Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. ( Foto: Aris Oikonomou / AFP / POOL )

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. ( Foto: Aris Oikonomou / AFP / POOL )

Sertifikat Vaksin Tak Lama Lagi Keluar di Eropa

Jumat, 30 April 2021 | 06:07 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BRUSSELS, investor.id - Parlemen Eropa pada Kamis (29/4) menyatakan, pihaknya menyetujui posisinya tentang bagaimana sertifikat vaksin Covid-19 dapat diberlakukan. Hal ini mengindikasikan bahwa Uni Eropa (UE) tidak lama lagi akan meluncurkan dokumen seperti itu, untuk membuka perjalanan di antara negara-negara dalam blok tersebut.

Para pemimpin Eropa bermaksud menghendaki sertifikat yang akan menunjukkan status vaksinasi, hasil tes Covid-19, dan atau bukti sebagai penyintas dari penyakit itu. Sertifikat vaksin ini akan berlaku pada Juni, bertepatan dengan masa liburan musim panas.

Saat ini masih berlangsung penyelesaian hal-hal teknis untuk memastikan sertifikat tersebut diakui di 27 negara anggota UE. Detail akhirnya harus dilakukan dan seluruh pemerintah, Komisi Eropa, serta Parlemen Eropa.

Perubahan pertama yang disuarakan oleh Parlemen Eropa atas usulan Komisi Eropa itu adalah untuk mengganti namanya. Alih-alih dinamakan sertifikat hijau digital, Parlemen Eropa ingin menyebutnya sebagai sertifikat Covid-19 Uni Eropa, agar tidak menjadikannya sebagai paspor vaksin.

Menurut Parlemen Eropa, dokumen itu tidak boleh berfungsi sebagai dokumen perjalanan dan tidak boleh menjadi prasyarat untuk melaksanakan hak untuk bebas bergerak. Dokumen juga hanya boleh digunakan selama 12 bulan.

Parlemen Eropa juga menekankan bahwa sertifikat tersebut tidak boleh menimbulkan diskriminasi. Parlemen juga menuntut agar tes Covid-19 untuk perjalanan harus gratis. Sementara Komisi Eropa telah menyatakan bahwa masalah ini harus diserahkan kepada negara-negara anggota.

Posisi Parlemen Eropa itu diumumkan Kamis setelah pemungutan suara pada Rabu (28/4) malam, dengan 540 anggota mendukung, 119 menentang, dan 31 abstain.

Perjalanan Aman

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyambut baik hasil tersebut, tetapi menepis usulan penggantian nama sertifikat.

"(Parlemen Eropa) mengadopsi posisinya terhadap Sertifikat Hijau Digital adalah langkah kunci menuju perjalanan bebas dan aman musim panas ini," unggahnya di media sosial Twitter.

Dia mendesak adanya kesimpulan cepat atas negosiasi tentang dokumen tersebut. "Kami akan memiliki (verifikasi virtual) gateway Uni Eropa aktif dan berlaku pada Juni, sambil mendukung peluncuran sistem nasional yang tepat waktu," tegasnya.

Rencananya adalah agar warga UE dan penduduk di blok tersebut dapat menggunakan sertifikat untuk menghindari karantina, tes, dan hambatan lain untuk perjalanan di dalam UE, yang muncul sejak awal pandemi.

Namun, negara-negara anggota ingin mempertahankan opsi tindakan-tindakan tersebut jika dianggap perlu. Dengan menunjuk masalah kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab mereka, bukan Komisi Eropa.

Nantinya, UE bermaksud untuk menerima sertifikat yang dikeluarkan oleh negara non-UE untuk perjalanan warganya.

Pembicaraan sudah mengarah ke arah itu dengan pemerintah Amerika Serikat (AS). Tetapi sejauh ini tidak ada pembicaraan dengan Inggris, mantan anggota UE.

Uji coba sertifikat akan dilakukan pada Mei 2021, sebelum inisiatif diluncurkan di semua negara UE.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN