Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Markas OPEC. ( Foto: AFP )

Markas OPEC. ( Foto: AFP )

Produsen Minyak Menahan Produksi Saat Krisis  

Jumat, 5 November 2021 | 20:02 WIB
Grace El Dora

LONDON, investor.id - Produsen minyak utama sepakat untuk terus menahan produksi meskipun ada tekanan dari pemerintah Amerika Serikat (AS) dan negara konsumen besar lainnya, untuk membuka keran produksi jauh lebih besar di tengah melonjaknya harga.

Sebanyak 13 negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan 10 negara sekutu mereka mengkonfirmasi ulang keputusan Juli 2021. Mereka meyakinkan akan secara bertahap meningkatkan produksi setiap bulan dalam pertemuan singkat melalui konferensi video.

Produsen kuat yang dipimpin oleh pemerintah Arab Saudi dan Rusia dalam apa yang disebut OPEC+ akan menambah 400.000 barel per hari pada Desember 2021.

"(Keputusan tersebut bertujuan) untuk memastikan pasar minyak yang stabil dan seimbang, pasokan yang efisien dan aman untuk konsumen," kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan, Jumat (5/11/2021).

Negara-negara OPEC+ juga berjanji untuk terus mengadopsi pendekatan proaktif dan transparan yang telah memberikan stabilitas bagi pasar minyak.

OPEC+ memangkas produksi secara tajam tahun lalu karena pandemi menghantam pasar, tetapi telah mulai menambah produksi tahun ini karena ekonomi global perlahan pulih.

Melakukan Hal yang Benar

Harga untuk kontrak benchmark WTI mencapai US$ 85 pekan lalu, tertinggi sejak 2014. Terkait hal ini, Presiden AS Joe Biden mengimbau di sela-sela konferensi tingkat tinggi (KTT) kelompok G-20 di Roma kepada OPEC untuk memompa lebih banyak minyak bumi.

Pemerintah AS mengaku kecewa dengan keputusan OPEC+, memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi global sedang terancam oleh ketidaksesuaian antara pasokan dan permintaan minyak.

"OPEC+ tampaknya tidak mau menggunakan kapasitas dan kekuatan yang dimilikinya sekarang pada saat kritis pemulihan global ini untuk negara-negara di seluruh dunia," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional (NSC) AS.

Pejabat itu mengatakan Biden telah meminta timnya bersiap menggunakan semua alat yang diperlukan, untuk memastikan Amerika untuk memiliki akses ke energi dan bensin yang terjangkau.

Itu dianggap sebagai janji untuk menggunakan cadangan minyak pemerintah AS agar membanjiri pasar, yang membuat harga lebih rendah di London dan New York.

"Ada desas-desus di seluruh pasar tentang potensi pelepasan terkoordinasi dari Cadangan Minyak Strategis (SPR), untuk memerangi harga minyak yang lebih tinggi," kata John Kilduff dari Again Capital.

Negara konsumen minyak lainnya, seperti India dan Jepang, juga menyerukan peningkatan produksi untuk menurunkan harga.

Tetapi Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman, yang memimpin kelompok OPEC, telah menegaskan jawabannya. "Kami masih percaya apa yang kami lakukan adalah hal yang benar," tukasnya.

Tidak Terburu-Buru

Analis secara luas mengharapkan kelompok itu untuk tetap pada keputusan Juli 2021.

"Harga di atas US$ 80 per barel, tentu saja, adalah alasan lain mengapa OPEC+ tidak akan terburu-buru untuk menambahkan pasokan ke pasar," kata Caroline Bain dari Capital Economics.

Tetapi Angola, Nigeria, dan anggota OPEC+ lainnya sudah berjuang untuk memenuhi kuota produksi mereka saat ini dan akan kehilangan pendapatan jika harga turun.

Berlawanan dengan tren normal negara-negara OPEC yang melebihi kuota produksi mereka, dalam beberapa bulan terakhir produksi di sebagian besar negara anggota stagnan atau dalam beberapa kasus bahkan menurun.

Hal ini menunjukkan bahwa kelompok tersebut mungkin tidak dapat secara cepat meningkatkan produksi dalam jangka pendek. Terlepas dari negara-negara tersebut memiliki cadangan secara teoritis saat ini, hingga lebih dari empat juta barel per hari di tanah.

Sementara itu, kelompok tersebut mengumumkan pertemuan OPEC+ berikutnya akan berlangsung pada 2 Desember. 

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN