Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chairman dan Chief Executive Officer (CEO) Pfizer Inc., Albert Bourla. ( Foto: businessroundtable.org )

Chairman dan Chief Executive Officer (CEO) Pfizer Inc., Albert Bourla. ( Foto: businessroundtable.org )

Setelah 12 Bulan, Kemungkinan Perlu Dosis Ketiga Vaksin Covid

Sabtu, 17 April 2021 | 06:57 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id – CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan dalam sebuah wawancara yang disiarkan Kamis (15/4) waktu setempat, masyarakat yang sudah divaksin Covid-19 dengan vaksin buatannya kemungkinan akan membutuhkan dosis ketiga dalam jangka waktu enam hingga 12.

Bourla mengatakan, kemungkinan perlu dilakukan vaksinasi Covid-19 setiap tahun. "Kami perlu melihat apa urutannya dan seberapa sering kami perlu melakukannya, itu masih harus dilihat," kata Bourla kepada CNBC dalam wawancara tertanggal 1 April 2021.

Skenario yang mungkin terjadi, tambah dia, kemungkinan akan ada kebutuhan untuk dosis ketiga, antara enam dan 12 bulan. “Lalu dari situ akan ada vaksinasi ulang tahunan. Tetapi itu semua perlu ada konfirmasi," ujarnya.

Bourla menambahkan bahwa varian-varian Covid-19 akan memainkan peran kunci bagi perlu tidaknya dosis tambahan maupun vaksinasi rutin ini. "Sangat penting untuk menekan kumpulan orang yang rentan terhadap virus," katanya.

Para peneliti saat ini belum mengetahui berapa lama vaksin memberikan perlindungan terhadap virus corona.Pfizer menerbitkan sebuah penelitian awal bulan ini mengatakan, suntikannya lebih dari 91% efektif melindungi dari virus corona dan lebih dari 95% efektif melawan kasus Covid-19 yang parah sampai enam bulan setelah dosis kedua.

Tetapi para peneliti mengatakan lebih banyak data diperlukan untuk menentukan apakah perlindungan bertahan setelah enam bulan.

David Kessler, kepala tim tanggapan Covid-19 Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memperingatkan komite kongres pada Kamis, warga Amerika akan menerima suntikan penguat untuk mempertahankan diri dari varian virus corona.

"Kita tidak segalanya tahu saat ini. Kita mempelajari ketahanan respon antibodi, Kelihatannya kuat, tetapi ada beberapa yang memudar dan tidak diragukan lagi variannya menantang. Saya pikir untuk tujuan perencanaan, tujuan perencanaan saja, saya pikir kita harus berharap bahwa kita mungkin harus meningkatkan (kekebalan),"," jelasnya kepada Sub-komite Krisis Virus Corona (CCS) DPR.

Bourla juga pada Kamis membela harga vaksin perusahaannya. Ia mengatakan pihaknya menyelamatkan nyawa dan tidak akan menjual ke negara miskin untuk mendapatkan keuntungan.

Kenaikan Harga

Menurut data yang dirilis beberapa bulan lalu oleh seorang anggota Pemerintah Belgia, suntikan virus corona Pfizer merupakan yang termahal untuk Uni Eropa (UE), disusul vaksin dari Moderna.

Perdana Menteri Bulgaria Boyko Borissov menjelaskan awal pekan ini, harga vaksin naik ketika penjualan sedang dinegosiasikan, menelan biaya sebanyak 19,50 euro, naik dari 12 euro.

Harganya sangat berbeda dengan vaksin yang diproduksi oleh pembuat obat Inggris-Swedia AstraZeneca, yang berjanji untuk tidak mendapat untung dari produknya selama pandemi dan menjualnya ke UE dengan harga kurang dari dua euro per unit.

Bourla tidak mengonfirmasi harga vaksin Pfizer, tetapi mengaku dijual dengan harga lebih tinggi kepada negara maju seperti yang ada di UE atau Amerika Serikat.

"Di negara berpenghasilan menengah, kami menjualnya dengan setengah harga. Di negara yang lebih miskin, termasuk di Afrika, kami menjualnya dengan harga ongkos," katanya.

Vaksin Pfizer, yang dikembangkan oleh perusahaan yang berbasis di AS dalam kemitraan dengan perusahaan Jerman BioNTech, saat ini memainkan peran utama dalam kampanye vaksinasi di Amerika dan Eropa.

Raksasa farmasi itu mengumumkan pada Februari, pihaknya sedang menguji dosis ketiga vaksinnya agar lebih baik memerangi varian yang muncul.

Pada Kamis Bourla mengatakan, perusahaan sedang mengerjakan formula baru yang memungkinkan vaksin disimpan selama empat hingga enam bulan pada suhu normal, bukan pada minus 70 derajat Celcius atau lebih rendah saat ini diperlukan.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN