Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson . ( Foto: John Sibley / POOL / AFP )

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson . ( Foto: John Sibley / POOL / AFP )

PM Johnson Janji Perombakan Ekonomi Pasca-Brexit

Kamis, 7 Oktober 2021 | 06:52 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

MANCHESTER, investor.id - Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson mengumpulkan para pendukung setia Partai Konservatif pada Rabu (6/10). Ia berjanji akan melakukan perombakan untuk menyapih ekonomi Inggris dari tenaga kerja asing murah pasca-Brexit.

Johnson menepis aksi beli panik di pom bensin, rak supermarket kosong, dan peringatan peritel tentang Natal suram yang akan datang. Pemimpin Tory tersebut mengatakan rasa sakit jangka pendek tidak akan sia-sia.

"Kita berurusan dengan masalah mendasar terbesar dari ekonomi dan masyarakat kita. Masalah yang tidak ada pemerintah yang berani menanganinya sebelumnya. Karena kita sedang memulai perubahan arah yang telah lama tertunda dalam ekonomi Inggris," jelasnya dalam teks pidatonya untuk penutupan konferensi, menurut kutipan yang dirilis oleh partai, Rabu (6/10) dan dilansir AFP.

Sebaliknya, bisnis Inggris harus berinvestasi pada pekerja mereka dan teknologi untuk mendorong negara menuju ekonomi dengan upah tinggi, keterampilan tinggi, dan produktivitas tinggi.

Tetapi akan membutuhkan waktu untuk transisi. Sementara itu, pemerintah dengan enggan menyetujui pembatasan jumlah visa jangka pendek untuk memikat pengemudi truk dan pekerja peternakan unggas dari Eropa Timur.

Pemerintah menyalahkan kekurangan tenaga kerja akut yang menimpa ekonomi Inggris bukan pada pendekatan garis kerasnya untuk Brexit, tetapi pada pandemi virus corona.

Tetapi krisis pasokan berisiko merusak tema yang akan ditekankan Johnson dalam pidato konferensinya, termasuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan Inggris Global setelah perpisahan dari Uni Eropa (UE).

Dia juga membicarakan tindakan pemerintah Inggris tentang perubahan iklim dan perlunya koordinasi global, menjelang pertemuan puncak iklim COP26 dua minggu di Skotlandia mulai 31 Oktober 2021.

Johnson mengendarai e-bike untuk touring stand peserta pameran di konferensi pada Selasa (5/10), naik ke atas traktor listrik, dan bermain dengan teka-teki untuk merakit rumah energi nol-karbon.

Tetapi pada pertemuan Partai Konservatif secara keseluruhan, topik perubahan iklim tampaknya telah mengalami penundaan.

Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak mengatakan pada Senin (4/10), mewariskan utang ke generasi mendatang yang diakibatkan pandemi tidaklah bermoral. Tetapi ia tidak menyebutkan tentang isu iklim yang dihadapi saat ini.

Kelalaian itu adalah tanda yang merusak menjelang COP26 di Glasgow, menurut komentar Rebecca Newsom, kepala kebijakan untuk Greenpeace Inggris.

"Memperoleh lebih banyak uang untuk infrastruktur hijau sekarang akan menghemat biaya yang sangat besar nantinya dan menciptakan jutaan pekerjaan baru di seluruh Inggris," kata dia.

Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss juga tidak merujuk isu iklim dalam pidatonya pada Minggu (3/10). Sementara ia berjanji untuk mendukung pertumbuhan lebih hijau yang ramah lingkungan dan infrastruktur bersih, di negara-negara berkembang.

Sebaliknya, isu Brexit telah menjadi tema yang berulang disampaikan oleh delegasi partai Johnson. Pihaknya bersikeras bahwa masalah saat ini yang terkait dengan perpecahan UE akan berlalu.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN