Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kandidat vaksin untuk virus corona Covid-19 hasil pengembangan AstraZeneca, produsen farmasi Inggris. ( Foto: DADO RUVIC / REUTERS )

Kandidat vaksin untuk virus corona Covid-19 hasil pengembangan AstraZeneca, produsen farmasi Inggris. ( Foto: DADO RUVIC / REUTERS )

Regulator Independen akan Kaji Vaksin AstraZeneca

Sabtu, 28 November 2020 | 07:16 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Pemerintah Inggris mengatakan telah meminta regulator obat independen, Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan, untuk melakukan kajian terhadap vaksin virus corona Covid-19 yang dikembangkan AstraZeneca dan Oxford University. Langkah ini sebagai bagian dari proses untuk mengeluarkan persetujuan resmi penggunaan vaksin yang akan diluncurkan pada akhir tahun.

Menurut laporan, vaksin AstraZeneca telah menyelesaikan uji klinis Fase III atau tahap terakhir sebelum mendapat persetujuan regulasi. Tetapi berdasarkan peraturan Inggris, pemerintah juga harus meminta Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan independen atau Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA) untuk memberi lampu hijau pada obat tersebut.

“Kami telah secara resmi meminta regulator menilai vaksin Oxford-AstraZeneca, untuk memahami data dan menentukan apakah telah memenuhi standar keamanan yang ketat,” ujar Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock, seperti dilansir AFP, Jumat (27/11).

Sementara itu, Inggris telah mendapatkan akses ke 100 juta dosis vaksin yang diproduksi oleh produsen obat yang bermitra dengan Universitas Oxford.

Sedangkan departemen kesehatan memperkirakan tersedia empat juta dosis yang siap disuntikkan ke warga Inggris pada akhir tahun, dan sebanyak 40 juta pada akhir Maret 2021. Sebelumnya AstraZeneca menyampaikan pada Kamis (26/11), bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut terhadap vaksinnya, namun pengujian tambahan tidak mungkin memengaruhi proses persetujuan.

Sebagai informasi, terdapat lebih dari 1,4 juta orang meninggal dunia sejak virus corona muncul di Tiongkok pada akhir 2019. Sementara itu, sampai sekarang telah ada tiga produsen obat-obatan, yakni Pfizer-BioNTech, Moderna, dan AstraZeneca- Oxford University, yang sedang mengajukan permohonan persetujuan vaksin mereka untuk digunakan sedini mungkin pada Desember tahun ini.

Catatan AstraZeneca menunjukkan kandidat vaksinnya memiliki tingkat efektivitas rata-rata 70%. Tapi angka itu dapat bertambah menjadi 90%, ketika pemberian setengah dosis di awal ditingkatkan menjadi dosis penuh. Hal ini serupa dengan yang dialami vaksin saingan yang dikembangkan oleh Pfizer-BioNTech dan Moderna.

Para ilmuwan Amerika Serikat (AS) telah mengatakan, tingkat efektivitas yang lebih tinggi terjadi selama pengujian pada orang berusia 55 tahun ke bawah. Hal itu ditemukan secara tidak sengaja selama pelaksanaan uji klinis.

“Tampaknya sekarang kami telah menemukan tingkat kemanjuran yang lebih baik. Kami harus memvalidasi ini, jadi kami perlu melakukan studi tambahan,” kata CEO AstraZeneca Pascal Soriot kepada Bloomberg.

Pemerintah Inggris juga telah secara resmi meminta MHRA untuk menilai kesesuaian vaksin yang dikembangkan Pfizer-BioNTech.

Keraguan AS

Menanggapi keragu-raguan dari otoritas AS terkait virus AstraZeneca, Menteri Perumahan Inggris Robert Jenrick pun turut berkomentar. Dia mengatakan, vaksin ini telah terbukti memiliki efektivitas rata-rata 70% dalam mencegah virus.

“Saya rasa tidak ada alasan untuk terlalu khawatir. Kami sekarang telah menulis kepada badan yang secara independen akan menilai kebenaran dan keamanan vaksin,” ujarnya kepada Sky News pada Jumat pagi, seperti dikutip CNBC.

Penasihat sains Pemerintah Inggris, Patrick Vallance, menambahkan fokusnya harus pada fakta bahwa vaksin ini benar-benar berfungsi saat ditanya tentang keraguan terkait uji coba.

“Hasil utamanya adalah vaksin itu berhasil dan itu sangat menarik,” pungkas Vallance saat konferensi pers, Kamis.

Kepala Penasihat Medis Chris Whitty pun mengaungkan komentarnya dalam konferensi yang sama, bahwa akan selalu muncul perdebatan ilmiah tentang hampir segala hal.

“Hal utama dari sudut pandang kami adalah menyerahkan ini ke tangan regulator. Mereka akan membuat penilaian dengan banyak data yang saat ini tidak ada di domain publik tentang kemanjuran dan keamanan,” tambah Whitty.

Sebelumnya, Kepala Operation Warp Speed AS Moncef Slaoui, dan lainnya mengungkapkan kekhawatiran atas kelompok usia yang diuji. Dia mengatakan tingkat efektivitas 90% hanya diperoleh dari kelompok berisiko terendah, di mana terdapat 2.741 orang di bawah usia 55 tahun.

John LaMattina, mantan presiden R&D Pfizer Global, pada Selasa (24/11) mengaku sulit percaya jika Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (Food and Drug Administration/FDA) mengeluarkan Otorisasi Penggunaan Darurat (Emergency Use Authorization/EUA) terhadap vaksin yang dosis optimalnya hanya diberikan kepada 2.300 orang.

Namun Soriot memastikan kepada Bloomberg, bahwa perusahaannya akan menjalankan uji coba global tambahan untuk mengevaluasi kemanjuran vaksin Covid-19.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN