Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Asap mengepul dari Kilang Valero Houston di kota Houston, Texas, AS, pada 20 April 2020. Harga kontrak minyak mentah AS untuk pengiriman Mei 2020 anjlok ke teritori negatif, karena pasokan berkelebihan dan fasilitas-fasilitas penampungan sudah penuh. Yang berarti permintaan surut dan tidak ada pembeli. Pialang terpaksa harus membeli minyak fisik dari pialang lain supaya stoknya tidak meluap. (Foto: Mark Felix - AFP)

Asap mengepul dari Kilang Valero Houston di kota Houston, Texas, AS, pada 20 April 2020. Harga kontrak minyak mentah AS untuk pengiriman Mei 2020 anjlok ke teritori negatif, karena pasokan berkelebihan dan fasilitas-fasilitas penampungan sudah penuh. Yang berarti permintaan surut dan tidak ada pembeli. Pialang terpaksa harus membeli minyak fisik dari pialang lain supaya stoknya tidak meluap. (Foto: Mark Felix - AFP)

Permintaan Minyak Global Diprediksi Rebound Oktober

Rabu, 15 September 2021 | 08:26 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

PARIS, investor.id – Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan minyak global mengalami rebound pada bulan depan, setelah sempat turun selama tiga bulan berturut-turut akibat lonjakan kasus Covid-19 di Asia.

Laporan bulanan IEA yang dirilis pada Selasa (14/9), menyebutkan bahwa tingkat permintaan turun dari Juli setelah sempat rebound pada bulan sebelumnya. Penurunan ini dipimpin oleh berkurangnya permintaan dari Tiongkok sebagai konsumen minyak mentah utama.

“Permintaan minyak global masih di bawah tekanan dari varian Delta Covid-19 yang ganas di wilayah konsumen utama, terutama di beberapa bagian Asia,” demikian isi laporan yang dikutip AFP.

Permintaannya turun rata-rata 310.000 barel per hari (bph) selama tiga bulan hingga September. Tetapi, diperkirakan pulih pada Oktober dengan peningkatan 1,6 juta barel per hari (bph) dan terus meningkat hingga akhir tahun. Demikian dikatakan IEA yang memberikan sarang kepada negara-negara maju tentang kebijakan energi.

“Kabar terbaru di bidang Covid lebih optimis, karena kasus global turun dalam beberapa pekan terakhir, serta adanya kemajuan berkelanjutan dalam pembuatan dan injeksi vaksin, juga langkah-langkah jarak sosial yang mulai melonggar di banyak negara,” katanya.

Menurut laporan, permintaan minyak global tahun ini diproyeksikan meningkat sebesar 5,2 juta bph, sedikit lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Namun laju pertumbuhan 2022 akan sedikit lebih tinggi pada angka 3,2 juta bph.

IEA menambahkan, Badai Ida telah menimbulkan malapetaka di wilayah penghasil minyak utama di Pantai Teluk AS pada akhir Agustus, dan masih menyebabkan masalah bagi AS maupun pasar global.

“Instalasi-instalasi di lepas pantai dan kilang lambat untuk memulai kembali, sehingga memaksa penarikan besar-besaran stok minyak mentah dan produk di pasar utama. Baru pada awal 2022 pasokan akan cukup tinggi untuk memungkinkan stok minyak diisi ulang,” laporan IEA.

Sebelumnya pada Senin (13/9), Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) memperkirakan bahwa permintaan minyak global bakal melebihi tingkat pra-pandemi tahun depan, berkat peluncuran vaksin dan pemulihan ekonomi.

Perkiraan itu muncul karena negara-negara anggota OPEC dan sekutu-sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, mulai meningkatkan produksi minyak guna memenuhi permintaan yang mulai pulih.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN