Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pabrik pengecoran chip terkemuka milik China Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC) di Shanghai, Tiongkok. ( Foto: eenewseurope.com )

Pabrik pengecoran chip terkemuka milik China Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC) di Shanghai, Tiongkok. ( Foto: eenewseurope.com )

Saham SMIC Terpukul Pembatasan Ekspor oleh AS

Selasa, 29 September 2020 | 07:27 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

HONG KONG, investor.id - Saham produsen chip terbesar Tiongkok jatuh pada Senin (28/9) di tengah laporan Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah memberlakukan kontrol ekspor atas perusahaan tersebut. Hal ini menjadi laporan terbaru dalam pertempuran kedua negara untuk dominasi teknologi.

Sebagai pukulan baru bagi ambisi teknologi canggih Tiongkok, Departemen Perdagangan AS dilaporkan telah memerintahkan perusahaan-perusahaan untuk meminta izin sebelum menjual peralatan ke Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC).

Peralatan yang dijual ke perusahaan Tiongkok dinilai menimbulkan risiko yang tidak dapat diterima, dengan mengalihkan ke penggunaan akhir militer. Pernyataan ini disampaikan dalam surat yang dikirim ke perusahaan-perusahaan besar chip komputer AS. Surat tersebut dilihat oleh The Wall Street Journal dan Financial Times.

Berita tentang surat tersebut, yang pertama kali dilaporkan Sabtu (26/9), membuat saham SMIC anjlok di Shanghai dan Hong Kong pada perdagangan Senin. Masing-masing saham ditutup turun 7% dan 3,9%.

Saat menjawab tentang hal tersebut pada konferensi pers harian Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin mengatakan, Pemerintah Tiongkok menentang AS yang menyalahgunakan kontrol ekspor dan tindakan pembatasan lainnya untuk menekan perusahaan Tiongkok secara tidak wajar.

Teknologi canggih telah menjadi salah satu dari banyak medan pertempuran yang telah dibuka dalam beberapa tahun terakhir, ketika hubungan antara Pemerintah Tiongkok dan AS anjlok ke level terendah sejak hubungan diplomatik dimulai kembali pada 1979.

Adapun SMIC adalah produsen kontrak chipset terbesar di Tiongkok dan pilar utama dari rencana kemandirian semikonduktor yang ingin dicapai pemerintah Tiongkok.

Kalangan analis mengatakan ketergantungan Tiongkok pada chip asing, termasuk buatan AS, menghalangi tujuan nasional itu.

Didukung oleh beberapa entitas milik negara, SMIC telah membuat langkah-langkah dalam meningkatkan kemampuan chip buatan Tiongkok tetap sangat bergantung pada peralatan dan perangkat lunak yang diimpor.

Berdasarkan aturan baru yang diumumkan oleh Departemen Perdagangan, perusahaan-perusahaan AS yang ingin menjual peralatan ke SMIC harus mengajukan izin.

"Pembatasan, setelah diterapkan, akan sangat merusak kemampuan manufaktur SMIC yang ada dan yang akan datang, serta kepercayaan pelanggan. Tanpa pasokan dan layanan yang stabil dari AS, hasil dan kualitas kapasitas SMIC akan menurun, pada beberapa bulan awal untuk cabang yang lebih maju," ujar para analis Bernstein yang dipimpin oleh Mark Li, seperti dikutip AFP.

Ketegangan Teknologi

SMIC menyatakan pada Senin, pihaknya belum menerima pemberitahuan tentang pembatasan baru dari Departemen Perdagangan.

"Perusahaan tidak memiliki hubungan dengan militer Tiongkok dan tidak memproduksi untuk tujuan pengguna atau pengguna akhir militer apa pun," katanya dalam sebuah pernyataan.

Pembatasan ekspor untuk SMIC muncul setelah kampanye serupa Pemerintah AS untuk membatasi raksasa telekomunikasi Tiongkok Huawei. Perusahaan tersebut dikhawatirkan oleh pemerintah AS dapat memungkinkan Tiongkok memanfaatkan jaringan telekomunikasi global.

Departemen Perdagangan AS pada Mei 2020 mengumumkan rencana untuk memutus akses Huawei ke pasokan semikonduktor global. Menurut perusahaan, langkah ini akan mengancam kelangsungan bisnisnya.

Langkah melawan SMIC tidak separah menempatkan Huawei dalam apa yang disebut daftar entitas, secara de facto masuk daftar hitam, tetapi mungkin akan semakin membuat marah pemerintah Tiongkok.

Presiden AS Donald Trump menjadi semakin bersikap hawkish terhadap Pemerintah Tiongkok saat dia berjuang untuk terpilih kembali pada pilpres 3 November 2020. Pemerintahannya juga telah mengumumkan rencana untuk melarang aplikasi media sosial Tiongkok TikTok dan WeChat secara nasional untuk alasan keamanan. 

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN