Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Boris Johnson. ( Foto: PIPPA FOWLES / 10 DOWNING STREET / AFP )

Boris Johnson. ( Foto: PIPPA FOWLES / 10 DOWNING STREET / AFP )

 Di Balik Kontroversi Dengan Spanyol

PM Inggris Singgung Ancaman Gelombang Kedua

Rabu, 29 Juli 2020 | 07:15 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

LONDON, investor.id – Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson pada Selasa (28/7) mengingatkan tentang ancaman gelombang kedua virus corona Covid-19 di Eropa. Di saat yang sama ia membela keputusan kontroversial untuk menerapkan karantina atas semua wisatawan yang datang dari Spanyol, meskipun ada kritik dari Pemerintah Spanyol.

Johnson berkeras Pemerintah Inggris telah mengambil tindakan cepat dan tegas pada akhir pekan lalu untuk memaksakan karantina 14 hari pada semua orang yang memasuki Inggris dari Spanyol, selaku tujuan wisata utama bagi warga Inggris.

Langkah itu kemudian dikritik oleh Pemerintah di Spanyol maupun di Inggris. PM Spanyol Pedro Sanchez menyebut keputusan itu tidak berimbang. Ia menegaskan wilayah-wilayah negaranya lebih aman dari virus dibandingkan daerah-daerah di Inggris.

Tetapi Johnson, dalam kunjungan ke wilayah tengah Inggris mengatakan, keputusan itu adalah langkah yang benar.

"Apa yang harus kita lakukan adalah mengambil tindakan cepat dan tegas, di mana kita berpikir risikonya mulai kembali menggelembung. Mari kita menjadi sangat jelas tentang apa yang terjadi di Eropa, di antara beberapa teman Eropa kita, saya khawatir Anda mulai melihat di beberapa tempat tanda-tanda gelombang kedua pandemi," katanya di kota Nottingham, Selasa, seperti dilansir dari AFP.

Namun Johnson juga mengindikasikan bahwa periode karantina dapat dilonggarkan. Menjawab pertanyaan apakah mungkin karantina dikenakan selama 10 hari dan bukan 14 hari, Johnson mengatakan Pemerintah Inggris sedang mencari cara untuk dapat mengurangi dampak.

Pihaknya memberlakukan tindakan tersebut menyusul lonjakan kasus baru-baru ini di Spanyol. Pemerintah Norwegia telah memberlakukan kondisi serupa.

Sementara PM Prancis Jean Castex mengatakan sangat merekomendasikan agar orang-orang menghindari pergi ke timur laut Spanyol, daerah yang paling parah dilanda pandemi. Pemerintah Jerman telah menyatakan keprihatinan besar atas lonjakan virus tersebut.

Penanganan Buruk

Sanchez memperjuangkan daerah pariwisata Spanyol, termasuk Kepulauan Balearic dan Canary, Andalucia dan wilayah Valencia. Ia mengatakan, wilayah-wilayah tersebut memiliki insiden kumulatif virus lebih rendah daripada yang saat ini terjadi di Inggris.

"Artinya, dalam istilah epidemiologis, bahkan mungkin lebih aman di tujuan ini daripada di Inggris," kata Sanchez kepada saluran Telecinco dalam sebuah wawancara.

Dia menambahkan, Pemerintah Spanyol sedang dalam pembicaraan dengan Inggris untuk mencoba meyakinkan mereka untuk mempertimbangkan kembali langkah itu. “Yang menurut kami tidak seimbang,” tukasnya.

Di Inggris, keputusan itu juga mendapat tekanan dari partai oposisi Partai Buruh yang mengklaim pemerintahan Johnson telah menangani masalah itu dengan buruk.

Partai Buruh meminta bantuan untuk wisatawan Inggris bergegas kembali ke Inggris, karena khawatir peraturan baru itu dapat memengaruhi pekerjaan mereka.

Pada awalnya Pemerintah Inggris mengatakan orang masih bisa melakukan perjalanan ke Kepulauan Canary dan Balearic, tetapi kemudian memperpanjang karantina atas pengunjung yang berasal dari kelompok-kelompok pulau ini.

Langkah ini berpotensi bahaya bagi industri pariwisata Spanyol, yang menerima 18 juta pengunjung dari Inggris tahun lalu, jumlah terbesar dari negara asing. Industri pariwisata Spanyol menyumbang 12% untuk produk domestik bruto (PDB) dan 13% dari lapangan kerja.

Adapun Pemerintah Inggris dan Spanyol termasuk di antara negara-negara Eropa yang paling parah dilanda pandemi.

Angka resmi menunjukkan ada hampir 46.000 korban jiwa dan 300.000 orang terinfeksi di Inggris, meskipun jumlah sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi. Di Spanyol, lebih dari 28.400 jiwa menjadi korban dan lebih dari 272.000 orang terinfeksi.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN