Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen. ( Foto: Drew Angerer / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP )

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen. ( Foto: Drew Angerer / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP )

Pidato Yellen Menegaskan Kembalinya AS ke Panggung Dunia

Rabu, 7 April 2021 | 05:53 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Amerika Serikat (AS) diklaim telah kembali ke panggung dunia. Hal ini dinyatakan dalam pidato Menteri Keuangan (Menkeu) Janet Yellen, yang menegaskan bahwa segala sesuatu di AS akan berubah secara drastis – menyusul penerapan agenda kebijakan proteksionis empat tahun lalu oleh pemerintahan sebelumnya.

Para pejabat kabinet yang bertanggung jawab atas agenda ekonomi Presiden Joe Biden telah menetapkan prinsip-prinsip berani pada Senin (5/4) waktu setempat, dan sangat berbeda dibanding prioritas-prioritas pemerintahan yang lalu.

Salah satunya, hilangnya ancaman-ancaman atau unjuk kekuatan terhadap Tiongkok yang dilontarkan mantan presiden Donald Trump. Sebagai gantinya adalah kebijakan yang akan menerapkan daya saing di tempat yang seharusnya, berjalan secara kolaboratif ketika bisa, dan hanya menempatkan permusuhan sesuai peruntukannya.

Sebagai informasi, baik Trump dan mantan menkeu Steven Mnuhin kerap memanfaatkan mimbar sebagai instrumen tidak hanya untuk berkelahi dengan musuh tradisional, seperti Tiongkok, tetapi juga dengan sekutu-sekutu tradisional seperti Jerman.

Menanggapi tindakan pemerintahan di masa lalu, Yellen mengatakan (kebijakan) “Amerika First” jangan pernah diartikan bahwa “Amerika Sendiri”.

“Dengan menarik garis antara masa lalu dan masa kini, perbedaan terpenting hari ini adalah pengakuan mendasar bahwa kebijakan di dalam dan luar negeri harus dirancang agar inklusif, mengatasi ketidaksetaraan, dan menghormati lingkungan,” kata Yellen.

Pidato Global

Retorika yang disampaikan dengan berapi-api itu bukanlah pidato kebijakan biasa. Sebaliknya, ini pada dasarnya berfungsi sebagai pembuka tirai pertemuan musim semi Bank Dunia-Dana Moneter Internasional (IMF) yang berlangsung pada pekan ini.

Ada pun pesan yang disampaikan bahwa globalisasi dan peran AS yang dianggap sebagai pusat misi telah kembali populer.

“Selama empat tahun terakhir, kami telah melihat secara langsung apa yang terjadi ketika Amerika mundur dari panggung global. Amerika First tidak boleh berarti Amerika sendiri. Karena di dunia saat ini, tidak ada negara yang sendirian, yang mampu menyediakan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan untuk rakyatnya,” kata Yellen.

Yellen juga mengeluarkan kritikan lain terhadap pemerintahan sebelumnya. Tanpa menyebut nama Trump, dia mengkritik respons lambat dalam menangangi pandemi Covid-19. Gedung Putih dinilai telah gagal terlibat lebih awal untuk mengatasi krisis di luar perbatasan, yang dikatakan Yellen semakin memperburuk aspek ekonomi kian. Dia pun menekankan pentingnya tidak hanya menghentikan virus di dalam negeri, tetapi juga di negara lain.

Terlepas kritik politik yang tersisa soal penanganannya terhadap perdagangan global dan tarif yang diberlakukan secara luas, Biden telah menunjukkan sedikit perubahan dalam pendekatan itu. Dia juga membiarkan sebagian besar kebijakan tarif era Trump diteruskan. Lebih lanjut, tahun-tahun kepemimpinan Trump menunjukkan keuntungan ekonomi yang secara konsisten di atas tren, belum lagi pasar saham yang kuat. Namun bagi Yellen, pesan itu lebih dari sekadar angka.

Ekonomi Global Inklusif

Yellen juga berbicara tentang pentingnya mengembalikan para perempuan terlantar ke dunia kerja, dan menekankan pentingnya memberikan bantuan kepada kaum minoritas yang ikut terpukul secara tidak proporsional selama pandemi.

“Perubahan iklim adalah ancaman jangka panjang terbesar yang dihadapi dunia,” pungkas dia.

Secara keseluruhan, Yellen menuturkan bahwa tujuan pemerintah adalah untuk memerangi kemiskinan dan mempromosikan ekonomi global yang lebih inklusif yang sejalan dengan nilai-nilai kami.

Dari perspektif utama, dua proposal besar tersebut membuat negara kelompok G-20 menyetujui usulan pajak perusahaan global minimum dan tujuan lain, yang diumumkan pekan lalu, yakni persetujuan hak penarikan khusus (special drawing rights/SDR) senilai US$ 650 miliar untuk menyediakan uang dalam bentuk dolar AS kepada anggota IMF.
 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN