Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Orang-orang melintasi logo Huawei yang terpampang di acara

Orang-orang melintasi logo Huawei yang terpampang di acara "Consumer Electronics Expo", di Beijing, Tiongkok pada 2 Agustus 2019. Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada 18 November 2019 memberikan tambahan waktu selama 90 hari kepada perusahaan-perusahaan untuk setop berbisnis dengan raksasa perusahaan telekomunikasi Huawei. ( Foto: AFP / Fred DUFOUR )

Setop Bisnis dengan Huawei

Perusahaan AS Diberi Tambahan 90 Hari

Happy Amanda Amalia, Rabu, 20 November 2019 | 13:25 WIB

WASHINGTON, investor.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Senin (18/11) waktu setempat memberikan tambahan waktu selama 90 hari kepada perusahaan-perusahaan untuk setop berbisnis dengan raksasa perusahaan telekomunikasi Tiongkok, Huawei. Walaupun keputusan pemerintah AS ini masih memberikan peluang bagi para penyedia layanan untuk terus memberikan layanan di daerah perdesaan.

“Perpanjangan itu bakal memungkinkan operator untuk terus melayani para pelanggan di beberapa daerah paling terpencil di Amerika Serikat yang mana jika tidak diteruskan akan menyebabkan wilayah tersebut gelap gulita. Departemen akan terus memantau ekspor teknologi sensitif guna memastikan bahwa inovasi kami tidak dimanfaatkan oleh mereka yang akan mengancam keamanan nasional kami,” ujar Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu Huawei mengatakan, keputusan yang dikeluarkan AS pada Senin tidak mengubah pandangan perusahaan bahwa AS telah memperlakukannya dengan tidak adil dan meminta pemerintahan Donald Trump untuk menghapus Huawei dari daftar hitam perusahaan teknologi asing.

Presiden Donald Trump pada Mei tahun ini secara efektif melarang Huawei berada di jaringan komunikasi Amerika, setelah Negeri Paman Sam mendapati perusahaan itu melanggar sanksi AS terhadap Iran dan berusaha menghalangi penyelidikan selanjutnya.

Para pejabat Amerika juga mengklaim Huawei sebagai peralatan mata-mata elektronik Tiongkok sehingga menjadikan peralatannya ancaman bagi keamanan nasional AS. Tapi tudingan itu telah dibantah oleh perusahaan.

Selain itu, Chief Financial Officer Huawei Meng Wanzhou – yang merupakan putri dari pendiri dan CEO perusahaan – yang ditangkap di Kanada pada tahun lalu, sedang diupayakan untuk diekstradisi ke Amerika Serikat atas tuduhan penipuan dan konspirasi terkait dengan sanksi AS. Bahkan, pertikaian soal Huawei itu mendarat tepat tengah-tengah pertempuran perdagangan Trump dengan Beijing.

Pada awalnya, para pejabat AS mengatakan tidak ada keterkaitan antara kedua isu karena tindakan yang dilakuka oleh Huawei semata-mata adalah mengenai penegakan hukum dan masalah keamanan nasional.

Tetapi Trump menunjukkan pandangan sebaliknya, resolusi untuk konflik perdagangan bisa melibatkan beberapa kesamaan yang berkenaan dengan Huawei.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Tiongkok Geng Shuang pun menolak memberikan tanggapan apakah negosiasi perdagangan dari kedua negara yang telah menghasilkan kemajuan sedang dalam masalah karena Huawei.

“Kami tidak meminta pemerintah asing untuk memberikan perlakuan khusus bagi perusahaan-perusahaan Tiongkok. Yang kami minta dari pemerintah asing adalah perlakuan yang sama bagi perusahaan-perusahaan Tiongkok, termasuk Huawei,” kata Geng dalam jumpa pers pada Selasa (19/11).

Dalam sebuah pernyataan, perusahaan telekomunikasi Tiongkok itu menyampaikan keputusan AS untuk memasukan ke dalam daftar hitamnya telah menyebabkan lebih banyak kerugian bagi AS ketimbang Huawei.

“Hal ini menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi perusahaan-perusahaan Amerika yang melakukan bisnis Huawei, dan telah mengganggu kerja sama dan merusak kepercayaan timbal balik yang bergantung pada rantai pasokan global. Kami menyerukan pemerintah AS untuk mengakhiri perlakuan tidak adil ini dan mengeluarkan Huawei dari daftar entitas,” tuturnya.

Menyusul nyaris runtuhnya pembicaraan dagang AS-Tiongkok pada Mei, AS menambahkan bahwa Huawei dimasukkan ke daftar hitam perusahaan yang secara efektif melarang mereka membeli teknologi AS tanpa persetujuan sebelumnya dari Pemerintah AS.

Tetapi, karena perusahaan-perusahaan mengatakan perlu waktu untuk mulai mematuhi perubahan maka Trump telah memberikan serangkaian penangguhan hukuman terbatas, yang menurut para pejabat hanya mengizinkan transaksi terbatas yang spesifik, yang melibatkan ekspor dan ekspor ulang. (afp)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA