Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Calon presiden (Capres) petahana Amerika Serikat (AS) Donald Trump ( kiri) dan capres Joe Biden (kanan) dalam kampanye pemilihan presiden (pilpres). ( Foto: JIM WATSON, SAUL LOEB / AFP )

Calon presiden (Capres) petahana Amerika Serikat (AS) Donald Trump ( kiri) dan capres Joe Biden (kanan) dalam kampanye pemilihan presiden (pilpres). ( Foto: JIM WATSON, SAUL LOEB / AFP )

Pandangan Para Pengamat dan Pakar Politik

RRT dan Rusia Ingin Trump Tetap Presiden AS

Rabu, 21 Oktober 2020 | 06:51 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

BEIJING, investor.id – Kalangan pengamat dan pakar politik menunjukkan bahwa dibalik segala kebijakan dan sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap negaranya, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Rusia kemungkinan menginginkan dia tetap berkuasa di Gedung Putih.

Pemilihan presiden (pilpres) AS akan digelar 3 November 2020. Tepat dua pekan lagi menuju hari pemilihan tersebut, Trump dan penantangnya, mantan wakil presiden Joe Biden dari Partai Demokrat, terus menggencarkan kampanye. Debat terakhir di antara keduanya akan digelar pada Kamis (22/10) waktu setempat.

Tiongkok dibuat frustrasi dan marah selama masa kepresidenan Trump yang pertama. Tapi mungkin akan menyambut baik jika dia terpilih kembali. Ini dikarenakan dalam bayangan Negeri Tirai Bambu, AS melemah sebagai rival adidaya.

Hubungan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini dingin sejak hubungan diplomatiknya terbina empat puluh tahun lalu. Tiongkok mengingatkan tidak ingin terseret ke dalam Perang Dingin baru dengan AS.

Di bawah panji "America First", Trump memotret Tiongkok sebagai ancaman terbesar bagi AS dan demokrasi global. Ia meluncurkan perang dagang yang merugikan Tiongkok miliaran dolar AS, juga menargetkan perusahaan-perusahaan teknologi Tiongkok. Serta menyalahkan Tiongkok atas pandemi virus corona Covid-19.

Tapi, bila Trump menang lagi pada pilpres 3 November 2020 akan membawa keuntungan-keuntungan bagi Tiongkok. Karena Presiden Tiongkok Xi Jinping ingin menegaskan kemunculan negaranya sebagai adidaya global.

“Kepemimpinan Tiongkok dapat memberikan kesempatan untuk meningkatkan posisi globalnya sebagai jawara bagi globalisasi, multilateralisme, dan kerja sama internasional,” ujar Zhu Zhiqun, profesor politik dan hubungan internasional Universitas Bucknell, AS, kepada AFP, Selasa (20/10).

Trump sudah menarik AS dari perjanjian perdagangan bebas Asia Pasifik dan perjanjian iklim global Paris. Ia menerapkan tarif miliaran dolar AS atas barang Tiongkok. Juga menarik AS dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di masa-masa puncak pandemi Covid-19.

Pada saat yang sama, Xi maju ke depan. Ia mempresentasikan negaranya sebagai jawara perdagangan bebas dan pemimpin dalam perang melawan perubahan iklim. Juga berjanji untuk berbagi vaksin Covid-19 nantinya dengan negara-negara miskin.

“Masa jabatan kedua Trump dapat memberikan lebih banyak waktu kepada Tiongkok untuk muncul sebagai kekuatan besar di kancah global,” kata Zhu.

Philippe Le Corre, pakar Tiongkok dari Harvard Kennedy School di AS sepakat bahwa perpanjangan kebijakan-kebijakan" America First"di tangan Trump akan menguntungkan dalam jangka panjang bagi Tiongkok.

“(Itu) akan memutus Washington dari sekutu-sekutu tradisionalnya, sambil memberi ruang kepada Tiongkok untuk bermanuver,” kata dia.

Walau dari sisi ekonomi dan politik, Trump banyak menimbulkan luka bagi Tiongkok, tapi Negeri Tirai Bambu merasa tidak akan mendapatkan banyak kelegaan apa pun area-area yang ada di dua bidang itu jika Trump kalah dari Biden.

Di sisi lain, Tiongkok khawatir Biden akan menancapkan lagi kepemimpinan AS dalam masalah HAM. Yang kemudian akan menekan Tiongkok dalam isu Uighur, Tibet, serta kebebasan di Hong Kong. “Biden kemungkinan lebih tegas dibandingkan Trump dalam isu-isu HAM di Xinjiang dan Tibet,” kata Zhu.

Di sektor teknologi dan perdagangan juga belum jelas berapa luas ruang manuver yang akan dimainkan oleh Biden jika ia berkuasa di Gedung Putih.

“Biden akan mewarisi tarif-tarif dan saya ragu ia akan mencabut seluruhnya. Tiongkok kemungkinan akan harus menyerah terhadap tuntutan-tuntutan AS yang lain jika ingin tarif-tarif itu dicabut,” ujar Bonnie Glaser, direktur China Power Project di Center for Strategic and International Studies.

Ilustrasi Ketegangan Amerika Serikat-Tiongkok. ( Foto: Colourbox )
Ilustrasi Ketegangan Amerika Serikat-Tiongkok. ( Foto: Colourbox )

Rusia Juga

Sementara itu Rusia, walau menjadi sasaran sanksi-sanksi berat dan kritikan tajam, tapi Negeri Beruang Merah ini tidak menjadi prioritas teratas kebijakan luar negeri Trump selama masa jabatan pertama. Selain itu, hubungan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terbilang baik.

Hal-hal tersebut dapat berubah jika Biden yang memenangi pilpres 3 November. Dan sudah pasti akan berimplikasi kepada hubungan AS-Rusia.

Setidaknya, kalangan analis memperkirakan kemenangan Biden akan meningkatkan ketegangan antara AS dan Rusia. Yang kemungkinan akan berujung pada sanksi-sanksi baru bagi Rusia.

Rusia sudah terkena sanksi-sanksi internasional. Dari masalah aneksasi Krimea dari Ukraina pada 2014, campur tangan dalam pilpres AS 2016, dan tuduhan keterlibatan Rusia dalam serangan gas saraf di Inggris pada 2018.

“Kemenangan Biden akan meningkatkan hubungan transatlantik antara AS dan Eropa dan akan memperbarui komitmen AS terhadap NATO. Yang mana ini akan disambut baik oleh Eropa,” ujar Andrius Tursa, penasihat Teneo Intelligence untuk Eropa Timur dan Tengah, seperti dilansir CNBC.

Hal tersebut bakal sangat tidak menguntungkan bagi Rusia. Mengingat sejarah terbaru mengenai saling tidak percaya dan hubungan buruk antara Kremlin dan AS di bawah kepemimpinan Demokrat.

“Secara umum, potensi kepresidenan Biden akan negatif bagi Moskow dan kemungkinan semakin memperburuk hubungan bilateral, baik secara retorika maupun substansi. Kandidat Partai Demokrat itu sudah lama bersikap keras terhadap pemerintahan Presiden Vladimir Putin,” tutur Tursa. 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN