Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin. ( Foto: PAVEL GOLOVKIN, ERIC BARADAT / AFP / POOL )

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin. ( Foto: PAVEL GOLOVKIN, ERIC BARADAT / AFP / POOL )

Sanksi Baru Mengganggu Rencana Pertemuan Putin-Biden

Jumat, 16 April 2021 | 07:06 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

MOSKOW, investor.id – Kremlin mengatakan pada Kamis (15/4) bahwa sanksi-sanksi baru dari Amerika Serikat (AS) terhadap Rusia, terkait dugaan campur tangan dalam pemilu dan peretasan, akan mengganggu rencana pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Joe Biden.

Menurut laporan, Pemerintah AS menjatuhkan sanksi baru tepat setelah Biden melakukan percakapan via telepon dengan Putin pada Selasa (13/4). Dalam perbincangan ini, Biden mengundangnya untuk mengadakan pertemuan puncak di tempat yang netral, setelah meningkatnya ketegangan antara Barat dan Rusia dalam beberapa pekan terakhir akibat konflik yang pecah di Ukraina.

Media AS melaporkan, bahwa AS pada Kamis waktu setempat akan mengumumkan sanksi-sanksi yang memengaruhi lebih dari 30 entitas Rusia, serta mengusir lebih dari 10 diplomat Rusia dari AS dan memperluas larangan terhadap perbankan AS yang memperdagangkan utang Pemerintah Rusia.

“Apa yang saat ini sedang dibahas – kemungkinan soal sanksi – sama sekali tidak akan membantu pertemuan semacam itu. Itu adalah tindakan tidak ambigu,” ujar Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov kepada wartawan, merujuk pada pertemuan itu, yang dikutip AFP.

Namun Peskov menambahkan, bahwa tergantung pada Putin dan Biden untuk memutuskan apakah pertemuan masih akan dilanjutkan. Sehari sebelumnya, Rusia sempat melontarkan pujian soal rencana pertemuan puncak, yang dianggap sebagai kemenangan bagi Putin. Para pejabatnya mengatakan, bahwa ini adalah pertanda AS telah bergeming untuk kali pertama mengenai konflik di Ukraina.

Penumpukan pasukan Rusia di perbatasan dengan Ukraina dalam beberapa pekan terakhir telah memicu kekhawatiran di Barat dan menuai peringatan dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Menurut laporan, pasukan pemerintah telah memerangi separatis pro-Rusia sejak 2014.

Dalam seruan mereka pada Selasa, baik Biden dan Putin menyampaikan bakal melanjutkan dialog. Hubungan kedua negara mengalami kemerosotan ketika presiden AS memicu keributan di Moskow pada bulan lalu dengan menyebut mitranya dari Negeri Beruang Mera sebagai seorang pembunuh.

Kremlin pun memanggil Duta Besar AS untuk Rusia, John Sullivan pada Rabu (13/4). Sullivan diminta mengatakan kepada AS agar menahan diri untuk tidak memberikan sanksi baru terhadap Rusia jika ingin memperbaiki hubungan. Demikian disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia kepada AFP.

Berdasarkan sanksi baru tersebut, Pemerintah AS melarang lembaga-lembaga finansial AS membeli utang dalam bentuk mata uang nasional Rusia, Rubel untuk pertama kalinya. Hal ini menyusul langkah pertama yang diadopsi pada 2019, dengan menargetkan utang dalam mata uang asing.

Para pengamat mengatakan, langkah itu adalah hukuman yang jauh lebih tegas dari biasanya. Pasalnya, sanksi-sanksi AS biasanya menargetkan individu yang diyakini Negeri Paman Sam memiliki kedekatan dengan Kremlin.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN