Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Plang gedung Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington, DC., Amerika Serikat (AS) pada 5 April 2016

Plang gedung Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington, DC., Amerika Serikat (AS) pada 5 April 2016

Prediksi IMF: Tahun Ini, Ekonomi Timteng Terburuk dalam 50 Tahun

Selasa, 14 Juli 2020 | 08:06 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

DUBAI – Dana Moneter Internasional (IMF) kembali menurunkan tajam perkiraan ekonomi di Timur Tengah (Timteng) dan Afrika Utara ke level terendah dalam 50 tahun, pada Senin (13/7). Penurunan tersebut disebabkan oleh “kejutan ganda” dari pandemi virus corona Covid-19 dan harga minyak yang rendah.

IMF memperingatkan, pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut pada bakal berkontraksi 5,7% pada tahun ini, dan menyusut sebanyak 13% di negara-negara yang dilanda konflik.

“Ekonomi yang lesu akan memperlihatkan peningkatan kemiskinan dan pengangguran, memicu kerusuhan sosial, dan menyebabkan defisit anggaran serta lonjakan utang publik,” demikian menurut IMF.

Dalam laporan pembaruan prospek ekonomi kawasan, IMF memproyeksikan ekonomi Timur Tengah dan Afrika Utara pada tahun ini berkontraksi 5,7% atau 2,4 poin persentase lebih rendah dari perkiraan April.

Bahkan menurut data Bank Dunia, proyeksi ini adalah yang terendah dalam lebih dari 50 tahun, yang baru muncul setelah kawasan itu mencatat pertumbuhan moderat tahun lalu.

Perekonomian berbasis energi – yang sedang terpukul – dari negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC) diperkirakan menyusut 7,1%, atau 4,4 poin persentase lebih rendah dari April.

“Wilayah ini telah menghadapi krisis luar biasa karena kejutan ganda yang memengaruhi fungsi normal ekonomi mereka selama penerapan aturan karantina (lockdown),” ujar Direktur IMF Timur Tengah dan Departemen Asia Tengah, Jihad Azour kepada AFP.

Sebelumnya negara-negara di Timur Tengah telah menerapkan beberapa langkah penutupan bisnis, dan tindakan paling ketat dalam menangani virus corona hingga menghentikan sebagian besar kegiatan ekonomi.

Menurut laporan, harga minyak anjlok sekitar dua pertiga karena laju ekonomi global melemah akibat memberlakukan langkah-langkah untuk mencegah penyebaran virus corona. Namun, harga minyak mereka kini dikatakan telah pulih sebagian menjadi sekitar US$ 40 per barel.

“Negara-negara pengekspor minyak di kawasan itu diperkirakan kehilangan pendapatan energi sekitar US$ 270 miliar, yang mana angka itu merupakan penurunan besar,” kata Azour.

Direktur IMF untuk Departemen Timur Tengah dan Asia Tengah Jihad Azour. ( Foto: AFP / CACACE GIUSEPPE )
Direktur IMF untuk Departemen Timur Tengah dan Asia Tengah Jihad Azour. ( Foto: AFP / CACACE GIUSEPPE )

Tidak Stabil

IMF menyatakan, negara-negara yang paling terpukul di kawasan itu akan menjadi negara-negara yang rapuh dan berada dalam situasi konflik. Pasalnya, ekonomi mereka diperkirakan berkontraksi sebanyak 13%.

Produk domestik bruto (PDB) per kapita di negara-negara yang tidak stabil itu diperkirakan merosot dari US$ 2.900 pada 2018-2019 menjadi hanya US$ 2.000 pada tahun ini.

“Ini adalah penurunan dramatis yang akan memperburuk tantangan ekonomi dan kemanusiaan yang ada, dan meningkatkan tingkat kemiskinan yang sudah tinggi. Keresahan sosial dapat bangkit kembali saat aturan karantina dicabut,” tutur IMF.

Azour juga memperingatkan soal kehilangan pekerjaan, bersama dengan memburuknya kemiskinan dan ketidaksetaraan, yang mana dapat menciptakan tantangan stabilitas bagi pemerintah di wilayah tersebut.

“Kehilangan pekerjaan akan berada di puncak tingkat pengangguran yang sudah tinggi, terutama di kalangan pemuda,” pungkasnya.

Menurut IMF, defisit yang besar dan terus meningkat diprediksi mendongkrak utang publik menjadi 95% dari PDB di antara importir minyak Timur Tengah pada akhir tahun ini.

“Tingkat utang diperkirakan tumbuh pesat di Sudan hingga 258 % dari PDB. Sementara di Lebanon, utangnya diproyeksi bertambah menjadi 183%, dan di Mesir lebih dari 90%,” demikian bunyi laporan IMF.

Remitansi Turun

Selain itu, Azour menambahkan, bahwa kesengsaraan negara-negara pengimpor minyak juga diperparah dengan turunnya pengiriman uang dari warga negara mereka yang bekerja di luar negeri. Ini karena banyak dari mereka yang telah diberhentikan dari pekerjaannya karena pandemi.

Laporan IMF juga memperingatkan mengenai potensi penurunan pekerja asing yang bakal menghambat pemulihan mereka. Pasalnya, jumlah pekerja asing mencapai lebih dari 70% dari tenaga kerja di beberapa negara pengekspor minyak.

Sekitar 25 juta ekspatriat dilaporkan bekerja dan tinggal di enam negara bagian GCC. Keberadaan mereka membentuk setengah dari populasi kelompok yang mengusasi pusat kekuatan regional Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, bersama dengan Bahrain, Kuwait, Oman dan Qatar.

Oxford Economics memperkirakan pada Mei, bahwa lapangan pekerjaan di seluruh GCC tahun ini dapat turun 13%, mengingat hilangnya pekerjaan sekitar 1,7 juta di Arab Saudi dan 900.000 di Uni Emirat Arab (UEA).

Azour menuturkan, dengan minimnya kepastian di lingkungan saat ini maka situasinya bisa lebih buruk dari perkiraan.

“Kami berada dalam situasi yang aneh di mana tingkat ketidakpastian masih tinggi. Ketidakpastian tentang kapasitas untuk mengendalikan pandemi dan ekspansi, ketidakpastian tentang pemulihan itu sendiri, dan juga ketidakpastian tentang harga minyak,” ujar Azour. (afp)


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN