Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Markas OPEC. ( Foto: AFP )

Markas OPEC. ( Foto: AFP )

Produsen Minyak Sepakat Naikkan Produksi 500 Ribu Bph

Sabtu, 5 Desember 2020 | 06:13 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) dan para produsen non-OPEC sepakat meningkatkan produksi minyak mentah sebanyak 500.000 barel per hari (bph), dimulai pada Januari 2021. Sementara total pengurangan produksi pada awal 2021 akan menjadi 7,2 juta bph.

Dalam kesepakatan sebelumnya para produsen mensyaratkan pengurangan 7,7 juta bph. Dan dijadwalkan utnuk turun menjadi 5,8 juta bph pada 1 Januari tahun depan.

Namun menjelang pertemuan pada Kamis (3/12) waktu setempat, OPEC dan para mitranya yang tergabung dalam kelompok OPEC+ diperkirakan memperpanjang pengurangan produksi saat ini 7,7 juta bph setidaknya sampai Maret tahun depan.

Negosiasi tersebut sempat ditunda pada Selasa (2/12) karena tidak mencapai kompromi. Kemudian para menteri perminyakan dari 23 negara anggota, yang terdiri atas beberapa produsen minyak mentah dunia, memulai pertemuan sekitar pukul 10.00 waktu setempat setelah sempat mengalami penundaan selama beberapa jam.

“500.000 bph mulai Januari bukanlah skenario mimpi buruk yang ditakuti pasar, namun hal ini pun bukan yang benar-benar diperkirakan beberapa pekan lalu. Pasar sekarang bereaksi positif dan harga mencatat sedikit kenaikan, karena pasokan tambahan 500.000 tidak mematikan keseimbangan,” ujar analis senior pasar minyak Rystad Energy Paola Rodriguez Masiu, seperti dikutip CNBC.

Menurut laporan, usai pertemuan, acuan harga minyak mentah internasional Brent diperdagangkan 1,4% lebih tinggi pada US$ 48,92 per barel. Sementara itu, acuan harga minyak West Texas Intermediate AS ditutup menguat 36 sen atau 0,8% pada US$ 45,64 per barel. Kedua acuan harga ini menghentikan penurunan beruntun beberapa hari di sesi sebelumnya, dan ditutup menguat karena terdorong berita vaksin Covid-19. Meski demikian harga minyak tetap 25% lebih rendah year to date.

Pada April, setelah melalui beberapa pembicaraan yang berlarut-larut, OPEC+ menyetujui pemangkasan produksi tunggal terbesar dalam sejarah. Besaran pengurangan 9,7 juta bph dimulai pada 1 Mei, kemudian diturunkan menjadi 7,7 pada Agustus.

Meskipun gelombang kedua pandemi Covid-19 menghancurkan harapan pemulihan kurva V untuk ekonomi dan permintaan minyak, Menteri Energi Saudi Pangeran Abdelaziz bin Salman mengatakan memiliki catatan optimistis usai pertemuan.

“Ada karantina (lockdown) yang serius, tetapi tidak menghalangi permintaan seperti yang terjadi pada gelombang pertama,” tuturnya dalam konferensi pers virtual, seperti dikutip AFP.

Penyebab Kebuntuan

Arab Saudi dianggap sebagai pendukung utama untuk mempertahankan level pengurangan saat ini hingga akhir kuartal pertama. Namun, beberapa produsen mempertanyakan pendekatan ini menyusul kenaikan harga minyak yang berkelanjutan pada bulan lalu.

Para analis percaya bahwa beberapa sekutu non-OPEC, seperti Rusia dan Kazakhstan, telah meminta peningkatan pembatasan produksi bertahap. Sedangkan Uni Emirat Arab (UEA) seolah-olah mendorong strategi yang dirancang untuk meningkatkan kepatuhan dari negara-negara produsen berlebih.

Spekulasi keretakan antara Arab Saudi dan UEA awal pekan ini mengejutkan sebagian karena status UEA dalam OPEC, yang merupakan produsen terbesar ketiga grup dan sekutu dekat Arab Saudi.

“Anehnya, kali ini bukan soal perselisihan antara Rusia dan Arab Saudi yang mencegah kelompok tersebut mencapai kesepakatan yang jelas tentang apakah akan menunda peningkatan produksi yang direncanakan. Melainkan perpecahan yang mungkin lebih berbahaya, dari perspektif stabilitas OPEC, telah muncul antara Arab Saudi dan UEA – sebagai dua negara dalam Dewan Kerjasama Teluk atau Gulf Cooperation Council, yang bisasanya satu suara,” kata Ole Hansen, kepala strategi komoditas Saxo Bank, dalam catatan penelitian.

Sebelum putaran terakhir pembicaraan, Hansen mengatakan kegagalan untuk mencapai kesepakatan pada hari Kamis dapat membuat harga minyak lebih rendah beberapa dolar. Tapi para produsen akan menghindarkannya karena ibarat OPEC+ menembak kakinya sendiri.

Sulit Kompromi

Rusia dan sembilan negara non-OPEC lainnya telah bekerja dengan 13 anggota OPEC untuk menopang harga minyak dalam beberapa tahun terakhir. Grup ini memiliki pengaruh yang cukup besar atas pasar energi dunia, meskipun tidak lagi dipandang sebagai kekuatan seperti dulu.

Dalam beberapa bulan terakhir, OPEC + telah berusaha untuk mengarahkan jalannya melalui periode historis yang penuh gejolak, termasuk jatuhnya harga minyak yang tak tertandingi, guncangan permintaan bahan bakar besar-besaran di tengah krisis virus korona, perang harga Saudi-Rusia, dan kepergian Qatar dari OPEC.

Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak menyambut baik perjanjian itu sebagai sebuah keputusan yang sangat seimbang. Dia mengakui pembicaraan itu sulit.

“Kami mengkonfirmasikan bahwa produksi dua juta barel per hari pada suatu saat harus kembali ke pasar,” tambahnya dalam konferensi pers.

Analis senior PVM Oil Associates Tamas Varga mengatakan, bahwa OPEC+ mengontrol hampir 50% dari produksi global.

“Namun hak istimewa ini yang menjadi beban telah dilucuti pada pekan ini. Jauh lebih sulit untuk berkompromi dengan 23 peserta yang targetnya belum tentu sejalan, dibandingkan dengan 13 negara. Terlepas dari ketidaksepakatan dan perbedaan pandangan, satu hal yang pasti demi kepentingan terbaik semua yang terlibat untuk sampai pada solusi yang dapat diterima bersama, terkadang memilih opsi paling buruk adalah satu-satunya jalan keluar,” demikian disampaikan dalam catatan.

Di sisi lain, terkait masalah pelik tentang apakah semua anggota bakal menghormati kuota produksi yang ditetapkan dalam perjanjian sebelumnya juga ikut dibahas. Bagi negara-negara yang baru-baru ini kelebihan produksi, seperti Irak dan Nigeria, telah diberi batas waktu akhir Maret untuk menyelesaikan produksi mereka.

Kemudian dalam jangka menengah,kelompk OPEC juga harus mencermati perkembangan anggota tertentu yang telah diberi pengecualian kuota, tetapi produksinya meningkat atau mungkin dilakukan di masa mendatang, yaitu Libya dan Iran. (afp/sumber lain)


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN