Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bendera Rusia. Foto: tokopedia.com

Bendera Rusia. Foto: tokopedia.com

Rusia Hadapi Dilema Kredit Murah

Senin, 19 Agustus 2019 | 15:13 WIB

MOSKOW, investor.id – Di tengah stagnasi pertumbuhan ekonomi, Rusia sekarang dihadapkan dilema kredit murah. Di satu sisi, dapat membantu masyarakat yang daya belinya turun dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, pertumbuhan kredit murah dikhawatirkan memicu resesi ekonomi lagi.

Lewat mesin-mesin baru di pusat-pusat perbelanjaan, warga Rusia tinggal memasukkan paspor. Lalu dalam hitungan menit sudah menerima utang, walau sedikit nilainya.

Namun bunga utang murah ini mencapai 365% per tahun. Nilai bunga yang sama dengan jumlah hari dalam setahun itu sudah mencemaskan otoritas terkait di Rusia.

Dengan kredit murah, rakyat Rusia tidak henti-hentinya berutang untuk membeli barang-barang. Atau sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Alhasil, pertumbuhan kredit melonjak dalam 18 bulan terakhir. Menteri Perekonomian Maxim Oreshkin khawatir hal tersebut dapat berkontribusi pada resesi berikutnya.

Sementara pembatasan kredit juga menimbulkan dilema. Karena akan menghambat akses terhadap pendanaan murah, yang terkadang vital untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Selain itu, pembatasan kredit juga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, yang sudah stagnan.

Perekonomian Rusia merosot sejak jatuhnya harga minyak mentah pada 2014 dan sanksi-sanksi Baret terkait Ukraina. Hingga sekarang Rusia belum pulih dari kejatuhan ekonomi.

“Pengetatan persyaratan kredit dapat langsung merusak pertumbuhan. Tapi terus tumbuhnya pinjaman ritel saat ini menjadi faktor pendukung utama,” ujar Natalia Orlova, kepala ekonom Alfa Bank, kepada AFP.

Tapi Oreshkin mengatakan, situasinya dapat meledak pada 2021. Dalam wawancara dengan radio Ekho Moskvy, ia mengatakan pemerintah sedang menyiapkan langkah-langkah untuk membantu warga yang terjerat utang.

Menurut dia, rasio kredit konsumsi terhadap utang rumah tangga naik 25% tahun lalu. Sekarang nilainya mencapai 1,8 triliun rubel atau setara US$ 27,5 miliar.

Sepertiga warga yang sudah terjerat utang mengaku, 60% penghasilan bulanan habis untuk membayar cicilan utang. Alhasil, banyak yang harus berutang lebih banyak untuk mencicil utang sebelumnya.

Orlova mengatakan, negara-negara lain di kawasan, seperti di Eropa Timur, memiliki tingkat utang konsumsi lebih tinggi terhadap PDB nasionalnya.

“Tapi utang orang Rusia tidak merata. Kebanyakan dipegang oleh warga bepenghasilan menengah ke bawah, yang sulit untuk melunasi utang,” kata Orlova.

Setelah memulih pada 2017 dan 2018, pertumbuhan ekonomi Rusia melambat pada awal tahun ini. Pertumbuhan pada semester pertama hanya 0,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan Presiden Vladimir Putih menargetkan tingkat pertumbuhan ekonomi 4,0%. (afp/sn)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA