Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Demonstrasi di Hong Kong

Demonstrasi di Hong Kong

Polisi Tembakkan Gas Air Mata ke Arah Pemrotes

Grace Eldora, Senin, 29 Juli 2019 | 08:00 WIB

HONG KONG, investor.id – Polisi Hong Kong anti-huru hara menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan pemrotes pro-demokrasi yang menggelar aksi di dekat Kantor Penghubung Tiongkok pada Minggu (28/7) malam waktu setempat. Bentrokan tersebut kian membuat pusat finansial itu terperosok jauh ke dalam krisis.

Bentrokan itu adalah aksi kekerasan kedua berturut-turut yang terjadi di Hong Kong, yang digoncang protes anti-pemerintah selama berpekan-pekan dan tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Menurut laporan, huru hara terjadi pada Minggu di sebuah distrik perumahan mewah yang berdekatan dengan Kantor Penghubung – sebagai wakil Tiongkok pusat semi-otonom. Kantor itu juga sempat dilempari telur dan cat pada pekan lalu.

Polisi dan pengunjuk rasa dikabarkan telah terlibat dalam pertikaian menegangkan selama berjam-jam, setelah puluhan ribu demonstran mengadakan serangkaian aksi protes tanpa izin di seluruh kota.

Tercatat, sekitar 200 pengunjuk rasa berjalan kaki menuju Kantor Penghubung Tiongkok di distrik Sheung Wan, Hong Kong. Para pemrotes kemudian bertemu dengan sekelompok polisi anti-huru hara, yang menggunakan alat pengeras suara meminta massa mengakhiri “pertemuan ilegal” mereka.

Akhirnya gas air mata dan peluru karet ditembakkan ke arah para demonstran yang merespons dengan melempar bata dan batu, ketika polisi anti-huru hara menembak dan mendesak massa kembali ke jalan.

Wartawan AFP menyaksikan petugas dari regu polisi elite “Raptor” melakukan beberapa penangkapan. Sementara dua wartawan terlihat menerima perawatan medis karena mengalam luka-luka, dan sedikitnya wajah dari satu pengunjuk rasa berlumuran darah.

Sedangkan kerumunan kedua yang lebih besar tampak berkumpul di distrik perbelanjaan populer Causeway Bay, di mana mereka membangun barikade dan menguasai jalan utama tetapi sepertinya hanya sedikit kehadiran polisi di sana.

Kekerasan terbaru itu terjadi selang sehari setelah sebuah kota di dekat perbatasan daratan Tiongkok berubah menjadi kekacauan ketika polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet ke demonstan yang menggelar unjuk rasa tanpa izin untuk melawan gerombolan triad pro-pemerintah yang diduga memukul demonstran demokrasi pada akhir pekan lalu.

Bentrokan Berpekan-pekan

Walau menghadapi kemarahan dan frustrasi publik luar biasa, namun pemimpin Hong Kong yang pro-Tiongkok tampaknya tidak mampu, atau tidak mau, untuk mengakhiri kekacauan.

Hong Kong pun telah terjerumus ke dalam krisis terburuk dalam sejarah baru-baru ini, setelah jutaan demonstran turun ke jalan, dan menghadapi kekerasan sporadis yang meletus di antara polisi dan sejumlah demonstran garis keras.

Aksi demonstrasi selama tujuh pekan terakhir dipicu oleh RUU kontroversial yang akan memungkinkan ekstradisi ke daratan Tiongkok. Namun protes itu telah berkembang menjadi seruan reformasi demokrasi yang lebih luas dan penghentian bergesernya kebebasan.

Di sisi lain, protes yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan jumlah pemilih besar - serta bentrokan yang sering terjadi dan pemecatan parlemen – memiliki sedikit keberuntungan untuk membujuk para pemimpin Tiongkok atau Hong Kong.

Walau Pemerintah Tiongkok telah mengeluarkan kecaman yang semakin lantang dalam dua minggu terakhir, tetapi mereka memilih menyerahkan masalah ini kepada pemerintah kota untuk menangani situasi tersebut.

Kantor Urusan Hong Kong dan Makau di Tiongkok dilaporkan bakal menggelar konferensi pers pada Senin (29/7) sore.

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam pun tidak menunjukkan tanda-tanda mundur dan lebih setuju untuk menunda RUU ekstradisi.

Anggota parlemen pro-demokrasi Claudia Mo mengatakan Hong Kong sekarang terjebak dalam "lingkaran setan" di mana aksi protes damai besar-besaran yang telah diabaikan oleh pemerintah diakhiri dengan kekerasan antara polisi dan kelompok kecil pengunjuk rasa garis keras.

“Anda telah melihat peningkatan kekuatan dari kedua pihak, tetapi kemudian ini adalah ketidakseimbangan yang sangat besar karena polisi memiliki senjata mematikan. Ini adalah kesimpulan Hong Kong hari ini,” katanya kepada AFP. (afp/eld)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA