Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. ( Foto: AFP )

Gedung The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. ( Foto: AFP )

Sinyal Ekonomi Masih Beragam, The Fed akan Hati-hati

Senin, 20 September 2021 | 05:56 WIB
Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Sinyal ekonomi Amerika Serikat (AS) dinilai masih beragam sehingga The Federal Reserve (The Fed) akan berhati-hati dalam mengambil keputusan dalam pertemuan kebijakannya Selasa (21/9) dan Rabu (22/9) ini. The Fed diprediksi masih menimbang-nimbang apakah pemulihan ekonomi AS sudah cukup kuat sehingga bank sentral dapat mulai menarik langkah-langkah stimulus.

Pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pekan ini diperkirakan tanpa kejutan. Sama dengan rapat-rapat FOMC dalam beberapa bulan terakhir.

Kalangan analis memperkirakan The Fed tidak segera mulai mengurangi pembelian obligasi bulanannya. “Walaupun akan ada pembaruan tentang proyeksi ekonomi, tapi tidak akan ada perubahan besar dari estimasi sebelumnya,” ujar Joe Brusuelas, kepala ekonom RSM, seperti dikutip AFP.

Menurut dia, Gubernur The Fed Jerome Powell kemungkinan menyampaikan isyarat bahwa tapering akan tiba. “Kemungkinan diumumkan pada November dan dimulai pada Desember,” tambah Brusuelas.

The Fed tahun lalu memangkas suku bunga dan menggelontorkan program pembelian aset demi mencegah malapetaka ekonomi yang ditimbulkan oleh Covid-19.

Tujuannya adalah untuk menjadikan ekonomi terhadap berjalan dengan membuat orang-orang, perusahaan, maupun pemerintah dapat meminjam uang dengan biaya lebih murah.

The Fed memangkas suku bunga acuan menjadi nol pada Maret 2020 atau di awal pandemi. Untuk menyediakan likuiditas bagi perekonomian AS, The Fed juga kemudian membeli obligasi pemerintah sedikitnya US$ 80 miliar per bulan dan sekuritas berbasis hipotek atau MBS sedikitnya US$ 40 miliar.

Powell mengatakan The Fed dapat mulai mengurangi pembelian aset itu pada akhir tahun ini. Tapi kalangan analis memperkirakan para pejabat The Fed tidak akan bertindak terburu-buru.

“Saya pikir kereta tapering sudah meninggalkan stasiun pada pertemuan terakhir. Kami perkirakan bank sentral mulai mengurangi pembelian (obligasi) pada dua bulan terakhir tahun ini,” kata Roberto Perli, kepala riset global Cornerstone Macro.

Rapat kebijakan FOMC pekan ini ditandai dengan sinyal beragam menyangkut dua sasaran utama bank sentral. Yakni inflasi dan tingkat pengangguran.

Ekonomi AS menambah 235.000 lapangan kerja bulan lalu. Jauh di bawah ekspektasi. Tapi kenaikan penyerapan lapangan kerja sudah lebih baik dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

“The Fed tidak pernah terganggu hanya oleh satu laporan. Mereka melihat tren dan trennya masih sangat baik. Saya pikir mereka akan membaca data dan menyatakan bahwa ekonomi masih di jalur aman. Dan saya pikir data-data itu tidak akan mengubah pikiran mereka,” tambah Perli.

Mencermati Proyeksi

Pemulihan ekonomi menyebabkan laju inflasi di AS naik tajam di tahun ini. Tapi pada Agustus 2021, indeks harga konsumen tumbuh lebih kecil dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Para analis kemungkinan mencermati proyeksi-proyeksi ekonomi terbaru dari The Fed. Khususnya mengenai inflasi dan varian Delta Covid-19, yang sudah menimbulkan ketidakpastian di perekonomian dan memukul perekrutan pekerja serta operasional bisnis.

“Saya perkirakan tidak ada perubahan pernyataan dengan penurunan proyeksi karena pertumbuhan melambat, dan sedikit revisi naik terhadap proyeksi penyerapan lapangan kerja,” kata Brusuelas.

Jika perekonomian berbalik memburuk, ia memperkirakan The Fed langsung menunda pengumuman tapering dan pelaksanaannya hingga awal 2022.

“Dalam banyak kasus, evolusi data berpihak kepada pihak-pihak yang memilih suku bunga rendah dan kebijakan-kebijakan dana murah,” ujar dia.

The Fed sebelumnya menyatakan bahwa suku bunga acuan pada akhirnya akan dinaikkan. Tapi belum jelas kapan akan menilai bahwa penyerapan lapangan kerja sudah kembali, setelah sepanjang pandemi Covid-19 hilang lebih dari 20 juta posisi.

“Jika (The Fed) menginginkan 3,5 (persen tingkat pengangguran) ya sama saja baru akan mulai menaikkan suku bunga 230 tahun lagi. Tapi jika menginginkan angka 4,5 dan terus menurun, saya pikir akhir tahun adalah waku yang tepat,” ujar ekonom Joel Naroff.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN