Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen. ( Foto: JUSTIN TALLIS / POOL / AFP )

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen. ( Foto: JUSTIN TALLIS / POOL / AFP )

Suku Bunga Lebih Tinggi Bisa Jadi Baik untuk AS

Selasa, 8 Juni 2021 | 05:55 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Amerika Serikat (AS) Janet Yellen mengatakan bahwa Presiden Joe Biden harus mendorong gol-nya rencana belanja sebesar US$ 4 triliun. Kendati hal itu bakal memicu inflasi yang berlanjut hingga tahun depan dan suku bunga yang lebih tinggi. Menurut dia, suku bunga lebih tinggi bisa jadi bagus bagi perekonomian AS.

“Jika kita akhirnya harus menjalani suku bunga yang sedikit lebih tinggi, itu sebenarnya akan menjadi nilai tambah bagi sudut pandang masyarakat dan sudut pandang The Fed,” ujar Yellen dalam wawancara dengan Bloomberg News, Minggu (6/6) usai menghadiri pertemuan menkeu kelompok G-7 di London, Inggris.

Sebagai informasi perdebatan seputar inflasi itu telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Di antaranya memiliki pendapat seperti Yellen, bahwa kenaikan harga saat ini didorong oleh anomali sementara yang diciptakan oleh pandemi virus corona Covid-19 – mulai dari tersendatnya rantai pasokan dan pengeluaran yang melonjak saat kegiatan ekonomi dibuka kembali – dan kritikus, yang mengatakan triliunan bantuan pemerintah dapat memicu lonjakan biaya berkepanjangan.

Yellen menyampaikan, paket Biden akan menambahkan belanja hingga sekitar US$ 400 miliar per tahun. Dia mengatakan bahwa besaran belanja itu tidak cukup menyebabkan inflasi yang berlebihan.

“Setiap dorongan harga yang dihasilkan dari paket penyelamatan akan memudar tahun depan. Kami telah memerangi inflasi dan suku bunga yang terlalu rendah sekarang selama satu dekade,” kata dia.

Yellen menambahkan, pemerintah ingin agar bank sentral kembali ke lingkungan suku bunga normal. Jika itu membantu sedikit untuk meringankan banyak hal, tambah dia, maka bukan hal yang buruk melainkan hal yang baik.

Pembelian Aset

Menurut laporan, indeks utama harga konsumen (IHK) naik 4,2% dalam 12 bulan hingga April. Angka-angkanya untuk Mei akan dipublikasikan pada Kamis (10/6).

The Fed sendiri sudah berkomitmen hanya mulai mengurangi kecepatan bulanan US$ 120 miliar dari pembelian asetnya setelah ada kemajuan lebih lanjut yang substansial pada inflasi, dan lapangan pekerjaan.

Gubernur The Fed Jerome Powell telah berusaha meyakinkan investor, bahwa dirinya tidak mempertimbangkan untuk menarik kembali bantuan ekonomi dalam waktu dekat. Powell, dan rekan-rekannya terus memproyeksikan suku bunga utama mereka mendekati nol hingga 2023.

Menurut laporan Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) pada Jumat, pertumbuhan lapangan kerja AS mengalami pertumbuhan pada Mei, bersamaan dengan gaji pekerja. Selain itu, tingkat pengangguran turun menjadi 5,8%.

“Saya tidak akan menyerah pada paket-paket berikutnya. Mereka tidak dimaksudkan sebagai stimulus, mereka dimaksudkan sebagai investasi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi kita yang sudah berlangsung lama,” kata Yellen.

Menurut seorang pejabat Departemen Keuangan, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari G-7 melakukan percakapan telepon pada 28 Mei. Dalam perbincangan, kelompok itu menekan Yellen tentang pandangannya tentang inflasi.

Pada akhirnya, kelompok G-7 setuju dengan penilaiannya bahwa lonjakan harga sepanjang tahun kemungkinan akan bersifat sementara. Demikian menurut pejabat itu kepada wartawan.

Yellen mengatakan bahwa pembuat kebijakan moneter dapat menangani potensi kenaikan inflasi jika tetap. “Saya tahu dunia itu, mereka sangat bagus. Saya tidak percaya mereka akan mengacaukannya,” tuturnya.
 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN