Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank of England (BOE) Andrew Bailey. ( Foto: Peter Summers / POOL / AFP )

Gubernur Bank of England (BOE) Andrew Bailey. ( Foto: Peter Summers / POOL / AFP )

Pulih dari Pandemi, Ekonomi Menjadi Lebih Kuat

Jumat, 7 Mei 2021 | 06:09 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Bank of England (BoE) menyatakan bahwa perekonomian Inggris tahun ini akan pulih lebih kuat dari perkiraan. Karena Pemerintah Inggris telah melonggarkan aturan karantina terkait pandemi virus corona Covid-19 lebih cepat dari antisipasi awal.

Prospek yang membaik itu menyusul bank sentral Inggris mempertahankan tingkat suku bunga acuannya di level rendah 0,1% pada pertemuan kebijakan reguler pekan ini.

“Ekonomi Inggris tahun ini diperkirakan rebound 7,25% berkat pelonggaran pembatasan-pembatasan,” demikian pernyataan BoE, yang dikutip AFP.

Dengan perkiraan baru itu, BoE menaikkan proyeksi untuk pertumbuhan ekonomi Inggris dari sebelumnya yang sebesar 5,0%. Tetapi BoE memangkas proyeksi 2022 dari 7,25% menjadi 5,75% karena pemerintah berupaya untuk menarik lagi sebagian belanja besar untuk bantuan pandemi dari penaikan pajak.

“Ada risiko di sekitar proyeksi ini, termasuk dari gelombang infeksi baru di Inggris dan negara lain," kata Gubernur BoE Andrew Bailey dalam konferensi pers virtual.

Tahun lalu ekonomi Inggris kontraksi 9,8% dan merupakan kemerosotan terbesar dalam tiga abad – juga kinerja terburuk sebagai negara anggota G-7. Pasalnya, Inggris harus memberlakukan karantina untuk mencegah penularan Covid-19.

Kegiatan-kegiatan ekonomi tahun ini diperkirakan pulih menyusul aturan karantina terbaru terkait Covid-19 di Inggris, yang diterapkan pada awal Januari. Namun, sebagian peraturan mulai longgar pada bulan lalu menyusul kemajuan pesat dalam upaya vaksinasi nasional.

“Prospek ekonomi terus bergantung pada evolusi pandemi, tindakan yang diambil untuk melindungi kesehatan masyarakat, serta bagaimana rumah tangga, bisnis dan pasar keuangan menanggapi perkembangan ini,” demikian pernyataan BoE, yang dikutip AFP pada Kamis (6/5).

Pada pertemuan yang digelar, Rabu (5/5), BoE melakukan pemungutan suara untuk mempertahankan sejumlah besar stimulus yang disuntikkan ke perekonomian Inggris.

Di saat pandemi Covid-19 meletus pada Maret 2020, BoE memangkas tingkat suku bunga acuannya ke level terendah 0,1%. Bank sentral Inggris juga mulai memompa sejumlah besar uang tunai baru ke dalam perekonomian.

Dalam program stimulus quantitative easing (QE), BoE telah menggelontorkan 450 miliar poundsterling (US$ 626 miliar, 522 miliar euro) sejak Maret tahun lalu. Yakni ketika pandemi Covid-19 memaksa pihak berwenang memberlakukan karantina guna mencegah penyebaran virus corona yang pertama di Inggris.

Sebelumnya, mereka telah memompa QE senilai ratusan miliar pound ke dalam ekonomi Inggris selama satu dekade pasca krisis keuangan global 2008-2009 dan krisis Brexit. Ada pun total paket QE yang diluncurkan BoE mencapai 895 miliar pound.

Ketidakpastian Luar Biasa

Selain itu, ditambahkan oleh BoE pada Kamis bahwa perkembangan dalam pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global sedikit lebih kuat dari yang diantisipasi. Sedangkan paket stimulus fiskal Amerika Serikat (AS) yang substansial bakal memberikan dukungan tambahan yang signifikan terhadap prospek.

Tapi BoE memperingatkan bahwa prospek ekonomi, serta khususnya pergerakan relatif dalam permintaan dan penawaran selama pemulihan dari pandemi, masih tidak pasti.

Sebagai informasi, bersamaan dengan dukungan BoE, pemerintah Konservatif Perdana Menteri Boris Johnson telah membelanjakan 352 miliar pound untuk tindakan darurat wabah Covid-19. Sebagian besar bantuan diperuntukkan skema cuti pekerjaan, yakni dengan membayar sebagian besar gaji sektor swasta untuk jutaan pekerja di seluruh Inggris.

Di sisi lain, langkah-langkah bantuan pandemi darurat negara telah menyebabkan catatan pinjaman tahunan Inggris meroket ke level tertinggi, sejak Perang Dunia II.

BoE juga memperkirakan tingkat pengangguran akan mencapai puncaknya pada tahun ini sekitar 5,5%, naik dari level resmi saat ini di 4,9%. Sementara inflasi tahunan akan mencapai sekitar 2,5%, atau di atas target bank sentral 2,0%, sebelum kembali merosot.

Para investor pun khawatir bahwa pembukaan kembali ekonomi dan program stimulus pemerintah yang besar di seluruh dunia akan meningkatkan inflasi, dan mempertaruhkan suku bunga yang lebih tinggi di masa mendatang.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN