Menu
Sign in
@ Contact
Search
Menteri Keuangan (Menkeu) Inggris Kwasi Kwarteng. ( Foto: JUSTIN TALLIS / AFP )

Menteri Keuangan (Menkeu) Inggris Kwasi Kwarteng. ( Foto: JUSTIN TALLIS / AFP )

S&P Global: Inggris Sudah Di Tengah Resesi

Kamis, 29 September 2022 | 12:46 WIB
Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

LONDON, investor.id – S&P Global Ratings menyebut Inggris sudah berada di tengah resesi yang bakal berlangsung setahun penuh. Sedangkan Eropa akan menghadapi musim dingin yang berat tahun ini sehingga risiko peringkat kreditnya naik.

Dalam laporannya Selasa (27/9), lembaga pemeringkat itu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi zona euro akan mandek di kuartal empat 2022 dan kuartal pertama 2023. Dengan tingkat pertumbuhan untuk sepanjang 2022 diperkirakan hanya 0,3%.

“Eropa menghadapi prospek ekonomi dan geopolitik yang berat serta suram karena risiko politik Rusia membesar setelah kalah tempur di Ukraina, dan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi telah memicu intervensi-intervensi untuk menyokong konsumen maupun bisnis, serta bank sentral agresif dalam menaikkan suku bunga,” kata S&P, seperti dilansir CNBC, Rabu (28/9).

Baca Juga: Bank of England Intervensi Pasar Obligasi

Sementara Inggris disebutkan sudah berada di tengah resesi moderat selama empat kuartal yang dimulai di kuartal dua. Seiring rumah tangganya dihadapkan pada laju inflasi 9,9% dan diperkirakan naik lagi pada musim dingin. Hal ini akan menekan belanja mereka dalam kuartal-kuartal mendatang.

“Dukungan fiskal yang dilakukan oleh pemerintah, terutama dengan membatasi tagihan energi akan memproteksi penuh anggaran rumah tangga terhadap ancaman inflasi lebih besar di musim dingin. Ditambah pasar tenaga kerjanya yang tangguh, menjadi alasan utama kami untuk memperkirakan kinerja ekonomi Inggris tidak lebih buruk lagi,” kata Paul Watters, kepala persyaratan kredit regional S&P.

Baca Juga: Gawat, Resesi Global Ancam Ekonomi RI

Tapi, Watters mengatakan bahwa tekanan inflasi tidak hanya terjadi pada harga energi di tingkat ritel. Kejatuhan nilai tukar pound akan membuat barang-barang impor semakin mahal dan tekanan harga domestik tetap tinggi. Sehingga inflasi inti diperkirakan masih di atas 6%.

S&P memperkirakan Bank of England (BoE) merespons dengan menaikkan suku bunga dari 2,25% saat ini menjadi 3,25% pada Februari 2023. Sehingga ekonomi akan melemah tapi langkah itu ditempuh untuk mengembalikan inflasi ke sasaran jangka menengah sebesar 2%.

S&P memperkirakan ekonomi Inggris tumbuh 3,3% di 2022 tapi kontraksi 0,4% pada 2023. (sumber lain/sn)

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com