Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Asap menyembur keluar dari cerobong pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di dekat Datong, provinsi Shanxi, Tiongkok utara, pada 19 November 2015. ( Foto: GREG BAKER / AFP )

Asap menyembur keluar dari cerobong pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di dekat Datong, provinsi Shanxi, Tiongkok utara, pada 19 November 2015. ( Foto: GREG BAKER / AFP )

Polusi Udara Menyebabkan 7 Juta Kematian Dini

Kamis, 23 September 2021 | 07:49 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JENEWA, investor.id – Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah memperketat pedoman kualitas udara pada Rabu (22/9). Dalam pedomannya, sekarang polusi udara menjadi salah satu ancaman lingkungan terbesar bagi kesehatan manusia karena menyebabkan tujuh juta kematian dini per tahun.

Oleh karena itu diperlukan tindakan mendesak untuk mengurangi paparan polusi udara, yang mana peringkat beban penyakitnya setara dengan mengonsumsi makan tidak sehat.

“WHO telah menyesuaikan hampir semua tren penurunan level pedoman kualitas udara, dan mengingatkan tingkat lebih tinggi yang baru dikaitkan dengan risiko yang signifikan terhadap kesehatan. Dengan mematuhi pedoman ini, bisa menyelamatkan jutaan nyawa,” ujarnya, dikutip AFP.

Pedoman tersebut bertujuan melindungi masyarakat dari dampak buruk polusi udara, dan digunakan oleh pemerintah sebagai acuan standar yang mengikat secara hukum.

Sebagai informasi, WHO terakhir kali mengeluarkan pedoman kualitas udara (AQGs) pada 2005, yang memiliki dampak signifikan pada kebijakan pengurangan polusi di seluruh dunia.

Namun sejak itu, menurut WHO, dalam 16 tahun terakhir bukti-bukti yang jauh lebih kuat telah muncul. Catatan menunjukkan bagaimana polusi udara berdampak pada kesehatan, pada konsentrasi yang lebih rendah daripada yang dipahami sebelumnya.

“Bukti yang terkumpul cukup untuk membenarkan tindakan pengurangan paparan populasi terhadap polutan udara utama, tidak hanya di negara atau wilayah tertentu tetapi dalam skala global,” kata organisasi itu.

Asia Tenggara Terdampak

Pedoman baru tersebut dirilis bertepatan waktunya dengan kegiatan KTT iklim global COP26 yang diadakan di Glasgow, Skotlandia dari 31 Oktober hingga 12 November.

WHO mengatakan bahwa di samping perubahan iklim, polusi udara adalah salah satu ancaman lingkungan terbesar bagi kesehatan manusia. “Peningkatan kualitas udara bakal meningkatkan upaya mitigasi perubahan iklim, dan sebaliknya,” tambahnya.

Pedoman baru WHO merekomendasikan tingkat kualitas udara untuk enam polutan, termasuk ozon, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, dan karbon monoksida. Sementara dua polutan lainnya adalah PM10 dan PM2.5 – partikel yang berdiameter setara atau lebih kecil dari 10 dan 2,5 mikron.

Kedua jenis partikel itu mampu menembus jauh ke dalam paru-paru. “Namun penelitian terbaru menunjukkan PM2.5 bahkan dapat memasuki aliran darah, sehingga menjadi penyebab masalah kardiovaskular dan pernapasan, juga memengaruhi organ lain,” kata WHO.

Sebagai tanggapan, tingkat pedoman PM2.5 telah dikurangi setengahnya.

Pada 2019, lebih dari 90% populasi dunia tinggal di daerah yang konsentrasinya melebihi AQG 2005 untuk paparan PM2.5 jangka panjang. Asia Tenggara adalah wilayah yang terkena dampak terburuk.

Kematian Dini

“Polusi udara merupakan ancaman bagi kesehatan di semua negara, tetapi paling parah menyerang orang-orang di negara berpenghasilan rendah dan menengah,” ungkap Direktur Jenderal (Dirjen) WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

WHO mengatakan, sementara kualitas udara telah meningkat secara nyata sejak 1990-an di negara-negara berpenghasilan tinggi, korban yang meninggal dan kehilangan setiap tahun secara global hampir tidak menurun, karena kualitas udara umumnya memburuk di sebagian besar negara lain. Hal ini sejalan dengan perkembangan ekonomi mereka.

“Setiap tahun, paparan polusi udara diperkirakan menyebabkan tujuh juta kematian dini dan mengakibatkan hilangnya jutaan tahun kehidupan yang lebih sehat,” kata WHO.

Pada anak-anak, kondisi itu dapat mencakup penurunan pertumbuhan dan fungsi paru-paru, infeksi pernapasan, dan asma yang memburuk. Sedangkan pada orang dewasa, penyakit jantung iskemik – juga disebut penyakit jantung koroner – dan stroke adalah penyebab paling umum kematian dini yang dipicu polusi udara di luar ruangan.

Bukti efek samping berikutnya juga muncul, seperti diabetes dan kondisi neurodegeneratif. WHO mengatakan beban penyakit yang disebabkan oleh polusi udara setara dengan risiko kesehatan global utama lainnya seperti pola makan yang tidak sehat dan merokok.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN