Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Warga negara Myanmar melarikan diri dari kota Hlaing Tharyar di Yangon, pada 16 Maret 2021, ketika pasukan keamanan melanjutkan tindakan keras untuk menumpas aksi protes terhadap kudeta militer di daerah itu. ( Foto: STR / AFP )

Warga negara Myanmar melarikan diri dari kota Hlaing Tharyar di Yangon, pada 16 Maret 2021, ketika pasukan keamanan melanjutkan tindakan keras untuk menumpas aksi protes terhadap kudeta militer di daerah itu. ( Foto: STR / AFP )

PBB:

Separuh Rakyat Myanmar Jatuh Miskin karena Kudeta dan Pandemi

Senin, 3 Mei 2021 | 06:48 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

YANGON, investor.id – Separuh dari populasi Myanmar bisa hidup dalam kemiskinan tahun depan, karena didorong oleh kombinasi pandemi dan krisis politik yang dipicu oleh kudeta militer. Hal ini disampaikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (30/4).

Peringatan mengerikan itu muncul ketika pertempuran baru antara militer Myanmar dan pemberontak etnis bersenjata mengirim lebih banyak lagi pengungsi, melarikan diri melintasi hutan perbatasan dengan Thailand.

Myanmar, yang sudah terpukul oleh wabah virus corona, dilanda kekacauan ketika militer merebut kekuasaan pada 1 Februari 2021, menggulingkan pemerintahan sipil Aung San Suu Kyi.

Kudeta tersebut memicu gerakan protes besar-besaran yang menyerukan kembalinya demokrasi. Aparat keamanan telah berusaha untuk memadamkan dengan tindakan keras yang brutal.

Lebih dari 750 warga sipil telah tewas, menurut kelompok pemantau lokal. Sementara anti-gerakan pembangkangan sipil yang meluas melawan junta telah mencekik sebagian besar perekonomian.

Program Pembangunan PBB (UNDP) menyebutkan, pada awal 2022 sebanyak 25 juta orang atau hampir separuh penduduk, mungkin hidup di bawah garis kemiskinan.

Administrator UNDP Achim Steiner mengatakan krisis tersebut dapat membalikkan kemajuan yang dibuat sejak 2005, yang membuat Myanmar mengurangi separuh jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan.

"Tanpa lembaga demokrasi yang berfungsi, Myanmar menghadapi kemunduran yang tragis dan dapat dihindari menuju kemiskinan tidak terlihat dalam satu generasi," ujar Steiner dalam sebuah pernyataan.

Lari dari Serangan Udara

Tindakan keras junta terhadap protes masyarakat telah memicu kemarahan dari beberapa pasukan etnis Myanmar. Selama beberapa dekade terakhir, banyak di antaranya telah berperang dengan militer di wilayah perbatasan utara dan timur negara itu.

Sejumlah pihak telah mengecam militer dan mendukung gerakan protes, menawarkan perlindungan kepada aktivis yang melarikan diri di wilayah yang mereka kuasai.

Bentrokan antara militer dan Serikat Nasional Karen (KNU), salah satu kelompok pemberontak terkemuka, telah meningkat sejak kudeta.

KNU merebut dan menghancurkan pos-pos militer dan junta membalas dengan serangan udara berulang kali di jantung negara bagian Karen milik pemberontak.

Para pejabat Thailand dan KNU mengatakan, ada serangan udara terbaru dan pertempuran pada Jumat.

Kekerasan telah menimbulkan kekhawatiran di antara warga sipil di daerah itu, membuat banyak orang melarikan diri melintasi perbatasan sungai mencari keamanan di Thailand.

Pihak berwenang Thailand mengatakan, total 2.267 warga Myanmar telah menyeberang ke Provinsi Mae Hong Son kerajaan tersebut untuk melarikan diri dari pertempuran. Pengungsi dikatakan telah dibawa ke tempat penampungan khusus.

Kepala urusan luar negeri KNU Padoh Saw Taw Nee mengatakan kepada AFP, lebih dari 100 orang telah menyeberang ke Thailand pada Jumat.

"Mereka hanya punya dua pilihan, lari ke hutan atau menyeberang untuk bersembunyi di Thailand," kata dia.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN