Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anggota staf media menyaksikan pidato langsung Presiden Tiongkok, Xi Jinping lewat layar di pusat media Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP 15), di Kunming, Pprovinsi Yunnan, Tiongkok barat daya, pada 12 Oktober 2021. ( Foto: STR / AFP )

Anggota staf media menyaksikan pidato langsung Presiden Tiongkok, Xi Jinping lewat layar di pusat media Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP 15), di Kunming, Pprovinsi Yunnan, Tiongkok barat daya, pada 12 Oktober 2021. ( Foto: STR / AFP )

Presiden Xi: Tiongkok Tidak Mencari Hegemoni

Selasa, 23 November 2021 | 06:52 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BEIJING, investor.id – Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Xi Jinping menyampaikan kepada pemimpin dari 10 negara Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara atau Asean bahwa Tiongkok tidak akan mencari hegemoni dan menganggu negara-negara tetangganya yang lebih kecil di kawasan. Pernyataan ini dikeluarkan di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Tiongkok Selatan (LTS).

Sebagai informasi, klaim teritorial Tiongkok terhadap laut kerap berbenturan dengan klaim beberapa negara di kawasan Asia Tenggara, sekaligus menimbulkan kekhawatiran mulai dari Amerika Serikat (AS) dan Jepang. Namun, Xi menyatakan bahwa Tiongkok tidak akan pernah mencari hegemoni atau memanfaatkan kekuasannya untuk memaksa negara-negara kecil, dan akan bekerja dengan Asean guna menghilangkan campur tangan.

“Tiongkok dulu, sedang, dan akan selalu menjadi tetangga yang baik, teman baik, dan mitra baik bagi Asean,” demikian dilaporkan media pemerintah Tiongkok mengutip Xi dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) Asean pada Senin (22/11), yang dikutip Reuters.

Di sisi lain, penegasan kedaulatan Tiongkok atas Laut Tiongkok Selatan telah membuatnya bertentangan dengan anggota Asean, Vietnam dan Filipina. Ini juga termasuk Brunei, Taiwan dan Malaysia yang mengklaim bagian atas LTS.

Pemerintah Filipina pada Kamis (18/11) mengecam tindakan tiga kapal penjaga pantai Tiongkok yang dikatakan telah menghalangi, dan menggunakan meriam air pada kapal-kapal pasokan menuju atol yang diduduki Filipina di laut.

Selain itu, pada Jumat (19/11), pihak berwenang AS menyebut tindakan Tiongkok berbahaya, provokatif, dan tidak dapat dibenarkan. Mereka memperingatkan bahwa serangan bersenjata terhadap kapal Filipina akan memicu komitmen pertahanan bersama AS.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte mengatakan dalam pertemuan puncak yang diselenggarakan oleh Xi bahwa dirinya membenci pertengkaran itu dan menuturkan bahwa aturan hukum adalah satu-satunya jalan keluar dari perselisihan tersebut.

Pernyataan Duterte merujuk pada putusan arbitrase internasional 2016 yang menyatakan klaim maritim Tiongkok atas wilayah laut itu tidak memiliki dasar hukum.

“Hal ini tidak dibicarakan dengan baik tentang hubungan antara negara-negara kita,” kata Duterte, yang masa jabatannya akan habis tahun depan, dan telah dikritik karena gagal mengecam perilaku Tiongkok di perairan yang disengketakan.

Ada pun kelompok Asean terdiri atas Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.

Myanmar Tidak Tampil

Xi mengatakan dalam KTT bahwa Tiongkok dan Asean telah menyingkirkan kesuraman Perang Dingin – ketika kawasan itu didera oleh persaingan dan konflik negara adidaya, seperti Perang Vietnam – dan telah bersama-sama menjaga stabilitas regional.

Tiongkok juga sering mengkritik Amerika Serikat karena pemikiran Perang Dingin-nya, ketika Negeri Paman Sam melibatkan sekutu regionalnya untuk melawan pengaruh militer dan ekonomi Tiongkok yang semakin meningkat.

Pada Oktober, Presiden AS Joe Biden sempat bergabung dalam pertemuan puncak virtual dengan para pemimpin Asean dan menjanjikan keterlibatan pemerintahannya yang lebih besar dengan kawasan itu.

Namun, Menteri Luar Negeri Malaysia Saifuddin Abdullah mengatakan pada Senin bahwa KTT itu diadakan tanpa perwakilan dari Myanmar. Bahkan, alasan absennya tidak diketahui dengan jelas. Juru bicara pemerintah militer Myanmar pun tidak merespons permintaan untuk berkomentar.

Alhasil, Asean mengesampingkan pemimpin junta Myanmar Min Aung Hlaing dari pertemuan puncak virtual bulan lalu karena kegagalannya membuat terobosan dalam menerapkan rencana perdamaian yang disepakati. Langkah pengecualian ini juga menjadi hal yang belum pernah terjadi sebelumnya di blok tersebut.

Otoritas Myanmar sendiri telah menolak mengirim perwakilan junior dan menuding Asean yang dianggap menyimpang dari prinsip non-interferensi, serta menyerah pada tekanan Barat. Namun menurut sumber diplomatik, Tiongkok telah melobi Min untuk menghadiri KTT itu.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN