Menu
Sign in
@ Contact
Search
Presiden Rusia Vladimir Putin. (FOTO: Dmitry Azarov/POOL/TASS)

Presiden Rusia Vladimir Putin. (FOTO: Dmitry Azarov/POOL/TASS)

Prospek Jangka Panjang Ekonomi Rusia Gelap

Rabu, 3 Agustus 2022 | 09:03 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Ekonomi Rusia di luar dugaan menunjukkan kinerja lebih baik walau didera sanksi-sanksi berat dari Barat, akibat invasinya ke Ukraina sejak 24 Februari 2022. Namun daya tahan dalam jangka pendek itu diperkirakan tidak mengindikasikan prospek jangka panjang, yang menurut kalangan ekonom bakalan gelap.

Beberapa ekonom mengatakan bahwa dalam jangka panjang Rusia dihadapkan pada situasi seperti kelimpungan ekonomi. Selain karena dampak sanksi-sanksi internasional itu, para pelaku bisnis akan memilih keluar dari negara.

Pekan lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) meningkatkan perkiraan produk domestik bruto (PDB) Rusia untuk 2022 sebesar 2,5 poin persentase, walau tetap diproyeksikan kontraksi sebesar 6%. Tapi menurut IMF, ekonomi Rusia sepertinya melewati rentetan sanksi ekonomi lebih baik dari perkiraan.

Baca Juga: UE dan NATO Desak Rusia Terapkan Kesepakatan Ekspor Gandum Ukraina

Sementara itu, Bank Sentral Rusia mengejutkan pasar pada akhir Juli 2022 dengan memangkas suku bunga utamanya kembali ke 8%. Di bawah level sebelum perang tersebut. Karena laju inflasi turun, mata uang yang menguat, dan risiko resesi.

Menurut laporan, mata uang rubel dilaporkan bangkit dari jatuh terjerembab akibat invasi tersebut. Bahkan rubel menjadi pemain terbaik di pasar valuta asing global tahun ini sehingga mendorong Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa sanksi-sanksi Barat telah gagal.

Rusia juga terus mengekspor energi dan komoditas lainnya sambil memanfaatkan ketergantungan Eropa terhadap pasokan gasnya.

Baca Juga: Rusia Berencana Bangun Mariupol yang Hancur di Ukraina

Tetapi, banyak ekonom melihat perekonomian Rusia akan menggelontorkan biaya jangka panjang pasca menyusul keluarnya perusahaan-perusahaan asing bersama dengan hilangnya pasar minyak dan gas jangka panjang, serta berkurangnya akses ke impor-impor penting teknologi.

Ditambahkan, bahwa kepergian perusahaan-perusahaan asing dari Rusia bakal memukul kapasitas produksi dan modal serta mengakibatkan larinya kaum terpelajar.

Presiden Eurasia Group Ian Bremmer mengatakan, sementara gangguan jangka pendek dari sanksi kurang iantisipasi, namun perdebatan sebenarnya melampaui 2022.

“Bukti anekdotal menunjukkan dislokasi manufaktur meningkat karena persediaan yang telah habis, sementara kelangkaan suku cadang asing menjadi mengikat. Chip dan transportasi, termasuk di antara sektor-sektor yang disebutkan, di mana di beberapa kasus mencerminkan permintaan militer penggunaan ganda. Tunggakan pemerintah mungkin berkontribusi pada kekurangan yang lebih luas. Impor barang-barang konsumsi meningkat, tetapi masih kurang dari (jumlah) barang setengah jadi/investasi,” demikian penjelasan Bremmer kepada CNBC, Senin (1/8).

Baca Juga: Rusia Denda WhatsApp dan Snapchat atas Pelanggaran Penyimpanan Data

Catatan Eurasia Group memproyeksikan penurunan jangka panjang berkelanjutan dalam kegiatan ekonomi, yang pada akhirnya menghasilkan kontraksi 30-50% dalam PDB Rusia dari level sebelum perang.

Sangat Melumpuhkan

Di sisi lain, penulis studi Yale University – yang diterbitkan bulan lalu – mengklaim menyajikan gambaran yang lebih benar daripada yang disajikan Kremlin. Ia berpendapat bahwa desas-desus tentang kelangsungan ekonomi Rusia telah sangat dilebih-lebihkan.

Sebagai informasi, isi studi Yale University menganalisis data konsumen, perdagangan, dan pengiriman frekuensi tinggi. Makalah ini juga menunjukkan sanksi-sanksi internasional dan eksodus lebih dari 1.000 perusahaan global yang sangat melumpuhkan ekonomi Rusia.

Baca Juga: Zelensky: Jokowi Pemimpin Asia Pertama yang ke Ukraina sejak Invasi

“Posisi strategis Rusia sebagai eksportir komoditas telah memburuk secara permanen, berada dalam posisi lemah dengan hilangnya pasar utama sebelumnya dan menghadapi tantangan berat dalam melaksanakan poros ke Asia dengan ekspor non-fungible seperti gas pipa,” demikian ungkap para ekonom Yale.

Mereka menambahkan, meskipun ada beberapa kebocoran yang berkepanjangan, impor Rusia sebagian besar telah runtuh. Negeri Beruang Merah itu sekarang menghadapi tantangan dalam mengamankan input, suku cadang, dan teknologi dari mitra-mitra dagang yang semakin gelisah.Alhasil, memperlihatkan kekurangan pasokan yang meluas di ekonomi domestiknya.

Tidak Ada Jalan Keluar

Meski ekonomi Rusia menunjukkan ketahanan nyata, sebagia besar kebangkitan rubel disebabkan oleh melonjaknya harga energi dan langkah-langkah kontrol modal yang ketat – yang diterapkan Kremlin untuk membatasi jumlah mata uang asing yang meninggalkan negara itu – bersama dengan sanksi yang membatasi kapasitasnya untuk mengimpor.

Sebagai informasi, Rusia adalah pengekspor gas terbesar di dunia dan pengekspor minyak terbesar kedua. Dengan demikian pukulan terhadap PDB dari perang dan sanksi-sanksi terkait telah diredam oleh harga komoditas yang tinggi, dan ketergantungan Eropa yang berkelanjutan pada energi Rusia untuk saat ini.

Baca Juga: Menyikapi Pandemi dan Invasi

Rusia kini telah melonggarkan beberapa kontrol modalnya dan memangkas suku bunga dalam upaya menurunkan mata uang dan menopang neraca fiskalnya.

“Putin menggunakan intervensi fiskal dan moneter yang sangat tidak berkelanjutan dan dramatis untuk mengatasi kelemahan ekonomi struktural ini. Yang mana telah membuat anggaran pemerintahnya mengalami defisit untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun dan menguras cadangan devisanya, bahkan dengan harga energi yang tinggi. Bagkan pembiayaan Kremlin berada dalam kesulitan yang jauh lebih parah daripada yang dipahami secara konvensional,” kata para ekonom Yale.

Mereka juga mencatat pasar keuangan domestik Rusia adalah pasar dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang tahun ini, meskipun ada kontrol modal yang ketat. Para investor pun menilai ada kelemahan yang berkelanjutan dan terus-menerus dalam ekonomi dengan likuiditas, dan kontrak kredit bersama dengan pengucilan efektif Rusia dari pasar keuangan internasional. 


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : CNBC

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com