Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pejalan kaki yang mengenakan masker pelindung berfoto di depan patung yang dikenal sebagai Charging Bull di dekat bursa Wall Street, New York, AS Foto: Angela Weiss / AFP

Pejalan kaki yang mengenakan masker pelindung berfoto di depan patung yang dikenal sebagai Charging Bull di dekat bursa Wall Street, New York, AS Foto: Angela Weiss / AFP

Saham Dinilai Terlalu Murah, Wall Street Naik 3%

Listyorini, Selasa, 31 Maret 2020 | 07:11 WIB

NEW YORK, Investor.id – Bursa saham di Wall Street, Senin (Selasa pagi), rata-rata ditutup naik 3% karena investor menilai banyak saham harganya sudah terlalu murah. Saham-saham sektor kesehatan memimpin penguatan indeks.

Indeks sektor kesehatan S&P .SPXHC, melonjak 4,67%, sebagian karena kenaikan harga saham Johnson & Johnson (JNJ.N) dan Laboratorium Abbot. JNJ masing-masing melonjak 8,00% dan 6,41%, menyusul rencana Pemerintah AS untuk membantu pendanaan guna meningkatkan kapasitas produksi untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19), demikian dikutip dari Reuters.com.

Indeks Dow Jones Industrial Average Naik 3,19% ke level 22.327.48, S&P 500 naik 3,35% menjadi 2.626,65, dan Nasdaq menguat 3,62% menjadi 7.774,15.

“Investor banyak mengoleksi saham-saham kesehatan yang dinilai mempunyai prospek bagus di tengah virus corona,” kata Phil Blancato, CEO Ladenburg Thalmann Asset Management di New York. Saham Abbott Laboratories (ABT.N) melonjak 6,41% setelah mendapatkan persetujuan AS untuk melakukan tes diagnostik Covid-19.

Selain saham sektor kesehatan, saham-saham sektor teknologi juga menjadi buruan investor. Saham SPLRCT naik lebih dari 4%, sementara saham Microsoft (MSFT.O) melonjak lebih dari 7%, yang menjadi pendorongan terbesar kenaikan S&P 500.

Pekan lalu, Wall Street juga mengalami penguatan tiga hari berturut-turut (rally) menyusul disetujuinya stimulus fiskal pemerintah Trump senilai US$ 2,2 triliun oleh parlemen. Penguatan Wall Street juga didorong oleh langkah Bank Sentral AS (The Fed) yang memangkas suku bunga acuan hingga nyaris nol persen serta kebijakan Quantitative Easing (QE) tanpa batas.

Langkah fiskal dan moneter ini menjadi pendorong bagi S&P mengalami kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari satu dekade. Demikian juga Dow, mencatatkan kenaikan terbaik sejak 1938, bahkan setelah masing-masing turun lebih dari 3% untuk mengakhiri minggu perdagangan pada pekan lalu karena koreksi teknikal.

Meskipun demikian, tiga indeks utama Wall Street tetap turun lebih dari 20% jika dihitung dari posisi tertinggi Februari 2020. Investor sekarang mencoba menilai kerusakan ekonomi dan mengidentifikasi perusahaan mana yang akan kokoh ketika ekonomi mulai berakselerasi.

"Anda mencari cara untuk masuk kembali ke pasar dengan saham yang akan memberi Anda kesempatan untuk berpartisipasi," kata Phil Blancato, CEO Ladenburg Thalmann Asset Management di New York.

Sumber : REUTERS

BAGIKAN