menjadi satu-satunya negara ekonomi besar yang ekspansi pada 2020.

Lalu seiring meningkatnya peluncuran vaksinasi Covid-19 di pasar-pasar utamanya, permintaan akan barang-barang Tiongkok terus meningkat. Hal ini membuat harga naik di eksportir terbesar dunia itu.

Indeks harga produsen (IHP) Tiongkok, yang mengukur harga pokok barang di tingkat pabrik, meningkat melebihi perkiraan dari awal tahun 4,4%, bulan lalu, Biro Statistik Nasional (NBS) mengatakan.

Angka itu naik karena faktor-faktor seperti kenaikan harga komoditas internasional, termasuk minyak mentah dan bijih besi. "Peningkatan produksi industri dalam negeri dan permintaan investasi," kata ahli statistik senior NBS Dong Lijuan, yang dikutip AFP.

Kalangan analis memperkirakan kenaikan IHP mengingat dasar perbandingan yang rendah tahun lalu, ketika penguncian dan langkah kontrol ketat diberlakukan untuk membasmi Covid-19.

Para pengamat mengatakan, dengan Tiongkok sebagai pengekspor utama di dunia, kenaikan bisa menyulitkan bank sentral global.

Sebelumnya, bank-bank sentral telah mencoba meredam kekhawatiran akan lonjakan aktivitas ekonomi tahun ini yang mungkin mendorong inflasi. Kondisi ini memaksa mereka untuk menarik kembali kebijakan moneter akomodatif.

Tetapi kepala ekonom Nomura Tiongkok Lu Ting mencatat, kali ini lonjakan harga komoditas terutama didorong oleh pelonggaran moneter dan stimulus fiskal yang besar di luar Tiongkok, terutama di Amerika Serikat (AS).

"Sebagai pengekspor barang manufaktur terbesar di dunia, inflasi PPI yang lebih tinggi di Tiongkok pasti akan diteruskan ke ekonomi lain," katanya.

Yield Obligasi AS

Sementara itu, The Federal Reserve (The Fed) menegaskan kembali arah kebijakannya saat ini, bahwa meskipun inflasi naik tapi tidak akan lebih awal menaikkan suku bunga acuan.

Tetap saja, investor tidak sepenuhnya percaya. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah US mendekati level tertinggi selama satu tahun.

"Riset kami menemukan IHP Tiongkok memiliki korelasi positif yang tinggi dengan (harga konsumen) di AS. Data PPI yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memengaruhi penilaian masyarakat tentang tekanan inflasi di AS dan secara global. Dampak ini tidak boleh diremehkan," ujar Raymond Yeung dari Australia and New Zealand Banking Group (ANZ).

Ekonomi Tiongkok telah bangkit kembali sejak pihak berwenang mengendalikan sebagian besar wabah virus. Para pemimpin negara tersebut menetapkan target pertumbuhan 2021 di atas 6% sementara kampanye vaksinasi massal sedang berlangsung.

Dana Moneter Internasional (IMF) pekan ini juga menaikkan perkiraan pertumbuhannya untuk Tiongkok menjadi 8,4%, setelah ekonomi terbesar kedua di dunia itu menjadi satu-satunya ekonomi besar yang berkembang tahun lalu.

Data resmi Jumat menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) Tiongkok naik 0,4% sejak awal tahun hingga Maret. Harga beberapa jenis makanan seperti buah segar terus tumbuh, tetapi harga daging babi turun.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN