Menu
Sign in
@ Contact
Search
Karyawan bekerja di jalur perakitan yang memproduksi speaker di sebuah pabrik Fuyang, Provinsi Anhui timur Tiongkok pada 31 Agustus 2022. (FOTO: STR / AFP)

Karyawan bekerja di jalur perakitan yang memproduksi speaker di sebuah pabrik Fuyang, Provinsi Anhui timur Tiongkok pada 31 Agustus 2022. (FOTO: STR / AFP)

Prospek Ekonomi Tiongkok Masih Suram

Selasa, 20 September 2022 | 15:45 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SINGAPURA, investor.id – Para ekonom mengatakan masih pesimistis mengenai ekonomi Republik Rakyat Tiongkok (RRT), walaupun sejumlah data yang dirilis pekan lalu menunjukkan angka-angka optimistis, termasuk penjualan ritel dan produksi industri yang melampaui prediksi.

Ekonom UBS telah menurunkan perkiraan pertumbuhan Tiongkok setahun penuh dari 3% menjadi 2,7% untuk 2022, dan dari 5,4% menjadi 4,6% untuk 2023.

“Kendati beberapa bantuan kebijakan saat ini akan membuahkan hasil lebih banyak di kuartal IV, situasi terkait Covid-19 kemungkinan bakal tetap menantang hingga musim dingin dan awal 2023, dan pertumbuhan ekspor akan melambat,” ujar Tao Wang, kepala ekonom UBS Tiongkok dalam catatan, yang dilansir CNBC pada Senin (19/9).

Baca Juga: Tiongkok: Jangan Sentuh Orang Asing Kurangi Risiko Cacar Monyet

Wang menambahkan, revisi perkiraan untuk 2023 masih didasarkan pada skenario di mana pasar properti segera stabil dan pembatasan Covid mereda mulai Maret, dan seterusnya.

Sedangkan Direktur Economist Intelligence Corporate Network (Jaringan Perusahan Ekonom Intelijen) untuk Tiongkok Mattie Bekink berpendapat bahwa pembatasan-pembatasan terkait Covid-19 telah mengerek turun sentimen investor dan tidak mungkin pulih dalam waktu dekat.

“Kami tidak melihat penarikan tuas kebijakan yang diperlukan untuk memfasilitasi perubahan. Pada dasarnya (kebijakan) nihil Covid telah menginjak kepercayaan investor manusia di Tiongkok. Ini semacam penghambat ekonomi Tiongkok saat ini,” katanya mengomentari kebijakan nihil Covid di Negeri Tirai Bambu.

Yuan Melemah

Di samping itu, para ekonom memperkirakan mata uang yuan Tiongkok terus melemah, bahkan setelah nilai tukar yuan di dalam dan luar negeri yang jatuh ke level terendah sejak Juli 2020 pekan lalu.

“Kami memperkirakan kelemahan yuan Tiongkok (CNY) hanya bertahan sebentar. Ini sebagian didukung oleh penguatan dolar AS (USD)yang luas,” kata ekonom Goldman Sachs.

Catatan para ekonom di Goldman Sachs menambahkan, bahwa level kunci berikutnya yang harus diperhatikan adalah 7,20, yang terakhir diuji pada Mei 2020.

Baca Juga: Tiongkok Tingkatkan Produksi Batubara

Para ekonom UBS juga memproyeksikan nilai tukar yuan melemah lebih lanjut terhadap dolar AS, mengingat lintasan kebijakan moneter AS-Tiongkoka yang menyimpang dan ekspor Tiongkok yang melambat.

Dalam pandangan Wang dari UBS, perdagangan USD/CNY sekitar 7,15 pada akhir 2022.

Namun seiring mendekati Kongres Nasional ke-20 pada 16 Oktober, para ekonom di Goldman Sachs tidak berharap melihat pergerakan mata uang secara tiba-tiba. “Kami tidak memperkirakan melihat depresiasi yang sangat tajam pada yuan Tiongkok karena stabilitas akan lebih disukai di sekitar peristiwa politik penting seperti itu,” tambah mereka. 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com