Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Cerobong-cerobong mengeluarkan asap dari pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara di provinsi Shanxi, Tiongkok Utara pada 17 Maret 2018. ( Foto: IC / caixinglobal.com )

Cerobong-cerobong mengeluarkan asap dari pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara di provinsi Shanxi, Tiongkok Utara pada 17 Maret 2018. ( Foto: IC / caixinglobal.com )

Permintaan Listrik Batu Bara Lebih Cepat Dibandingkan Energi Terbarukan

Jumat, 16 Juli 2021 | 06:31 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

PARIS, investor.id – Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) pada Kamis (15/7) memperingatkan, bahwa permintaan listrik mengalami pertumbuhan lebih cepat daripada peluncuran energi terbarukan. Kondisi ini mengarah pada lonjakan pengunaan batu bara yang sangat berpolusi, dan merusak upaya-upaya untuk mencapai netralitas karbon.

Permintaan listrik tahun ini diperkirakan tumbuh sebesar 5%. Angka ini jauh lebih besar dari penurunan 1% yang dialami tahun lalu akibat jatuhnya ekonomi global ke dalam resesi, yang didorong oleh aturan pembatasan untuk membendung pandemi virus corona Covid-19.

“Pembangkit listrik energi terbarukan terus tumbuh dengan kuat, tetapi tidak dapat memenuhi permintaan yang meningkat,” demikian laporan semi-tahunan pasar listrik yang dirilis Badan Energi Internasional, yang dikutip AFP.

Menurut IEA, produksi energi terbarukan mengalami peningkatan sebesar 7% pada 2020, dan pertumbuhannya pada tahun ini diprediksi sebesar 8% serta lebih dari 6% di tahun depan.

“Meskipun terjadi peningkatan pesat, energi terbarukan diperkirakan baru dapat melayani sekitar setengah dari proyeksi pertumbuhan permintaan global pada 2021 dan 2022,” katanya.

Hal itu, tambah IEA, bakal menyebabkan pembangkit-pembangkit listrik bahan bakar fosil untuk menutupi sekitar 45% dari permintaan tambahan tahun ini.

Pembangkit listrik tenaga batu bara yang emisinya sangat berbahaya bagi lingkungan dan berkontribusi terhadap pemanasan global, diproyeksikan melebihi tingkat pra-pandemi tahun ini. IEA pun meyakini angkanya dapat mencapai rekor tertinggi pada 2022.

Kenaikan itu akan mendorong peningkatan emisi CO2, gas yang berkontribusi terhadap pemanasan global, yang bisa mencapai rekor tertinggi pada 2022.

Sementara banyak negara yang semakin berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih pada pertengahan abad demi membatasi perubahan iklim, IEA menghitung bahwa untuk mencapai tujuan tersebut maka emisi dari sektor listrik harus diturunkan mulai sekarang. Di mana penggunaan batu bara perlu turun lebih dari 6% per tahun.

“Tindakan kebijakan yang lebih kuat diperlukan untuk mencapai tujuan iklim,” demikian laporan IEA, di saat negara-negara akan mengadakan pertemuan puncak iklim akhir tahun ini.

“Walaupun energi terbarukan tumbuh pada tingkat yang mengesankan, masih belum di tempat yang dibutuhkan untuk menempatkan kita di jalur untuk mencapai emisi nol bersih pada pertengahan abad ini. Untuk beralih ke lintasan yang berkelanjutan, kita perlu secara besar-besaran meningkatkan investasi dalam teknologi energi bersih – terutama energi terbarukan dan efisiensi energi,” demikian penjelasan Keisuke Sadamori, yang mengepalai pasar energi dan keamanan di IEA.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN