Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres saat berpidato dalam Sidang Umum PBB ke-75 di markas PBB, di New York, Amerika Serikat (AS) pada 22 September 2020. ( Foto: ESKINDER DEBEBE / UNITED NATIONS / AFP )

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres saat berpidato dalam Sidang Umum PBB ke-75 di markas PBB, di New York, Amerika Serikat (AS) pada 22 September 2020. ( Foto: ESKINDER DEBEBE / UNITED NATIONS / AFP )

Sidang Umum yang Sepi Saat Dunia Sedang Krisis

Rabu, 23 September 2020 | 06:41 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

NEW YORK, investor.id - Sidang Umum (SU) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), acara besar tahunan dengan pidato para pemimpin dunia dengan diplomasi sepanjang waktu, dibuka pada Selasa (22/9) waktu setempat. Pertemuan puncak ini berlangsung sepi, karena dilakukan secara virtual dalam membahas krisis global yang ditimbulkan oleh pandemi virus corona Covid-19. Demikian dikutip oleh AFP.

Untuk kali ini, pusat kota Manhattan di New York City, New York, Amerika Serikat (AS) tidak akan penuh dengan hiruk pikuk iring-iringan mobil. Sepi spekulasi juga bahwa akan ada pertemuan-pertemuan terobosan.

Sebaliknya, para pemimpin diundang untuk mengirimkan pesan yang telah direkam sebelumnya. Pesan tersebut akan diputar di depan Majelis Umum, yang mana setiap delegasi dapat mengirim seorang diplomat dengan menggunakan masker.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, sebagai pemimpin negara tuan rumah, juga tidak akan hadir langsung ke Majelis Umum. Pidato di hadapan para diplomat tertinggi dinilai tidak akan menggambarkan strateginya untuk terpilih kembali pada pilpres 3 November 2020. 

SU PBB di tahun-tahun sebelumnya dapat menarik sekitar 10.000 orang dari seluruh dunia. Prospek tersebut tidak terpikirkan pada saat negara-negara memberlakukan persyaratan masuk yang ketat, untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang telah merenggut hampir 950.000 nyawa di seluruh dunia.

Dengan tidak adanya peluang untuk pertemuan langsung dan lobi-lobi, sejumlah diplomat yang berbasis di PBB menjadi bertanya-tanya seberapa banyak ekspektasi yang bisa dicapai.

PBB tetap akan menggelar pertemuan tematik yang juga berlangsung virtual. Yang selain akan membahas isu utama pandemi virus corona, juga akan mendiskusikan perubahan iklim, keanekaragaman hayati, serta pergolakan politik di Libya dan Lebanon.

Tetapi juga akan ada sedikit kesempatan untuk perbincangan di antara para pemimpin dalam pidato masing-masing. Guna menghindarkan masalah teknis, PBB telah meminta para pemimpin dunia untuk mengirimkan video mereka empat hari sebelumnya. Ini berarti, tidak akan ada spontanitas atau reaksi terhadap perkembangan di saat-saat terakhir.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat menyampaikan pidato virtual pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-75 yang diselenggarakan pada 22 September 2020 di New York, AS. ( Foto: ESKINDER DEBEBE / UNITED NATIONS / AFP )
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat menyampaikan pidato virtual pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-75 yang diselenggarakan pada 22 September 2020 di New York, AS. ( Foto: ESKINDER DEBEBE / UNITED NATIONS / AFP )

AS Mengesampingkan

Pekan sidang PBB dibuka Senin (21/9) dengan perayaan ulang tahun ke-75 badan global dalam bentuk pertemuan puncak virtual. Sekjen PBB Antonio Guterres meminta secara langsung untuk lebih banyak diplomasi multilateral.

Namun sebagai pertanda pandangannya tentang masalah tersebut, Trump tidak mau repot-repot mengirim komentar. Sebaliknya, pemerintah AS hanya diwakili oleh wakil utusan AS untuk PBB, yang mengatakan ini adalah waktu yang tepat untuk mengajukan pertanyaan tentang kekuatan dan kelemahan institusi tersebut.

Bahkan duta besar AS untuk PBB tidak hadir. Sebagai gantinya ia pergi ke Washington untuk sebuah pengumuman sanksi PBB terhadap Iran, yang diminta Trump untuk diterapkan oleh semua negara.

Pemerintah AS mengatakan pihaknya sedang memberlakukan embargo senjata PBB yang telah berakhir. Tetapi hampir tidak ada negara lain yang menilai AS memiliki wewenang untuk menjatuhkan sanksi PBB, dengan kekuatan Eropa malah berfokus pada penyelamatan kesepakatan nuklir dengan Iran yang dinegosiasikan di bawah kepemimpinan mantan presiden AS Barack Obama.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN